Opini
Belanja Dulu, Bayar Nanti: Tren Paylater di Kalangan Mahasiswa
PayLater adalah layanan keuangan yang memungkinkan penggunanya berbelanja terlebih dahulu dan melunasi pembayaran secara bertahap
Penulis Selly Olivia
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Bangka Belitung
Cukup dengan beberapa ketukan jari di layar ponsel, seorang mahasiswa bisa membawa pulang sepatu baru, gadget terbaru, atau pakaian bermerek tanpa harus memiliki uang sepeser pun saat itu juga.
Inilah daya tarik layanan PayLater atau yang dikenal dengan istilah Buy Now Pay Later (BNPL), sebuah metode belanja “beli sekarang, bayar nanti” yang kini menjadi tren di kalangan mahasiswa Indonesia. Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, tersimpan risiko keuangan serius yang kerap tidak disadari.
PayLater adalah layanan keuangan yang memungkinkan penggunanya berbelanja terlebih dahulu dan melunasi pembayaran secara bertahap di kemudian hari.
Di Indonesia, layanan ini tersedia di berbagai platform belanja daring maupun aplikasi dompet digital yang sudah sangat familiar, seperti Shopee PayLater, GoPay Later, Akulaku, dan Kredivo.
Cara kerjanya terbilang sederhana: pengguna mengajukan limit kredit, disetujui dalam hitungan menit, lalu langsung dapat berbelanja. Cicilan dibayar setiap bulan dengan bunga yang bervariasi, tergantung platform yang digunakan.
Pertumbuhan penggunaan PayLater di Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Berdasarkan data resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai piutang pembiayaan PayLater oleh perusahaan pembiayaan terus melonjak setiap bulan sepanjang tahun 2024.
Pada Mei 2024, OJK mencatat nilai pembiayaan PayLater mencapai Rp6,81 triliun, tumbuh 33,64 persen secara tahunan. Angka itu kemudian meningkat menjadi Rp7,99 triliun pada Agustus 2024 atau naik 89,20 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Bahkan pada Oktober 2024, nilai piutang PayLater telah menembus Rp8,41 triliun atau tumbuh 63,89 persen secara tahunan.
Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, menegaskan bahwa potensi pasar layanan ini masih sangat besar.
“Pembiayaan BNPL di Indonesia memiliki potensi pasar yang cukup besar sejalan dengan perkembangan perekonomian berbasis digital,” ujarnya dalam keterangan resmi Rapat Dewan Komisioner OJK pada akhir 2024.
Lalu, siapa sebenarnya yang paling banyak menggunakan layanan ini? Jawabannya adalah anak muda. Laporan Perilaku Pengguna PayLater Indonesia 2024 yang dirilis Kredivo dan Katadata Insight Center (KIC) mengungkapkan bahwa 70,4 persen pengguna PayLater berusia antara 18 hingga 35 tahun, rentang usia yang sebagian besar masih berstatus mahasiswa atau baru memasuki dunia kerja. Survei ini dilakukan terhadap lebih dari 2 juta pengguna Kredivo di 34 provinsi di seluruh Indonesia.
Para peneliti menyebutkan bahwa mahasiswa sebagai kelompok generasi Z yang belum memiliki penghasilan tetap cenderung memandang PayLater sebagai solusi praktis untuk memenuhi kebutuhan konsumsi tanpa tekanan finansial secara langsung.
Kemudahan akses, tidak memerlukan syarat dokumen yang rumit, serta proses persetujuan yang cepat menjadi daya tarik utama layanan ini dibandingkan kartu kredit konvensional yang mensyaratkan penghasilan tetap dan proses verifikasi panjang.
Setidaknya ada tiga faktor utama yang mendorong mahasiswa menggunakan PayLater berdasarkan hasil penelitian yang diterbitkan di Indonesia.
Pertama, kemudahan akses dan proses instan. Registrasi hanya membutuhkan KTP, nomor telepon, dan alamat email, dengan persetujuan tersedia dalam hitungan menit.
| Refleksi Ekonomi Bangka Belitung 2026: Inflasi Stabil, Fondasi Masih Rapuh |
|
|---|
| Dialektika Hukum dan Keadilan dalam Praktik Penegakan Hukum |
|
|---|
| Dunia Anak Tidak Sesederhana yang Kita Bayangkan: Belajar dari Film Na Willa |
|
|---|
| Waspada Lonjakan Kasus Campak di Indonesia: Alarm Kesehatan di Tengah Rendahnya Cakupan Imunisasi |
|
|---|
| Mengapa Organisasi Global Harus Berhenti Bergantung pada Pendekatan Satu Ukuran untuk Semua |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Selly-Olivia-Mahasiswa-UBB.jpg)