Selasa, 26 Mei 2026

Tribunners

Mencari Jiwa dalam Dunia Ekonomi Modern

Jika ekonomi dibangun di atas moral, tanggung jawab, dan spiritualitas, maka pembangunan tidak hanya menghasilkan kekayaan, tetapi juga keberkahan

Tayang:
Editor: suhendri
Dokumentasi Lukman Hakim
Lukman Hakim - Mahasiswa Magister Ekonomi Syariah IAIN SAS Babel  

Oleh: Lukman Hakim - Mahasiswa Magister Ekonomi Syariah IAIN SAS Babel 

"Kebahagiaan sejati tidak terletak pada banyaknya harta, tetapi pada baiknya jiwa"

                                                                -Al Ghazali-

SAAT ini, banyak yang meyakini bahwa pasar dapat menyelesaikan hampir semua masalah manusia. Selama produksi meningkat, investasi tumbuh, dan pertumbuhan ekonomi stabil, masyarakat dianggap menuju kesejahteraan.

Namun, kenyataan menunjukkan hal berbeda. Di tengah kemajuan teknologi, gedung pencakar langit, dan digitalisasi yang pesat, masyarakat modern justru menghadapi tantangan yang makin kompleks, seperti ketimpangan sosial, kerakusan ekonomi, krisis moral, dan hilangnya makna hidup.

Di era dimana keuntungan sering diutamakan dibandingkan keadilan. Perusahaan besar meraih laba triliunan rupiah, sementara buruh masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Pasar modal meningkat, tetapi petani tetap kesulitan menjual hasil panen dengan harga yang layak. Di media sosial, gaya hidup mewah terus dipamerkan, sementara banyak orang diam-diam terjebak dalam utang konsumtif.

Pertanyaannya sederhana namun mengganggu: apakah ilmu ekonomi modern benar-benar sedang membawa manusia menuju kesejahteraan, atau justru sedang melahirkan bentuk baru dari krisis kemanusiaan? Pertanyaan itu menjadi makin penting ketika dunia mulai menyadari bahwa ekonomi ternyata tidak pernah benar-benar netral.

Di balik teori-teori ekonomi modern, tersembunyi cara pandang tertentu tentang manusia, kehidupan, dan tujuan hidup itu sendiri. Mari menarik napas sejenak, tenangkan diri dan pikiran lalu bersama menelusuri akar persoalan tersebut melalui pendekatan filsafat ilmu -epistemologi- sehingga mampu menyimpulkan penyebab anomali paling mendasar pada problem ekonomi modern, bukan pada sistem pasar, namun pada cara berpikir yang melandasinya.

Mitos ‘bebas nilai’ ekonomi modern

Ekonomi konvensional tumbuh dari tradisi filsafat Barat modern yang dipengaruhi rasionalisme, empirisme, positivisme, dan sekularisme. Rasionalitas manusia dianggap sebagai sumber utama kebenaran. Fakta empiris diposisikan sebagai ukuran ilmiah tertinggi. Sementara agama dan moral perlahan dipinggirkan dari ruang ekonomi.

Auguste Comte, tokoh positivisme, bahkan meyakini bahwa ilmu pengetahuan harus bebas nilai. Artinya, ilmu hanya bertugas menjelaskan fakta, bukan menentukan baik atau buruk. Dalam praktik ekonomi modern, pandangan ini melahirkan keyakinan bahwa ekonomi cukup berbicara soal efisiensi, produksi, distribusi, dan keuntungan. Moral dianggap urusan pribadi.

Di titik inilah persoalan besar mulai muncul. Ketika ekonomi dipisahkan dari etika, maka keserakahan perlahan berubah menjadi sesuatu yang dianggap normal. Selama sebuah aktivitas menghasilkan keuntungan dan tidak melanggar hukum formal, maka ia dianggap sah. Akibatnya, manusia mulai terbiasa melihat dunia hanya melalui angka dan kesuksesan diukur dari besarnya laba serta yang lebih ironis, tingginya konsumsi menjadi tolok ukur kemajuan.

Mengutip kritik Karl Polanyi dalam The Great Transformation yang menjelaskan bahwa pasar modern sering kali mendorong manusia menjadi sekadar objek ekonomi. Bahkan Joseph Stiglitz, peraih Nobel Ekonomi, mengingatkan bahwa globalisasi modern telah melahirkan ketimpangan sosial yang sangat serius. Fakta ini sebenarnya terlihat jelas di sekitar kita. Hari ini orang berlomba menjadi kaya secepat mungkin. Anak muda didorong mengejar “cuan” tanpa pernah benar-benar diajarkan makna keberkahan.

Dunia digital bahkan melahirkan budaya baru: flexing, FOMO, YOLO dan konsumsi impulsif sehingga orang membeli bukan karena butuh, tetapi karena takut dianggap tertinggal. Ironisnya, makin banyak barang yang dimiliki justru makin banyak pula manusia modern merasa kosong.

Tak dapat dimungkiri, salah satu konsep paling berpengaruh dalam ekonomi modern adalah homo economicus. Konsep ini memandang manusia sebagai makhluk rasional yang selalu berusaha memaksimalkan keuntungan pribadi. Sekilas konsep ini tampak logis. Tetapi jika dipikir lebih dalam, ia menyimpan persoalan filosofis yang serius. Jika manusia hanya dipahami sebagai pemburu keuntungan, lalu di mana posisi empati, moralitas dan tanggung jawab sosial?

Adam Smith memang percaya bahwa kepentingan individu dapat menciptakan keseimbangan pasar melalui mekanisme invisible hand. Namun realitas modern memperlihatkan bahwa pasar tidak selalu melahirkan keadilan, dan justru yang mencuat kepermukaan adalah monopoli, makin bertambahnya pundi segelintir elite serta makin tertekannya usaha kecil.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved