Rabu, 22 April 2026

Berita Bangka Selatan

Harga Gabah Rp6.500 Jadi Penyelamat Panen IP 200 Petani Rias

Petani padi di Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, mulai memasuki masa panen parsial padi dengan Indeks Pertanaman (IP) 200.

Penulis: Cepi Marlianto | Editor: M Ismunadi
Bangkapos.com/Cepi Marlianto
Panen Padi - Seorang pengemudi combine harvester ketika melakukan panen padi di lahan persawahan milik warga di Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (21/8/2025). Saat ini sejumlah petani sudah mulai memasuki panen padi IP 200 secara parsial. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Petani padi di Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, mulai memasuki masa panen parsial padi dengan Indeks Pertanaman (IP) 200.

Panen parsial berarti hanya sebagian lahan yang dipanen terlebih dahulu, sementara bagian lain menunggu kesiapan.

Strategi ini dipandang lebih fleksibel sekaligus memudahkan pengolahan hasil panen secara bertahap.

Salah seorang petani, Badrin (45), mengatakan panen sudah dimulai sejak pekan lalu. Padi yang dipanen kali ini merupakan hasil tanam IP 200 atau sistem tanam dua kali dalam setahun di lahan yang sama.

“Saat ini sudah panen kedua kalinya, yakni IP 200,” ujarnya, Kamis (21/8/2025).

Namun, hasil panen IP 200 tahun ini mengalami penurunan dibandingkan panen IP 100 pada April 2025 lalu.

Ia menyebut faktor cuaca, serangan hama, penyakit tanaman, hingga pengelolaan air yang kurang optimal sebagai penyebabnya.

Baca juga: Petani Dusun Air Asam Semangat Saat Panen Padi, Gubernur Optimis Babel Bisa Swasembada Pangan

Pada IP 100, Badrin berhasil memperoleh 2,5 ton beras dari dua petak sawah.

Sementara panen IP 200 hanya menghasilkan 33 karung gabah kering panen (GKP) atau sekitar 1,5 ton.

“Kalau hasil IP 200 memang berkurang, karena cuaca dan serangan hama,” jelasnya.

Meski produksi turun, para petani masih bersyukur lantaran harga gabah tetap stabil.

Pemerintah melalui Perum Bulog menetapkan harga pembelian GKP Rp6.500 per kilogram.

Kebijakan ini sekaligus menutup ruang permainan harga yang kerap dilakukan tengkulak dengan alasan kualitas gabah rendah.

“Alhamdulillah, untungnya harga gabah masih stabil Rp6.500 per kilogram,” ungkap Badrin.

Usai panen, ia bersama petani lain langsung mempersiapkan lahan untuk ditanami padi IP 300.

Percepatan tanam ini dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan produksi sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.

“Setelah ini tanah langsung diolah lagi untuk IP 300,” pungkasnya. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved