Selasa, 28 April 2026

Bisnis Sapi di Bangka Belitung

Modal Bisnis Sapi di Bangka Belitung Fantastis tapi Margin Minim

Distributor sapi dan pedagang daging di Bangka Belitung sama-sama bermain dalam arus kas cepat dengan margin keuntungan yang relatif tipis.

Editor: Fitriadi
Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah
PEDAGANG SAPI - Seorang pedagang daging sapi sedang melayani pembeli di Pasar Ratu Tunggal, Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (22/1/2026). 

BANGKAPOS.COM - Di balik tingginya konsumsi daging sapi di Bangka Belitung, tersimpan perputaran modal bernilai puluhan miliar rupiah serta skema pembayaran yang menuntut kedisiplinan tinggi.

Distributor dan pedagang sama-sama bermain dalam arus kas cepat dengan margin keuntungan yang relatif tipis.

Owner CV Selamat Jaya, Rangga Aji Sahputra, mengungkapkan total modal yang saat ini berputar dalam usahanya mencapai sekitar Rp30 miliar. 

Nilai tersebut mencakup 1.300 ekor sapi yang tersebar di sejumlah kandang di Bangka serta sekitar 500 ekor lainnya yang masih dalam tahap penggemukan di Lampung.

“Kalau dihitung keseluruhan, mulai dari sapi yang ada di Bangka sampai yang masih di Lampung, modalnya bisa sampai Rp30 miliar,” ujar Rangga kepada Bangkapos.com, Selasa (3/3/2026).

Baca juga: Laku Baru Bayar, Strategi Pedagang di Babel Jual Daging Jelang Lebaran

Dengan harga sapi hidup sekitar Rp60 ribu per kilogram dan bobot rata-rata 500–550 kilogram, satu ekor sapi bernilai lebih dari Rp30 juta. 

Sapi-sapi itu ditempatkan di beberapa lokasi, seperti Ampui, Panggal Balam, Ketapang, dan Air Mangkok.

Di kandang Ampui, Pangkal Balam, terdapat sekitar 160 ekor yang disiapkan untuk kebutuhan potong harian maupun kurban.

Untuk kurban, tersedia sapi lokal jenis Limousin, Bali, dan Madura. 

Sementara kebutuhan daging harian didominasi sapi impor Brahman Cross (BX) dari Australia yang memiliki persentase daging lebih tinggi.

Distribusi dimulai dari Lampung. Sapi impor didatangkan melalui kapal khusus ternak, kemudian digemukkan dua hingga tiga bulan di feedlot sebelum dikirim ke Bangka menggunakan truk.

Satu unit truk mampu mengangkut 16 ekor sapi dengan waktu tempuh sekitar satu hari satu malam.

Risiko perjalanan menjadi konsekuensi yang harus ditanggung.

“Kadang ada yang keram karena capek di perjalanan. Kalau mati satu ekor saja, kerugiannya sudah puluhan juta,” kata Rangga.

Pembayaran Tiap Minggu

Sumber: bangkapos
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved