Rabu, 8 April 2026

Tradisi Koposan, Berjalan di Atas Bara Api, Membakar Sifat-sifat Buruk

Ini budaya leluhur, ritual injak bara api atau koposan. Beda dari budaya koposan di Bangka, kalau kami

Penulis: Alza Munzi | Editor: Iwan Satriawan
Bangkapos/Alza Munzi
Atraksi koposan yang dilakukan taipak dan umat 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Seorang pria berpakaian serba putih berdiri di depan belasan

orang yang mengelilinginya di depan kelenteng Budi Dharma, Desa Kayu Besi, Kabupaten Bangka

Tengah, Jumat (26/10) malam.

Sesaat dia terdiam, lalu pria berambut panjang yang nyaris seluruhnya memutih itu berjalan di atas

bara dengan api menyala di sekelilingnya.

Tak ada ekspresi sakit dirasakan pria yang dipanggil Suhu Rudhy Langlangbuana itu.

Seperti dikomando, taipak, umat dan warga mengikuti Suhu Rudhy, berjalan di atas bara api.

Atraksi tersebut merupakan bagian dari budaya untuk memeriahkan ulang tahun Dewi Kwan Im di Desa Kayu Besi.

"Ini budaya leluhur, ritual injak bara api atau koposan. Beda dari budaya koposan di Bangka,

kalau kami pakai arang. Kalau di Bangka pakai kayu yang dibakar," kata Suhu Rudhy di sela atraksinya.

Selain berjalan di atas bara api, mereka juga mandi minyak panas yang tujuannya untuk pengobatan berbagai penyakit.

Suhu Rudhy mengatakan, warga tak diperkenankan mandi minyak panas karena khusus dilakukan bagi tujuan pengobatan.

Dia menyebutkan, di bawah arang sebanyak 2 ton itu tersimpan mangkok dan telur ayam.

Mangkok itu nantinya dilelang untuk tujuan amal.

"Kami diundang dari Jakarta. Nah, bara api ini panjangnya 8,5 meter dan 6 meter. Ada dua tempat

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved