Resonansi
Mengungkap Tanya
Bung Karno pernah bilang, kemerdekaan hanyalah jembatan emas menuju masyarakat sempurna, yang adil dan makmur.
Penulis: Ade Mayasanto | Editor: Fitriadi
Ade Mayasanto, S.Pd., M.M.
Editor in Chief
Bangka Pos/Pos Belitung
17 Agustus, sekira pukul 07.00 WIB, sederet perempuan berkebaya putih berdiri tegap di hadapan seorang pria. Pria ini tak sendiri. Ia ditemani pria lain yang berdiri di sampingnya. Berseragam kuning agak kecokelatan, lelaki itu rupanya tengah memimpin upacara HUT ke-80 Kemerdekaan RI.
Dari sudut lain, seorang perempuan berkaos putih dan bercelana training merah, memilih langkah lain. Ia mengayunkan kaki kanan dan kiri secara bergantian, menjauhi lokasi upacara.
Kepalanya berbalut kain kecil berwarna merah putih, dan sejurus kemudian bergabung dengan dua pria yang hanya menggunakan kaos lari tanpa lengan dan celana hitam pendek.
Jauh mata dari pandangan lain. Seorang anak perempuan cilik bersanggul konde, duduk di bangku belakang motor. Tampilannya mirip seorang pengantin yang buru-buru ke pelaminan. Dan tentu bukan pelaminan yang dituju gadis cilik ini. Bocah Perempuan itu berburu waktu demi bisa ikut perayaan kemerdekaan Indonesia.
Itulah potongan cerita pagi nan singkat di hari kemerdekaan. Gema heroik, pekikan merdeka dari podium, semarak bendera dan parade setiap tanggal 17 Agustus, menandakan ada harapan, semangat dan rasa lain yang terus tumbuh di diri masyarakat Indonesia.
Jadi, bukan sesuatu yang aneh, ya! Atau ada tabir gelap di balik senyum mereka. Toh, hal itu berjalan saban tahun dalam suasana suka, penuh riang dan tawa bersama, hingga terkadang lupa utang di rumah sudah merajalela.
Hingga akhirnya sebuah tanya kawan datang mengagetkan di pagi yang masih tertutup awan. Masuk melalui sebuah pesan pendek, berbentuk artikel pendek yang diberi judul Apakah Kemerdekaan menjelma menjadi kemakmuran? Masih ingatkah kita ketika Bung Karno menyebut kemerdekaan sebagai jembatan emas dalam pidatonya pada 1 Juni 1945?
Ah, apa pula mesti jembatan? Dalam kepala, tanya itu muncul tiba-tiba.
Sekedar catatan, gagasan Bung Karno perihal Kemerdekaan sebagai jembatan emas sempat pula dituangkan dalam risalahnya pada 1933, bertajuk Mencapai Indonesia Merdeka.
Bung Karno juga pernah bilang, kemerdekaan hanyalah jembatan emas menuju masyarakat sempurna, yang adil, yang makmur, yang tenteram dan segenap lainnya.
Namun ingat di seberang jembatan, disebutkan Bung Karno, kita akan memilih: satu jalan menuju dunia sama rata sama rasa, dan satu lagi menuju dunia sama ratap sama tangis.
Dalam pidato itu Bung Karno seolah ingin bicara bahwa dalam bahasa suka yang diucap, ternyata masih ada rasa sedih setelah kemerdekaan. Bisa saja, kemerdekaan menjadi jalan panjang, sepi dan licin menuju cita yang diinginkan bersama.
Dan rasa-rasanya kemudian, jalan panjang kemerdekaan tertuang dalam sederet catatan. Tengok saja catatan yang ada. Kita beberapa kali terpaksa memecahkan karang sendiri, menentukan arah sendiri, dan terkadang menabrak sendiri atas kesalahan kita sendiri. Bahkan, beberapa kali langkah yang diambil justru menjadi jalur permainan orang lain.
Lalu Bung Karno juga pernah mengangkat kisah itu dalam sebuah catatan revolusi Prancis di abad ke-18 lalu. Dimana, rakyat jelata, buruh dan petani bersama borjouis berjuang menggulingkan raja dan bangsawan, dalam paham liberte (kemerdekaan), egalite (persamaan) dan fraternite (persaudaraan).
Setelah revolusi berhasil dimenangkan, justru bukan rakyat jelata yang memegang kendali. Kaum borjuis memegang kendali, mengambil kuasa dan membangun sistem kapitalistik yang justru menindas rakyat kecil. Yang kemudian diibaratkan Bung Karno, rakyat jelata seperti pengupas nangka. Mereka ini yang terkena getahnya, tapi tak menikmati buahnya.
Ingatan itu lalu didaur ulang berkali-kali dalam catatan panjang. Terkadang, dalam orasi, tulisan panjang dan karya ilmiah kawan jelang akhir kuliah, serta cerita berbau fantasi di warung-warung kopi.
Ya, kira-kira begini ulasannya: Kemerdekaan bukan hanya soal bebas dari kolonialisme. Kemerdekaan seharusnya menjamin hak untuk menentukan nasib sendiri.
Kemerdekaan sepatutnya berbuah kemakmuran. Kemerdekaan tanpa kemakmuran adalah ilusi. Kemakmuran tanpa partisipasi adalah dominasi, dan partisipasi tanpa kemerdekaan adalah kebisingan tanpa arti.
Sekali lagi, itu hanya catatan biar tidak mudah kecele. Catatan agar tidak cepat semringah ketika variasi kecil atas nama kemerdekaan dan kemakmuran dimunculkan, dan diterangkan kepada setiap orang saban tahun.
Hingga akhirnya, kita akan paham atas sebuah panggilan. Panggilan demi menjawab sebuah estafet zaman yang tidak bisa dihentikan, atas nama kemerdekaan.
Ringkasan Berita:Upacara 17 Agustus selalu menghadirkan semangat dan pekik “Merdeka!”, namun pertanyaan penting tetap menggema: apakah kemerdekaan telah menjelma menjadi kemakmuran? Bung Karno menyebut kemerdekaan sebagai jembatan emas menuju keadilan dan kemakmuran. Namun sejarah panjang bangsa menunjukkan jalan itu tidak selalu lurus. Kemerdekaan tanpa kemakmuran hanyalah ilusi; kemakmuran tanpa partisipasi adalah dominasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Ade-Mayasanto.jpg)