Kamis, 30 April 2026

Berita Bangka Selatan

Udi Warga Toboali Basel Bingung Anak Bayinya Terus Diberi Menu MBG Kacang-kacangan

Warga Basel keluhkan menu MBG bayi 10 bulan berupa kacang-kacangan. Dinkes minta SPPG evaluasi penyajian & kesesuaian usia.

Tayang:
Penulis: Dedy Qurniawan CC | Editor: Dedy Qurniawan
Istimewa/ Dok Irna
Satu di antara menu kering program MBG di Bangka Selatan 

Ringkasan Berita:
  • Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bangka Selatan menuai kritik setelah bayi berusia 10 bulan menerima menu kacang-kacangan yang tidak sesuai usia.
  • Warga berharap adanya evaluasi pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar menu disesuaikan dengan kebutuhan balita.
  • Kepala Dinkes Bangka Selatan, dr. Agus Pranawa, mengakui adanya kesalahan pemberian dan meminta perbaikan standar gizi.

BANGKAPOS.COM - Penerapan menu kering dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan 2026 di Kabupaten Bangka Selatan kini tengah menuai sorotan tajam dari masyarakat.

Sejumlah penerima manfaat menilai jenis makanan yang didistribusikan belum sepenuhnya mempertimbangkan kebutuhan usia, terutama bagi kelompok rentan seperti balita.

Keluhan mendalam dirasakan oleh Udi, warga Kelurahan Toboali, yang mendapati paket makanan untuk anak laki-lakinya yang baru berusia 10 bulan terasa kurang tepat.

Udi mengungkapkan bahwa setiap kali membuka paket program MBG tersebut, dirinya kerap menemukan menu kering berupa kacang polong, kacang telur, hingga kacang koro.

Kondisi pemberian jenis makanan keras ini dinilai tidak masuk akal untuk bayi yang bahkan belum genap memiliki gigi sempurna untuk mengunyah kacang-kacangan.

“Menu kering program MBG selama bulan Ramadan saya nilai kurang efektif,” kata dia kepada Bangkapos.com, Minggu (8/3/2026) malam.

Meski sesekali paket berisi menu yang lebih relevan seperti puding, telur, dan buah, namun dominasi makanan kering tetap memicu kekhawatiran orang tua mengenai efektivitas gizi.

Udi mendesak pihak penyelenggara untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh agar distribusi menu kedepannya disesuaikan dengan profil usia penerima manfaat.

“Semoga SPPG bisa melakukan evaluasi terhadap balita penerima manfaat. Agar menunya bisa disesuaikan dengan kondisi dan usia penerima manfaatnya,” ujar Udi.

Kritik serupa juga disampaikan oleh Irna, warga Kecamatan Pulau Besar, yang mempertanyakan komposisi menu kering yang diberikan kepada anak usia sekolah menengah atas.

Ia merasa meskipun paket berisi variasi seperti keripik tempe dan telur, standar kecukupan gizi untuk mendukung produktivitas siswa tetap perlu ditinjau ulang secara transparan.

“Saya rasa program MBG selama bulan Ramadan khususnya menu kering bisa dievaluasi. Karena saya rasa tidak sesuai,” kata Irna.

Menanggapi gejolak di masyarakat, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Bangka Selatan mulai melakukan langkah-langkah peninjauan serius.

Kepala Dinas Kesehatan Bangka Selatan, dr Agus Pranawa, mengonfirmasi bahwa meski menu telah mengacu pada rekomendasi ahli gizi, terdapat celah dalam teknis pemberian di lapangan.

“Memang menunya menurut ahli gizi itu sesuai. Saya juga sempat turun ke beberapa SPPG dan ada beberapa menu yang sudah sesuai dengan standarnya,” kata dia kepada Bangkapos.com, Minggu (8/3/2026).

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved