Selasa, 19 Mei 2026

Berita Bangka Selatan

Petani Basel Usulkan MBG Jadi Penyangga Serapan Semangka Lokal

Para petani semangka di Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung berharap pemerintah daerah dapat melibatkan mereka dalam program MBG.

Tayang:
Penulis: Cepi Marlianto | Editor: M Ismunadi
Bangkapos.com/Cepi Marlianto
Panen Semangka - Sejumlah petani ketika memanen buah semangka di kebun semangka milik Angga di Desa Gadung, Senin (1/12/2025). Dengan produksi yang cukup melimpah petani berharap penyerapan buah lokal bisa dilakukan lewat program MBG. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Para petani semangka di Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung berharap pemerintah daerah dapat melibatkan mereka dalam program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).

Bagi para petani, program ini bukan hanya bermanfaat bagi anak sekolah, tetapi juga bisa menjadi pintu penyerapan hasil pertanian lokal yang kerap menghadapi fluktuasi harga, terutama saat panen raya.

Harapan tersebut disampaikan Angga (38), petani semangka asal Desa Gadung yang mengelola dua hektare lahan dengan sekitar 3.000 batang tanaman.

Meski kualitas buah menurun akibat intensitas hujan, ia masih mencatat hasil panen antara 28 hingga 30 ton sekali panen tahun ini.

Namun, harga jual semangka dianggap belum memuaskan.

“Alhamdulillah hasilnya lumayan, kurang lebih 28–30 ton sekali panen," kata Angga kepada Bangkapos.com, Senin (1/12/2025).

Menurutnya, harga semangka saat ini berada di kisaran Rp5.000 per kilogram — stabil namun belum ideal.

Untuk memperoleh keuntungan layak, harga semestinya berada pada level Rp6.000–Rp7.000 per kilogram.

Ketika harga turun ke kisaran Rp3.500–Rp5.000, margin pendapatan petani menjadi sangat tipis.

Di tengah situasi itu, Angga menilai program MBG dapat menjadi solusi karena mampu memberikan pasar yang lebih pasti bagi petani.

Program MBG yang menyasar anak sekolah dinilai membuka peluang besar bagi komoditas pertanian lokal untuk masuk ke rantai pasok makanan bergizi.

Semangka, dengan masa tanam sekitar 60 hari, menjadi komoditas yang cepat berputar dan selama ini menjadi penopang ekonomi petani.

Namun, perputaran cepat ini juga membuat harga mudah tertekan ketika panen berlangsung serentak.

“Kami tidak butuh bantuan besar. Yang kami butuhkan pasar yang jelas. Kalau pemerintah bisa menyerap sebagian hasil panen melalui MBG, itu sangat membantu,” ujarnya.

Di awal musim hujan, cuaca menjadi tantangan utama bagi petani semangka yang membutuhkan sinar matahari cukup untuk menghasilkan buah manis dan berukuran maksimal.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved