Resonansi
Rupiah Kite
Tekanan terhadap terus berlanjut memasuki 2026, rupiah berada di kisaran Rp 16.785 hingga Rp 16.880.
Penulis: Ade Mayasanto | Editor: Fitriadi
Ade Mayasanto, S.Pd., M.M.
Editor in Chief
Bangka Pos/Pos Belitung
"Ada apa dengan rupiah kite? Kenapa melemah saat awal tahun 2026" tanya seorang kolega melalui pesan pendek.
Saat itu, matahari belum juga menampakkan diri. Bacaan doa-doa seusai solat Subuh belum juga usai dirapalkan. Tetiba nada dering di handphone berbunyi pendek. Ting, begitu bunyinya.
Ya, berhubung ada bunyi nada dering pesan pendek, doa-doa pun diucap secara singkat. Pasalnya, khawatir ada sesuatu hal penting yang mesti mendapat penanganan segera.
Jari-jari tangan lalu menekan kode pembuka. Nyatanya, pesan itu datang dari kolega. Kolega lama yang sudah hitungan tahun menetap di Bangka Belitung.
Biasanya, pesan pendek berisi tentang kondisi terkini seusai solat Subuh di suatu masjid. Atau, undangan pendek untuk bergegas mengayunkan kaki menelusuri jalan di seputaran alun-alun Pangkalpinang.
Namun, kali ini berbeda. Pesan itu terasa berat untuk mendapat jawaban. Dan seperti yang dituliskan di awal, begitulah isi pesan sang kolega lama. Dua pertanyaan yang sulit, bukan? Atau jangan-jangan memang tidak sulit. Sebab, justru susunan jawaban itulah yang sulit untuk diutarakan.
Menjawab kolega lama, kira-kira begini yang kerap muncul di pemberitaan nasional. Berbekal data Kementerian Keuangan, depresiasi rupiah sudah terjadi sejak akhir tahun lalu, 2025.
Tengok saja realisasi nilai tukar rupiah. Sepanjang tahun 2025, realisasi berkisar Rp 16.475 per dolar AS. Bahkan, jelang tutup tahun angkanya menembus Rp 16.700 per dolar AS.
Coba bandingkan dengan patokan rupiah di APBN 2025, angkanya dipatok Rp 16.000 per dolar AS.
Tekanan terhadap terus berlanjut memasuki 2026. Pada pekan pertama dan kedua Januari 2026, rupiah berada di kisaran Rp 16.785 hingga Rp 16.880.
15 Januari 2026 kemarin, menengok data lagi, rupiah ditutup Rp 16.880 per dolar AS. Bandingkan lagi dengan asumsi APBN 2026 yang dipatok Rp 16.500 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah ini disebut-sebut sebagai imbas dari kondisi geopolitik di luar negeri yang kian memanas.
Aksi Presiden AS Donald Trump memerintahkan serangan militer ke Venezuela, berikut penggulingan Nicolas Maduro, ketegangan politik di Timur Tengah dan Laut Hitam, mendorong harga minyak melonjak karena khawatir terjadi gangguan pasokan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Ade-Mayasanto.jpg)