Resonansi
Kekuatan dan Ketakutan
Perlawanan atas kekuatan dan ketakutan yang menyatu di tangan orang atau kelompok tertentu, bisa saja berbahaya bagi yang lain.
Penulis: Ade Mayasanto | Editor: Fitriadi
Ade Mayasanto, S.Pd., M.M.
Editor in Chief
Bangka Pos/Pos Belitung
APA yang terjadi ketika kekuatan dan ketakutan berada dalam satu kuasa? Dominasi, kontrol dan ketergantungan, begitu jawab kawan seumuran pada Rabu, 20 Agustus, jelang dini hari.
Tidak ada rincian atas jawaban tersebut. Sebab, setelah jawaban disebut, persamuhan tanpa janji itu ditutup dengan salam dan jabat tangan perpisahan. Kita berpisah dan mengendarai kendaraan masing-masing menuju lokasi peristirahatan.
Dua hari berselang, dua kata itu mencuri perhatian saya. Perhatian, karena ingin mencari tahu kenapa dua kata itu muncul dari penanya.
Ahad pagi, 24 Agustus 2025, selepas jalan pagi di alun-alun Pangkalpinang, saya bergegas menuju kantor. Laptop di laci langsung disasar setiba di ruang kerja.
Dalam hitungan menit, jari menyalakan laptop dan sejurus kemudian berselancar atas dua kata yang sedari kemarin hinggap di kepala.
Bams! Saya terkejut. Dua kata itu ternyata sudah lama merajalela di dunia maya, terutama penjajahan di Indonesia.
Dua kata ini juga menjadi penentu hegomoni kolonial Belanda, hingga akhirnya memicu perlawanan kawan-kawan muda pada masanya.
Alkisah, pada 26 Juli 1913, dr. Cipto Mangunkusumo menjelaskan dua kata itu dalam tulisan dengan judul berbahasa Belanda, Kracht of vrees.
Kracht dalam Bahasa Indonesia diartikan kekuatan. Sementara vrees disebut sebagai ketakutan.
Tulisan muncul karena Cipto mempertanyakan rencana peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis di Hindia Belanda.
Bagi Cipto, hal itu tentu tak masuk logika. Apalagi, Belanda merayakan kemerdekaan sebagai penjajah yang menaklukkan bangsa lain.
Kritik tajam Cipto meluncur deras dalam tulisan Kracht of vrees. Dan majalah De Expres, tanpa sungkan memuat tulisan pemuda asal Ambarawa, Semarang itu. Apalagi, dalam tulisan Cipto menorehkan pertanyaan: Apakah kekuasaan itu berdiri karena kekuatan sejati, atau hanya karena ketakutan yang ditanamkan?
Tulisan Cipto membuat Belanda bereaksi sangat keras. Jebolan STOVIA (sekolah dokter Jawa) di Batavia ini diasingkan Belanda bersama sejawatnya di Indische Partij. Mereka adalah Douwes Dekker dan Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Ade-Mayasanto.jpg)