Rabu, 29 April 2026

Berita Pangkalpinang

Densus 88 AT Polri Deteksi 110 Anak Terpapar Radikalisme, Doktrin Disebarkan Melalui Ruang Digital

110 anak-anak terindikasi paham radikal tersebut, satu di antaranya berada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Bangka Pos
Kasubdit Kontra Radikal Direktorat Pencegahan Densus 88 AT Polri, AKBP Joko Dwi Harsono saat hadir dalam Program Dialog Ruang Tengah. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Sebagai pasukan antiteror di bawah Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Detasemen Khusus 88 Antiteror ( Densus 88 ) terus melakukan upaya pencegahan aksi terorisme di pelosok negeri.

Mereka terus memonitor adanya kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki kemungkinan terpapar paham radikalisme.

Kasubdit Kontra Radikal Direktorat Pencegahan Densus 88 AT Polri, AKBP Joko Dwi Harsono menerangkan, berdasarkan penelusuran yang dilakukan oleh jajarannya terdapat 110 anak-anak terindikasi paham radikal tersebut. Satu di antaranya berada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Meski saat ini 110 anak itu sudah mendapatkan bimbingan langsung dari Densus 88 bersama stakeholder terkait, fenomena menarik tergambar dari cara mereka terpapar paham esktrim ini.

Menurut AKBP Joko Dwi Harsono, saat ini doktrinisasi ini sudah dilakukan melalui ruang-ruang digital, khususnya dalam fitur game online yang banyak digemari dan diakses dengan mudah oleh anak-anak.

Perbincangan tersebut disampaikan AKBP Joko Dwi Harsono saat hadir dalam Program Dialog Ruang Tengah yang dipandu langsung oleh Pemimpin Redaksi Bangka Pos Group, Ade Mayasanto.

Berikut petikan kutipan wawancaranya:

1. Q: Apakah saat ini ruang digital sudah dijadikan tempat doktrinisasi ekstrimisme ini?
A: Ya seperti itu, ada perubahan pola. Kalau dulu terorisme rekrutmen terikat pada struktur, ada yang bertugas merekrut, mencari kader. Tapi sekarang, pendekatan lebih ke ideologi yang disebarkan melalui berbagai cara, termasuk ruang digital, termasuk lewat game-game yang bisa digunakan untuk berinteraksi itu juga bisa sekarang ini.

2. Q: Kenapa kemudian pengaruh ini mudah sekali masuk khususnya pada generasi muda?
A: Karena kita lihat sendiri sekarang, mungkin kita juga harus instrospeksi diri apakah kita membatasi ruang mereka bermain gadget, kan tidak. Sehabis sekolah mereka bisa asik sendiri dengan itu, yang penting mereka dirumah, tidak kemana-mana. Tetapi sebenarnya itu malah tidak bisa dicek langsung kan, mereka komunikasi dengan siapa, bicara dengan siapa itu kan tidak terfilter. Jadi paham itu bisa masuk lewat jalur ini.

3. Q: Bisa diceritakan bagaimana cara meraka mengambil hari generasi muda ini?
A: Tentunya begini, sebuah game itu kan si anak bisa menciptakan avatarnya sendiri, dengan skin seusai yang mereka mau. Kemudian disitu kan banyak unsur kan ada unsur kekerasan sehingga mereka terbiasa melihat itu dan juga tersedia fitur pesan untuk saling berkomunikasi. Setelah Itu biasanya berlanjut ke grup Whatsapp yang kemudian dikumpulkan anak-anak disitu akan terus di doktrin pesan-pesan ke arah radikal. 

4. Q: Berarti kelompok anak muda ini mereka ini memang diincar oleh ekstrimis ini?
A: Sebelum kesitu, usia anak dan remaja itu kan usia mereka menyerap nilai-nilai dari orang dewasa, itu kan moment karena akan melekat pada anak hingga dewasa. Jadi ini adalah moment bagi kelompok terorisme untuk memberikan masukan itu, sehingga apa, kalau mereka sudah jadi pasti akan sangat militian, pantang mundur lah. Ini dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok itu, apalagi dengan adanya media sosial, tidak ada tatap muka, mereka menebar itu kemudian sampai kemana-mana.

5. Q: Banyak tidak kemudian anak muda yang kena doktrin ini untuk saat ini?
A: Kalau sekarang trend nya itu, data terakhir ada 110 anak, itu data tahun ini, tepatnya dua bulan lalu. Bahkan mereka ini sudah punya kemampuan dan sudah ada niat untuk melakukan.

6. Q: Berarti 110 anak ini sudah "pengantin" siap?
A: Iya, mungkin dalam artian anak-anak yang sudah punya militansi lah. Kalaupun mereka melakukan itu pasti dengan happy-happy saja. Mereka happy karena memang itu yang ditanamkan, mungkin kalau mereka melakukan pikirannya, pasti jadi legend ni.

7. Q: 110 anak ini kan bukan angka yang kecil, bagaimana mereka bisa kena doktrin itu?
A: Ini yang harus kita lihat, 110 ini kan yang ketahuan, yang berhasil kita ungkap, kita mapping, bahkan sudah kita lakukan pembinaan pada mereka. Tapi, untuk yang belum ketahuan, bisa jadi fenomena gunung es, yang di atas ini kan yang ketahuan, tapi yang di bawah ini kita tidak tahu.

8. Q: untuk 3 tahun ini kita zero attack, apakah ada kemungkinan mereka ini sedang menyiapkan sesuatu?
A: Mungkin saya juga tidak bisa memastikan, apakah ini sudah terencana atau mereka ini hanya menebar jaring saja. Kalau mau aksi, aksilah, yang terpenting sudah terdoktrin, kemudian tersebar. Tapi yang jelas ada di 110 anak yang kemudian siap untuk diarahkan kemana. Tinggal menunggu menekan tombol saja istilahnya.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved