Senin, 18 Mei 2026

Tribunners

Potret SDM Bangka Belitung: Potensi Besar, Tantangan Nyata

Mayoritas pekerja di Babel masih didominasi lulusan SMA/sederajat. Tenaga kerja berpendidikan tinggi relatif kecil jumlahnya.

Tayang:
Editor: suhendri
Dokumentasi Ricka Anggela Fitri Yanna
Ricka Anggela Fitri Yanna – Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Bangka Belitung 

Oleh: Ricka Anggela Fitri Yanna – Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Bangka Belitung

SUMBER daya manusia (SDM) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) saat ini menjadi perhatian utama di tengah transisi ekonomi daerah yang tidak lagi bisa sepenuhnya bergantung pada sektor pertambangan timah. Pemerintah dan masyarakat setempat kini mulai mengalihkan fokus kepada sektor produktif lainnya, terutama pariwisata. Hal ini disebabkan letak geografis yang dikelilingi lautan membuat pemerintah daerah berkolaborasi dengan swasta mencari sumber pendapatan baru untuk menopang perekonomian keberlanjutan.

Potret SDM Babel saat ini

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah angkatan kerja di Babel pada tahun 2025 mencapai lebih dari 800 ribu orang, dengan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) sekitar 70 persen. Namun, masih terdapat tantangan serius, yakni tingkat pengangguran terbuka yang berada di atas rata-rata nasional. Hal ini dipicu oleh menurunnya lapangan kerja di sektor tambang, industri padat karya, perkebunan dan perikanan. Sementara itu, sektor alternatif seperti pariwisata dan jasa belum sepenuhnya mampu menyerap tenaga kerja dalam kapasitas besar.

Di sisi lain, mayoritas pekerja di Babel masih didominasi lulusan SMA/sederajat. Tenaga kerja berpendidikan tinggi relatif kecil jumlahnya sehingga terjadi kesenjangan antara ketersediaan tenaga kerja dengan kebutuhan industri modern, terutama di bidang hilirisasi pertambangan, digitalisasi, dan pariwisata.

Ketergantungan pada tambang dan perubahan struktur ekonomi

Sektor pertimahan masih menjadi primadona perekonomian Babel, di mana timah merupakan komoditas unggulan provinsi ini. Tercatat lebih dari 70 persen nilai ekspor provinsi Babel disumbang oleh timah batangan. Data BPS menunjukkan, sepanjang Januari–Juli 2025 nilai ekspor timah Babel menembus 895,61 juta dolar Amerika Serikat, meningkat hampir 75 persen dibanding periode yang sama pada tahun 2024. 

Peningkatan nilai ekspor tersebut tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat Babel mengingat ketersediaan akan kebutuhan pokok maupun material lainnya didatangkan secara kontinu dari luar Babel sehingga membuat harga menjadi mahal dan cenderung menjadi inflasi daerah.

Ketergantungan masyarakat akan sektor pertambangan timah masih mendominasi dan cenderung menimbulkan potensi konflik akibat dari ketersediaan lahan yang memiliki kandungan potensial untuk dilakukan penambangan sangat minim sehingga terjadinya peralihan dari tambang darat ke tambang laut, baik menggunakan sarana penambangan kapal isap produksi (KIP), ponton isap produksi (PIP), dan tambang inkonvensional (TI) apung rajuk yang selalu menimbulkan gesekan dengan nelayan maupun pengelola pariwisata.

Pariwisata: sektor alternatif yang menjanjikan

Berbeda dengan pertimahan yang sulit menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, pariwisata justru memiliki potensi tinggi untuk membuka lapangan kerja baru. Babel dikenal dengan pantai berpasir putih, batu granit raksasa, serta laut biru yang indah. Bahkan, kawasan Belitung telah masuk ke dalam 10 destinasi prioritas pariwisata nasional setelah popularitas film Laskar Pelangi. Industri pariwisata ini terbukti mampu menciptakan efek berantai yang luas, mulai dari akomodasi, transportasi, kuliner, kerajinan tangan, hingga industri kreatif digital.

Badan Pusat Statistik merilis bahwa pariwisata Babel pada tahun 2025 menunjukkan tren positif, terlihat selama periode Januari-Juli 2025, jumlah wisatawan yang mengunjungi Babel mencapai 2,86 juta orang, meningkat sekitar 55,39 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya. Angka ini mengindikasikan bahwa sektor pariwisata mampu merangsang kunjungan wisatawan dan juga memiliki potensi besar sebagai penyumbang lapangan kerja dan kontribusi ekonomi lokal. Namun meski potensinya besar, pariwisata Babel masih menghadapi sejumlah kendala:

1. Kualitas SDM pariwisata masih rendah. Banyak tenaga kerja belum terlatih dalam
bahasa asing, manajemen hotel, maupun pemasaran digital.
2. Ketergantungan pada musim liburan. Jumlah wisatawan sering berfluktuasi sehingga sektor pariwisata belum menjadi penopang ekonomi yang stabil sepanjang tahun.

Namun, dengan strategi yang tepat, pariwisata bisa menjadi alternatif penggerak ekonomi
sekaligus solusi mengurangi pengangguran.

Peran Universitas Bangka Belitung dalam peningkatan SDM

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved