Senin, 27 April 2026

Di Antara Deadline dan Lelah: Kisah Ratna Ulfa Belajar Mendengar Sinyal Tubuh

Di balik deadline dan mobilitas tinggi, Ratna Ulfa menemukan cara baru menjaga daya tahan tubuh agar kuat beraktivitas setiap hari

Bangkapos.com
Ratna Ulfa (27) di sela aktivitas kerjanya sebagai seorang staf kantor. Pengalaman menghadapi kelelahan fisik membuatnya lebih sadar menjaga kesehatan di tengah rutinitas yang padat. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Jam di sudut layar komputer Ratna Ulfa menunjukkan pukul 09.17 WIB. Deretan email terus berdatangan, notifikasi rapat bersahut-sahutan, sementara daftar pekerjaan di mejanya kian menumpuk. Di usia 27 tahun, ritme seperti itu sudah menjadi keseharian Ratna sebagai seorang staf kantor. Datang pagi, berpindah dari satu tugas ke tugas lain, dan pulang dengan sisa tenaga yang tak selalu utuh.

“Kadang rasanya baru duduk sebentar, tahu-tahu sudah siang. Kerjaan datang terus, nggak ada jedanya,” ujar Ratna saat ditemui Bangkapos.com, Jumat (23/1/2026).

Tuntutan multitasking dan deadline membuat tubuh Ratna terbiasa dipaksa beradaptasi. Sarapan kerap terlewat, jam istirahat tak menentu, dan secangkir kopi sering menjadi penunda rasa lelah.  Seperti banyak pekerja muda di kota besar, Ratna menganggap kondisi itu sebagai bagian dari harga yang harus dibayar demi produktivitas dan target pekerjaan.

Namun tubuh ternyata memiliki caranya sendiri untuk berbicara. Konsentrasi Ratna mulai mudah pecah, tenaga cepat terkuras, dan rasa lemas kerap datang bahkan sebelum hari kerja berakhir. Rutinitas yang dulu dijalani tanpa banyak pertanyaan perlahan terasa memberatkan, seolah ada keseimbangan yang diam-diam terganggu.

Di titik itulah ia mulai menyadari satu hal penting yakni di balik mobilitas tinggi dan ritme kerja yang nyaris tanpa jeda, tubuh bukan sekadar alat untuk mengejar deadline.

Titik Balik yang Memaksa Berhenti

Kesadaran itu datang terlambat. Suatu hari, kondisi fisik Ratna menurun drastis. Pemeriksaan medis mengharuskannya berhenti sejenak dari rutinitas yang selama ini dijalani tanpa kompromi. Ia menjalani proses pemulihan selama enam bulan, masa yang memaksanya menata ulang cara memandang kesehatan, pekerjaan, dan dirinya sendiri.

Selama masa pemulihan, Ratna mulai lebih memperhatikan hal-hal yang sebelumnya kerap diabaikan. Pola istirahat dibenahi, jadwal makan diatur, dan asupan nutrisi menjadi perhatian utama. Bagi Ratna, fase ini bukan sekadar tentang pulih, melainkan belajar memahami kebutuhan tubuh agar dapat kembali beraktivitas tanpa mengorbankan kesehatan.

Mencari Asupan Pendamping Keseharian

Dalam proses itulah Ratna mulai mencari asupan nutrisi yang lebih ia sadari kebutuhannya. Ia menginginkan sesuatu yang praktis, mudah dikonsumsi, namun tetap berbasis bahan alami. Dari situ, ia mengenal susu kambing Etawa sebagai salah satu pilihan nutrisi pendamping kesehariannya.

“Saya sadar, capek itu bukan cuma soal kurang tidur, tapi juga soal apa yang kita masukin ke tubuh,” lanjutnya.

Pilihan tersebut kemudian berlanjut pada Etawaku Platinum. Ratna mulai mengonsumsinya sebagai pelengkap nutrisi harian dan bentuk ikhtiar menjaga daya tahan tubuh di tengah aktivitas yang kembali padat.

Etawaku Platinum dalam Rutinitas Baru

ETAWAKU PLATINUM - Produk minuman susu kambing Etawaku Platinum
ETAWAKU PLATINUM - Produk minuman susu kambing Etawaku Platinum (Website Etawaku Platinum Original)

Setelah kembali beraktivitas, Etawaku Platinum menjadi bagian dari kebiasaan baru yang Ratna jalani secara konsisten.

Mengutip dari laman resmi Etawaku Platinum, produk ini merupakan perpaduan susu kambing murni dengan krimer rendah gula yang diformulasikan untuk mendukung kebutuhan nutrisi harian.

Kandungan vitamin dan mineral di dalamnya menjadikan Etawaku Platinum sebagai salah satu alternatif asupan yang dikonsumsi masyarakat untuk membantu menjaga stamina dan kebugaran tubuh.

Bagi Ratna, Etawaku Platinum adalah bagian dari upaya jangka panjang untuk terus kuat beraktivitas setiap hari.

“Saya nggak nyari yang efeknya cepat terus selesai. Yang penting bisa dijalani rutin dan masuk ke keseharian,” tandas wanita asal Sungailiat, Kabupaten Bangka tersebut.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved