Minggu, 7 Juni 2026

Dolar Menguat, Momentum Bangka Belitung Percepat Hilirisasi dan Diversifikasi Ekonomi

Harry Ardianto Arsani menilai penguatan dolar harus dibaca sebagai peluang strategis untuk memperkuat fondasi ekonomi daerah Bangka Belitung.

Tayang:
Editor: Fitriadi
Dokumentasi BPD HIPMI Babel
Ketua BPD HIPMI Babel Harry Ardianto Arsani, Sekretaris Umum BPD HIPMI Babel Widi Prasetyo Eros dan Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu (tengah). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah dinilai menjadi momentum sekaligus tantangan bagi perekonomian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Sebagai daerah yang selama ini bertumpu pada sektor ekspor timah, kenaikan dolar berpotensi meningkatkan nilai penerimaan ekspor. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga dapat memicu kenaikan biaya produksi dan harga berbagai barang yang masih bergantung pada impor.

Ketua Umum Badan Pengurus Daerah (BPD) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kepulauan Bangka Belitung, Harry Ardianto Arsani, menilai penguatan dolar harus dibaca sebagai peluang strategis untuk memperkuat fondasi ekonomi daerah, bukan sekadar keuntungan jangka pendek dari sektor ekspor.

Menurut Harry, Bangka Belitung memiliki sumber daya alam yang melimpah dan harus mampu diolah menjadi produk bernilai tambah agar manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Selama ini HIPMI Babel juga terus mendorong pengembangan sektor pertanian, perikanan, pertambangan, kesehatan, hingga pariwisata sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru daerah.

"Ketika dolar menguat, sektor ekspor memang memperoleh keuntungan dari sisi nilai transaksi. Namun kondisi ini harus menjadi pengingat bahwa Bangka Belitung tidak boleh hanya bergantung pada ekspor bahan mentah. Hilirisasi menjadi kunci agar nilai tambah ekonomi tetap berada di daerah dan mampu menciptakan lapangan kerja yang lebih besar," kata Harry Ardianto Arsani.

Harry menambahkan, pengusaha daerah harus mulai memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat investasi pada sektor-sektor produktif yang memiliki daya tahan tinggi terhadap gejolak ekonomi global.

Menurutnya, tantangan ekonomi saat ini memang kompleks, namun selalu terdapat peluang yang dapat dimanfaatkan melalui inovasi dan kolaborasi antara dunia usaha dan pemerintah daerah.

Sementara itu, Sekretaris Umum BPD HIPMI Kepulauan Bangka Belitung, Widi Prasetyo Eros, menilai penguatan dolar perlu diantisipasi secara hati-hati karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh eksportir, tetapi juga oleh pelaku usaha kecil dan menengah.

Menurut Widi, banyak sektor usaha di Bangka Belitung masih menggunakan bahan baku, peralatan, maupun suku cadang yang bergantung pada pasar luar negeri.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya operasional usaha apabila penguatan dolar berlangsung dalam jangka panjang.

"Dampak positif memang akan dirasakan oleh sektor yang berorientasi ekspor. Namun di sisi lain, dunia usaha juga harus menghadapi kenaikan biaya produksi akibat mahalnya barang impor. Karena itu efisiensi, peningkatan produktivitas, serta penggunaan produk dalam negeri harus terus diperkuat," kata Widi.

Ia juga menekankan pentingnya diversifikasi ekonomi daerah agar Bangka Belitung tidak terlalu rentan terhadap fluktuasi harga komoditas maupun nilai tukar mata uang global. 

Menurutnya, pengembangan sektor hilirisasi timah, pertanian modern, perikanan, ekonomi kreatif, dan pariwisata harus menjadi agenda bersama untuk menciptakan struktur ekonomi yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Penguatan dolar sendiri diperkirakan akan memberikan dampak langsung terhadap sektor ekspor timah yang selama ini menjadi komoditas utama Bangka Belitung.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved