Rabu, 27 Mei 2026

Tribunners

Mengedukasi Pesantren                

Demi santri, mari edukasi pesantren sepenuh hati, jangan menari dengan praduga dan antipati.

Tayang:
Editor: suhendri
Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy
Masmuni Mahatma - Ketua Tanfidziyah PWNU Kepulauan Bangka Belitung     

Oleh: Masmuni Mahatma - Ketua Tanfidziyah PWNU Kepulauan Bangka Belitung    

AMBRUKNYA bangunan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo, (29/09/25), adalah duka bersama. Sekitar puluhan santri yang meninggal, dalam perspektif agama, mereka syahid di jalan Allah. Syahid dalam mencari, mendalami, dan menginternalisasi ilmu Allah SWT. Syahid lantaran beribadah atas nama amanah-Nya. Syahid dalam konteks menjadi makhluk yang sadar atas kewajiban syar’iyah sekaligus orientasi luhur sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Syahid dari dan untuk menempa kehambaan berbalur iman, takwa, dan pengetahuan. Mereka syahid yang secara momentum dan kualitas jarang didapatkan sebagian besar umat. Semoga surga menyambut mereka penuh keteduhan dan keindahan atas rida Allah SWT. 

Sebagai pribadi yang kurang lebih 10 tahun (pernah) hidup di suatu pondok pesantren, saya hanya ingin mengutarakan kembali dua hal sederhana. Minimal agar tidak lagi banyak di antara masyarakat yang terus seakan “menyindir” pihak Pesantren Al Khoziny atas duka cukup besar ini. 

Pertama, memang dari azalinya setiap pondok pesantren dibangun dari semangat religiositas, spiritualitas, dan akuntabilitas moral (ketulusan) masyarakat yang bertetangga, mempunyai (ikatan) kedekatan dan menjadi bagian jejaring salah satu pimpinan atau pengasuhnya. Siapa pun dari kalangan pengasuh, tidak latah mencari suaka bantuan kanan-kiri. Kepada Allah SWT setiap malam suntuh para pengasuh munajat. 

Kedua, santri-santri dengan ketulusan dan khidmahnya, telah mewakafkan diri kepada pengasuh demi menjalani amanah luhur dari orang tua masing-masing. Sebagian orang tua yang mengantar dan memasrahkan putra-putrinya ke pondok pesantren, telah bertekad atas nama kehambaan bahwa untuk mencerap dan meraih ilmu yang manfaat, sebagai santri, putra-putri mereka wajib senantiasa taat dan patuh pada pengasuh. Sebab ilmu bukan hanya urusan teoretis yang termaktub dan dimunculkan dalam kitab atau buku berupa tulisan-tulisan. Jauh di luar itu, ilmu juga bisa didapat dari pengkhidmatan tulus untuk menaati dan meneladani apa yang para pengasuh lakukan berbasis kebajikan. 

Karakteristik pesantren

Salah satu karakteristik pesantren, ini yang rata-rata masih berlaku di kalangan pesantren tua dengan pengasuh yang alim (ilmu) dan karismatik, jarang sekali mengampanyekan diri untuk merekrut santri, apalagi sampai rebutan. Semua berjalan penuh kemurnian. Mengalir sejernih air. Masyarakat justru yang tiada henti berdatangan sendiri dalam rangka menitip dan memasrahkan putra-putrinya agar dibina, dibimbing, dididik, dan diarahkan sungguh kelak menguasai ilmu kehambaan dan kekhalifahan. Sehingga mereka menjadi anak saleh, pribadi yang bersahaja, individu yang kuat, tangguh, kreatif, dan tidak mudah putus asa atas rahmat dan sunah Allah SWT menjalani kehidupan di tengah-tengah masyarakat.

Karakteristik lain, disadari atau tidak, pesantren-pesantren yang tergolong tua dan besar, dalam konteks mengembangkan diri juga tidak bergantung pada (janji) pemerintah. Ikhtiar tanpa henti lahir dan batin di-handle langsung pengasuh dan tim yang dipercaya serta siap siaga bekerja sepanjang detak jantung mereka bergerak. Bukan hanya dibatasi 24 jam, tetapi melampauinya. Perlahan tetapi pasti, segalanya berjalan dengan baik. Sebab yang mem-back up bukan sekadar sesama manusia baik yang ada di pemerintahan maupun di birokrasi politik (dewan), melainkan Allah SWT dengan rida, hidayah, dan rezeki-Nya. Walhasil, kebutuhan-kebutuhan lunak maupun keras silih berganti ada yang mengantarkan ke pesantren. Tanpa meribetkan diri dengan hal-hal teknis-birokratis. Karena yang melatari semua bukan orientasi duniawiah, melainkan cita-cita luhur ukhrowiyah.

Karakteristik unik juga, adalah di mana setiap santri tidak pelit untuk “mengamalkan” tenaga dan pikirannya demi membantu pengembangan pesantren, baik dari aspek fisik, nonfisik, atau sekadar yang menyangkut penguatan sosial di hadapan masyarakat. Santri-santri dilatih untuk memiliki kepekaan berbasis spirit kolektivitas, nilai-nilai komunalitas, baik dalam rangka saling berbagi makanan, tolong-menolong meringankan beban sosial, bahu-membahu dalam tugas-tugas hidup kesantrian maupun untuk sosial kemasyarakatan. Saya sendiri dulu masih umur belasan tahun, biasa ikut angkut batu dari gunung bersama ribuan santri lain demi menyiapkan fondasi bangunan gedung untuk pengembangan fisik pesantren.

Alhamdulillah, tak ada masalah. Tiada kenal letih dan lelah. Lancar, aman, dan penuh berkah. Dari sini pula karakteristik ikonik pesantren yang berbeda dengan kebanyakan lembaga lain kian menyala. Yakni, melahirkan pelbagai hikmah, barokah, kemaslahatan hidup tanpa diburu. Terang bahwa santri yang tulus mengamalkan tenaga dan pikiran serta jiwa raganya demi pengembangan pesantren, rata-rata “nasib” dan “nasab” hidupnya di tengah masyarakat menunjukkan nilai lebih daripada yang masih banyak perhitungan. Ini memang bukan hasil survei akademik, tetapi fakta hidup yang bertaburan dan kadang juga fantastik. Bukan kesimpulan riset, melainkan realitas sosial kesantrian yang menyeruak di ruang-ruang kemasyarakatan.  

Terkait kelemahan

Terkait kelemahan yang masih melekat di pundak ribuan pesantren, tidak dimungkiri. Sangat disadari. Duka besar pesantren Al Khoziny, sekira dibaca dari persepktif konstruksi bangunan, tentu banyak kelemahan dan kekurangan. Namun demikian, kelemahan tersebut bukan untuk dicibir, disindir, dan dinyinyirin. Hal yang dibangun dari semangat dan ketulusan tetapi juga keterbatasan “kondisi” tersendiri, tentu mempunyai perbedaan kualitatif dengan yang dirancang melalui persiapan teknis dan “modal sosial” yang berkecukupan. Ini lumrah. Dan mari kita tempatkan kelemahan ini salah satu dari bekal awal memberikan edukasi pesantren dengan optimal. Bukan malah sering berkutat pada kecurigaan dan cibiran.

Bangsa ini harus bersyukur memiliki pesantren yang berdiri, tumbuh, berkembang, dan bergerak dengan karakteristik luhurnya di seantero Nusantara. Tanpa banyak merepotkan pemerintah dan penguasa. Jutaan pribadi baik, mencerahkan dan berandil produktif demi kejayaan bangsa ini telah lahir dan didik jauh sebelum negara ini merdeka. Sosok pentolan yang tergabung dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), jelas-jelas adalah penyangga dan pengasuh pesantren-pesantren, orang tua asuh paling tulus dari santri-santri. Untuk menyebut beberapa, misalnya, KH Abdul Wahid Hasyim, KH Masykur, KH Mas Mansur, KH Abdul Halim, KH Ahmad Sanusi, KH Abdul Fatah Hasan, dan lain-lain.

Mengedukasi pesantren merupakan langkah dan sikap mulia. Akan tetapi, tidak boleh hanya jadi wacana atau diskursus parsialistik, temporalistik, apalagi tampak dikemas dengan tendensi administratif-taktis belaka. Kurang etis negara dan pemerintah tiba-tiba hadir hanya ketika ada tragedi ambruknya bangunan pesantren di Al Khoziny, Sidoarjo. Selama ini pendampingan dan perhatian dari pemerintah juga tidak seberapa untuk mengawal eksistensi pesantren. Partisipasi pemerintah dalam hal “dana” misalnya, tidak seberapa dibandingkan keringat dan kesungguhan pesantren meringankan negara dalam konteks mencerdaskan generasi bangsa. Berbanding terbalik dengan pola gelontoran negara dan pemerintah terhadap sekolah-sekolah umum dan perguruan tinggi di luar pesantren. 

Izin pendirian dan bangunan pesantren, bila dianggap urgen, diedukasi tanpa mengalirkan statement seakan pengasuh dan tim pesantren tidak cakap menyiapkan konstruksi. Edukasi itu paradigmatik, konstruktif, produktif, dan mendahulukan langkah empatik. Pesantren itu lumbung dan laboratorium keilmuan berbasis akhlakul karimah, tidak boleh dilirik sebelah mata apalagi pendidikannya dikategorikan pelengkap atau “kelas dua.” Segera hentikan polarisasi bahwa pendidikan dan keilmuan di lingkungan pesantren harus terus “menyesuaikan” pelbagai tahapan administratif agar dapat diakui setara dengan pendidikan sekolah dan perguruan tinggi (pada)umum(nya). Al Khoziny adalah pelajaran berharga untuk jati diri bangsa. Demi santri, mari edukasi pesantren sepenuh hati, jangan menari dengan praduga dan antipati. (*)

 

  

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved