Kenakalan Remaja, Petaka Masyarakat Konsumtif
Apa yang salah dari masyarakat kita, hingga moral hampir tercerabut penuh dari dirinya?
Pemerhati Sosial dan Keagamaan
"Ironi masyarakat konsumsi, rupa cacat yang ditangkap cermin retak secara tidak sadar memaksa anak menjadikannya sebagai pedoman; pedoman dalam mempersepsikan diri, masyarakat, dan hidupnya."
APA yang salah dari masyarakat kita, hingga moral hampir tercerabut penuh dari dirinya? Padahal, masyarakat kita adalah masyarakat religius. Tidak tanggung-tanggung, enam agama diakui sebagai agama resmi. Apakah benar pernyataan, bahwa hancurnya moral bangsa tidak memiliki korelasi dengan agama. Kehancuran moral bangsa lebih disebabkan oleh paham sekular-materialistik yang menjangkiti semua pemeluk agama.
Jika benar, seolah paham sekuler-materialistik telah sempurna menciptakan malapetaka bagi kehidupan, memecah dan merusak personalitas manusia. Jauh dari keluhuran budi-pekerti, miskin pengetahuan dan keterampilan, kepribadian yang labil dan ketergantungan, dan tidak memiliki rasa tanggung jawab bermasyarakat dan berbangsa. Materialisme telah mampu menggeser makna dan tujuan hidup manusia dari moril menjadi materiil untuk kemuliaan, keikhlasan, pengabdian menjadi sekedar untuk uang dan barang.
Dalam kehidupan bermasyarakat, materialisme dapat menjelma dalam banyak bentuk, salah satunya konsumerisme. Bentuk dan sebutan berbeda tapi pada hakikatnya sama, yakni materi atau kebendaan adalah segalanya.
Masyarakat Konsumtif
Seorang petani di sebuah perkampungan baru saja menerima slip pembayaran dari penjualan getah karetnya. Ia membuka dan langsung mengambil pulpen, mencoret-coret di kertas itu, di bawah angka slip pembayarannya. Ia menulis deretan angka-angka di bawahnya, kemudian dikurangkan.
Ia ingin tahu berapa sisa yang masih ia bisa terima, setelah membayar hutang-hutangnya, setelah disisihkan uang untuk membeli kebutuhan hidup sehari-harinya, setelah membeli keperluan-keperluan permintaan istri dan anak-anaknya. Biasanya, belum habis minggu atau bulan tidak ada sepeserpun uang yang terselip di saku celana, sehingga ia terpaksa berhutang dan dibayar saat mendapat uang hasil penjualan minggu atau bulan mendatang.
Demikianlah yang sering saya temui di kampung-kampung yang pernah saya singgahi, khususnya pada buruh dan petani yang penghasilannya pas-pasan. Namun ternyata mereka yang berpenghasilan besar pun mengalami hal yang sama. Tambah besar penghasilan, tambah besar juga pengeluarannya. Sisa penghasilan, selain habis untuk membeli kebutuhan pokok, juga akhirnya habis untuk membeli barang-barang konsumsi yang sebenarnya tidak begitu dibutuhkannya (pseudo needs). Hidupnya bagaikan dikejar-kejar kebutuhan. Sibuk memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari, tidak sempat lagi memikirkan masa depan, apalagi memikirkan hal-hal yang tinggi seperti makna kehidupan.
Dari fenomena ini penulis teringat dengan ungkapan Jean Baudrillard, tentang masyarakat konsumsi (la societe de consummatie). Masyarakat konsumsi adalah masyarakat yang secara tidak sadar telah menjadikan konsumsi sebagai pusat aktivitas kehidupan dengan hasrat yang kuat akan materi, selalu ingin berbelanja. Dalam masyarakat konsumsi persepsi terhadap barang (komoditi) telah berubah dari sekedar kebutuhan yang memiliki nilai tukar dan nilai guna, berubah menjadi komoditas citra/gengsi. Paradigma konsumsi bergeser dari sekedar memenuhi kebutuhan berubah menjadi memenuhi keinginan.
Dalam masyarakat konsumsi, hubungan manusia ditransformasikan dalam hubungan objek yang dikontrol oleh petanda atau citra. Perbedaan status sosial dimaknai sebagai perbedaan konsumsi citra, sehingga kekayaan diukur dari tingkatan citra yang dikonsumsi. Mengkonsumsi objek tertentu menandakan kita berbeda atau dianggap sama dengan kelompok sosial tertentu. Seseorang yang membeli pakaian mahal di mall status sosialnya lebih tinggi daripada mereka yang hanya bisa beli pakaian murahan di pasar tradisional. Citra seolah telah mengambil alih fungsi kontrol terhadap pribadi dan sosial.
Disinilah jebakan itu berlaku, konsumerisme memberikan warna baru terhadap tujuan hidup seorang manusia untuk meraih kemuliaan hidup dengan materi akan menenggelamkannya dalam kubangan materialisme. Moralitas agama sebagai tuntunan bagaimana mencapai kemuliaan hidup telah dikesampingkan. Tingkat kemuliaan seseorang dinilai dari tingkat konsumsinya, barang apa yang dikenakan. Barang-barang mewah yang dikenakan seolah menjadi simbol “orang mulia”. Demikian logika materialisme.
Kenakalan Remaja
Orang tua ibarat cermin, cermin kehidupan bagi anak-anaknya. Tapi sayangnya masyarakat konsumsi hanya mampu menciptakan cermin-cermin retak. Cermin retak hanya dapat menggambarkan tentang kebenaran, kebaikan, dan kemuliaan hidup sebatas rupa raga bukan jiwa, rupa fisis bukan psikis, rupa materil bukan moril, rupa benda bukan nilai guna.
Rupa atau gambar itulah yang hidup dan dewasa dalam logika hidup anak.
Ironi masyarakat konsumsi, rupa cacat yang ditangkap cermin retak secara tidak sadar memaksa anak menjadikannya sebagai pedoman; pedoman dalam mempersepsikan diri, masyarakat, dan hidupnya. Dengan logika cermin retak, tentu anak akan menemukan kesulitan bahkan ketidak-mampuan membangun dan mengaktulisasikan potensi kebaikan sejati dalam dirinya tidak dapat memilih dan beradaptasi dengan hal-hal yang meluhurkan dirinya. Tidak ayal jika kemudian perilaku dan tindakan anak cenderung menjauh dari kebenaran, kebaikan dan kemuliaan. Anak cenderung memilih lingkungan atau komunitas yang berpotensi merusak.
Minum-minuman keras, narkoba, seks bebas, nongkrong di tepi jalan, tawuran merupakan hal-hal yang membuat mereka tertarik dan nyaman. Cermin retak mendidik anak dengan prinsip-prinsip realis, pragmatis, dan individualis. Bagaimana anak dapat mencari keluhuran hidup, sedangkan keluhuran hidup selalu berpangkal dari prinsip-prinsip idealis sama sekali berlawanan dengan logika masyarakat konsumsi.***