Tribunners
Keteladanan Kartini
Sederhana dan rendah hati merupakan sifat Kartini yang patut diteladani oleh perempuan Indonesia.
Oleh: Eddy Salahuddin - Guru SMAN 3 Pangkalpinang
KESETARAAN gender antara laki-laki dan perempuan merupakan bagian upaya membangun Indonesia. Pada zaman sekarang, perempuan Indonesia harus mengambil peran yang sama dengan laki-laki dalam membangun Indonesia. Peran ini menjadi sangat penting karena perempuan mempunyai karakter yang unik dan potensial. Mereka memiliki tanggung jawab yang sejatinya sangat luar biasa karena tumbuh kembangnya suatu generasi sangat ditentukan oleh kehadirannya. Bahkan, kehadirannya dapat mengubah suatu peradaban bangsa.
Raden Ajeng Kartini, nama yang mengubah peradaban perempuan Indonesia. Nama yang selalu menjadi inspirasi perempuan Indonesia. Beliau telah membuktikan kepada bangsa Indonesia bahwa peran penting perempuan dapat menjadikan Indonesia sebagai bangsa beradab dan bermartabat. Perjuangannya dalam membuka mata dan hati perempuan Indonesia agar berkiprah mewujudkan cita-cita dan harapan mulia.
Momentum peringatan Hari Kartini, 21 April 2026, makin menjadikan perempuan Indonesia sebagai sosok yang harus terus meningkatkan peran dan fungsinya. Momentum yang dilatarbelakangi oleh peristiwa kelahiran tokoh yang dilahirkan di Jepara, 21 April 1879 silam. Sebagai perempuan yang tangguh dalam memperjuangkan emansipasi perempuan Indonesia, Kartini sangat layak diteladani oleh perempuan/wanita Indonesia sekarang ini. Tema peringatan tahun ini berfokus pada pemberdayaan, ketangguhan, dan adaptabilitas perempuan dalam berbagai sektor.
Mengutip sumber https://www.gramedia.com/, ada enam keteladanan Raden Ajeng Kartini yang dapat diterapkan oleh perempuan Indonesia pada masa sekarang hingga masa yang akan datang. Keenam hal tersebut adalah sebagai berikut.
Pertama, Kartini adalah perempuan yang cerdas dan berwawasan luas. Kecerdasannya dibuktikan dengan kegiatannya membaca buku-buku yang merupakan koleksi ayahnya. Dari buku-buku yang dibacanya, Kartini mendapat banyak pengalaman dan pengetahuan. Dengan statusnya sebagai anak bangsawan, Kartini beruntung bisa bersekolah dan mengenyam pendidikan di ELS (Europese Lagere School, setara SD) hingga usia 12 tahun. Meskipun, beliau dipingit setelah berhenti sekolah, perjuangannya tetap berlanjut dengan mempelajari pengetahuan dengan membaca berbagai bahan bacaan.
Kedua, mempunyai tekad yang kuat dan pantang menyerah dalam mencapai cita-cita dan keinginan dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Hal ini dibuktikan dengan idenya yang luar biasa, yaitu membuat sekolah di sekitar tempat tinggalnya, khusus bagi para anak perempuan. Hal itu juga dilatarbelakangi oleh perlakuan pihak Belanda yang menganggap anak perempuan pada masa itu sebagai manusia yang mempunyai kekurangan.
Guru-guru orang Belanda sering mencemooh Kartini sebagai perempuan yang kurang pantas mendapat pendidikan setara dengan orang Belanda. Keadaan ini menempa jiwa Kartini menjadi lebih kuat dan pantang menyerah untuk membuktikan perjuangannya kepada Belanda. Aktivitas mengajar anak-anak perempuan tersebut berlangsung hingga beliau menikah dengan laki-laki yang juga mendukung perjuangannya ini.
Ketiga, Kartini selalu patuh dan hormat kepada orang tua sehingga beliau selalu memendam segala keinginannya. Kartini tidak diperbolehkan ayahnya untuk melanjutkan sekolah ke Batavia atau ke Belanda. Beliau mematuhi dan mengikuti larangan tersebut hingga perjalanan hidupnya menakdirkan seorang lelaki menikahinya. Bentuk penghormatan Kartini kepada orang tuanya adalah dengan menghargai mereka dan rela berkorban untuk kepentingan bersama; menjauhi sifat ego demi diri sendiri.
Keempat, sikap berani dan optimis dalam memperjuangkan harapan dan citi-citanya. Hal ini dibuktikan dengan cara-cara yang dilakukannya untuk memperluas wawasannya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan Indonesia. Bahkan, Kartini menulis banyak surat dalam menyuarakan isi hati dan pikirannya. Surat yang ditujukan kepada temannya di Belanda, seperti Rosa Abendanon dan Estella Zeehandelaar, menyuarakan pikiran dan perasaan perempuan Indonesia pada masa itu.
Kelima, sederhana dan rendah hati merupakan sifat Kartini yang patut diteladani oleh perempuan Indonesia. Dengan kesederhanaannya, beliau tidak membanggakan status kebangsawannya dan membebaskan adiknya memangggil dengan nama saja. Beliau tidak merasa sombong meski dengan status keningratannya. Dengan demikian, beliau dapat leluasa berinteraksi dengan para perempuan di sekitar tanpa ada jarak dan batas-batas.
Keenam, berjiwa sosial dan penuh rasa kasih sayang merupakan sifat dan karakter Kartini sehingga orang-orang di lingkungan sekitarnya bersimpati dengan usaha dan perjuangan beliau. Perilaku menolong orang-orang yang membutuhkan jasa dan tenaganya merupakan kegiatan yang dilakukannya kepada anak-anak perempuan khususnya.
Sebagai perempuan, Kartini pun memiliki rasa kasih dan sayang kepada anak-anak perempuan yang diajarinya di sekolah. Dengan kasih sayang, anak-anak yang diajarinya merasakan bimbingan dan arahan Kartini dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.
Para perempuan/wanita hebat sekarang ini dapat meneladani keenam tindakan dan perilaku Kartini sehingga mereka akan menjadi makin hebat dan memajukan bangsa dan negara Indonesia pada masa yang akan datang. Tidak harus semua tindakan dan perilaku harus ada dan diteladani oleh para perempuan Indonesia. Akan tetapi, paling tidak Kartini telah dan akan menanti kiprah dan bukti nyata para perempuan Indonesia, tidak hanya di kancah nasional, tetapi juga di kancah internasional.
Banyak sekali contoh yang sudah dilakukan oleh perempuan Indonesia dalam mewujudkan cita-cita dan perjuangan Kartini. Begitu banyak perempuan Indonesia yang menduduki posisi penting di pemerintahan, di dunia usaha dan bisnis, di organisasi politik dan sosial kemasyarakatan, di dunia seni dan budaya, olahraga dan sebagainya. Kartini akan bangga dan tersenyum indah melihat dan mengetahui bahwa perjuangan dan pengorbanannya selama ini tidak sia-sia.
Selamat memperingati Hari Kartini 2026, jayalah perempuan Indonesia dan tetap menjadi pendamping laki-laki untuk membangun negeri; mempersiapkan generasi yang unggul, berkarakter, berkualitas dan hebat. (*)
| Menjadi Guru PAI yang Transformatif dalam Arus Globalisasi Pendidikan |
|
|---|
| Argumentasi Hukum dalam Perhitungan Kerugian Keuangan Negara dari Perspektif Perkara Korupsi |
|
|---|
| Inflasi Bangka Belitung: Terkendali di Angka, Rentan di Struktur |
|
|---|
| Selamat Jalan Abu Hairi, Wakil Rakyat yang Memperjuangkan Aspirasi Publik dalam Sunyi |
|
|---|
| Manifestasi Keadilan Ideal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20260412_Eddy-Salahuddin.jpg)