Jumat, 8 Mei 2026

Berita Bangka Selatan

Pemkab Bangka Selatan Minta Hilirisasi Lada Dibangun di Daerah Penghasil

Hefi Nuranda mengatakan pemda berkomitmen untuk mengembalikan kejayaan lada melalui penguatan strategi hilirisasi yang terintegrasi

Tayang:
Penulis: Cepi Marlianto | Editor: Hendra
Bangkapos.com/Cepi Marlianto
Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka Selatan, Hefi Nuranda. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan mendorong agar hilirisasi lada putih tidak hanya terpusat di luar Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Melainkan dibangun di daerah asal komoditas unggulan tersebut.

Hilirisasi komoditas di daerah penghasil dinilai menjadi kunci agar nilai tambah ekonomi tidak terus mengalir keluar wilayah.

Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka Selatan, Hefi Nuranda mengatakan pemerintah daerah berkomitmen untuk mengembalikan kejayaan lada melalui penguatan strategi hilirisasi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Hal tersebut telah disampaikan usai mengikuti diskusi bersama Gubernur Kepulauan Bangka Belitung dan jajaran pemerintah provinsi beberapa waktu lalu. Terutama yang membahas arah pembangunan sektor unggulan daerah, khususnya komoditas lada.

“Alhamdulillah, kemarin kami berkesempatan berdiskusi langsung dengan Pak Gubernur dan seluruh jajaran. Salah satu harapan besar kami, mewakili Pak Bupati, adalah terkait hilirisasi lada,” kata dia kepada Bangkapos.com, Senin (19/1/2026).

Hefi Nuranda membeberkan beberapa waktu lalu pihaknya memang telah mengikuti Focus Group Discussion (FGD) dengan Kementerian Pertanian di Direktorat Perbendaharaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Dalam forum tersebut disampaikan bahwa rencana hilirisasi lada akan dibangun di Provinsi Lampung. Sementara Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang terkenal dengan komoditas lada putih alias Muntok White Paper yang telah memiliki reputasi internasional justru terabaikan.

Hilirisasi lada menjadi isu strategis yang perlu segera ditindaklanjuti agar daerah penghasil tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah.

Akan tetapi juga memperoleh nilai tambah dari industri pengolahan. Menurutnya, tanpa industri pengolahan di daerah sendiri, petani hanya menikmati nilai jual bahan mentah. Sedangkan keuntungan terbesar dari proses pengolahan justru dinikmati daerah lain.

Hal ini dinilai tidak sejalan dengan semangat pemerataan pembangunan dan penguatan ekonomi berbasis potensi lokal. Hefi Nuranda mencontohkan pengalaman sektor timah di Bangka Belitung yang hingga kini sebagian besar proses hilirisasinya berada di luar daerah. 

Ia menilai, kondisi tersebut tidak boleh terulang pada komoditas lada putih Muntok. Hilirisasi di daerah penghasil diyakini mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan petani, memperkuat daya saing produk. Paling penting menjaga identitas daerah sebagai pusat komoditas unggulan nasional.

“Kami agak kaget juga melihat hilirisasi lada itu rencana pembangunannya adanya di Lampung. Padahal kita tahu, salah satu produk unggulan nasional, lada putih Muntok, berasal dari Bangka Belitung,” jelas Hefi Nuranda.

Di sisi lain sambung dia, Kabupaten Bangka Selatan memiliki basis pengembangan lada yang cukup kuat. Salah satunya melalui kawasan lada Techno Park yang berlokasi di Kecamatan Air Gegas. Kawasan ini sebelumnya telah dikembangkan sebagai pusat pembibitan, penelitian, dan pengembangan lada. Ia juga mengingatkan bahwa pada rentang tahun 1980 hingga 1990-an, lada menjadi komoditas primadona yang membawa kesejahteraan besar bagi masyarakat Bangka Selatan

Kejayaan tersebut, menurutnya, menjadi semangat bagi pemerintah daerah untuk kembali menghidupkan sektor lada sebagai penopang ekonomi masyarakat. Saat ini, Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan tengah fokus mendorong program strategis hilirisasi lada putih yang mendapat pendampingan langsung dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi, tetapi juga menjaga keberlanjutan lada putih sebagai warisan komoditas unggulan daerah. 

Kementerian Pertanian, telah memberikan arahan agar pemerintah daerah serius menjaga kelestarian tanaman lada putih yang kini mulai mengalami penurunan di sejumlah wilayah. Pendampingan yang diberikan meliputi penyediaan bibit unggul, dukungan pupuk, peningkatan kapasitas petani, hingga penerapan teknologi pascapanen untuk memperkuat rantai nilai lada dari hulu ke hilir.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved