Tribunners
UBB: Dari Angkatan Pertama Menuju Kampus Berdikari
Setelah melewati lustrum ke-4 ini, UBB harus jauh lebih militan lagi sebagai institusi pendidikan tinggi
Oleh: Darwance - Dosen Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung, Mahasiswa Universitas Bangka Belitung Angkatan Pertama (2006)
SEKITAR 20 tahun yang lalu, saya tidak pernah mengira akan menjadi mahasiswa di Universitas Bangka Belitung (UBB) angkatan pertama, lebih-lebih kelak akan menjadi bagian dari keluarga besar UBB sebagai tenaga pengajar hingga sekarang. Kampus yang dahulu “butiran debu dan bukan siapa-siapa”, meminjam istilah seorang kolega, bermodalkan cita-cita mulia dan tekad kolektif yang kuat, kini terus bertransformasi untuk terus berdikari dalam membangun negeri.
Bagi saya, UBB bukan hanya terus bertambah secara usia, tetapi terus berbenah memperkokoh diri. Tulisan singkat ini tidak bermaksud membanding-bandingkan masa lalu dengan masa sekarang, tetapi hanya berkisah soal perjalanan UBB perspektif seorang alumni dari angkatan pertama, yang kini pun tetap berada di UBB pada posisi yang (boleh dikatakan) berbeda.
UBB dan angkatan pertama
Begitu lulus dari SMA saat itu, saya didera bukan oleh pilihan kampus yang variatif, tetapi justru dibatasi oleh pilihan itu sendiri. Orang tua saya tidak memberikan saya izin untuk kuliah di luar daerah dengan alasan yang akhirnya mau tidak mau harus saya terima.
Sementara itu, di Pulau Bangka jumlah kampus tidak banyak dan jurusan yang ditawarkan pun tak sebanyak seperti saat ini. Pada saat itu, saya tetap berpegang pada salah satu prinsip dasar dalam hidup, bahwa suatu saat, kita akan menyadari betapa pilihan orang tua adalah yang terbaik, walau kadang kala saya menjadikan itu sebagai cara untuk mengobati rasa kecewa.
Setelah sempat mendaftar di sebuah “kampus” yang menawarkan “lulus langsung bekerja”, saya akhirnya mengikuti seleksi masuk UBB saat pertama kali dibuka, dan diterima di Fakultas Hukum (saat itu masih bernama Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial atau FHIS).
Jadilah saya sebagai salah satu mahasiswa UBB angkatan pertama, sebuah identitas yang entah mengapa sedikit presitise dan memberikan rasa bangga. Apakah karena kata “pertama”? Bisa jadi, sebab menjadi yang pertama dalam hal apa pun memberitan tantangan tersendiri yang tak biasa. Demikian pula saat kami menjadi mahasiswa UBB di angkatan pertama.
Perkuliahan pertama kami berjalan dengan lancar dan apa adanya setelah nyaris satu minggu mengikuti kegiatan Studi Pengenalan dan Simulasi Aktivitas Kampus atau Spesivik (sekarang dikenal dengan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru atau PKKMB). Apa adanya karena perkuliahan berlangsung secara sederhana, ruangan kelas yang hanya ditemani kipas angin di beberapa sisi dinding. Usah ditanya bagaimana susana di ruangan itu.
Semua yang sudah kami lalui itu kini berubah menjadi nostalgia yang bila dikenang menjadi kisah menarik dan (walau agak berlebihan) agak heroik, bagaimana kami mahasiswa angkatan pertama meraih keping demi keping ilmu pengetahuan dari perguruan tinggi yang dijanjikan segera menjadi negeri. Sebuah janji yang kemudian berkembang menjadi tuntutan untuk segera direaliasi.
Adalah almarhum Prof. Dr. Bustami Rahman, M.Sc., salah satu tokoh penting berdirinya UBB sekaligus Rektor UBB pertama, yang lalu terus berupaya keras mewujudkan cita-cita. Mengenai hal ini, saya jadi teringat percakapan singkat dengan beliau pada sebuah kunjungan ramai-ramai ke kediaman beliau di Balunjuk, "Darwance angkatan pertama kan?" Dengan bangga saya jawab, "Iya, Prof, betul sekali." Lalu, tanpa saya duga lalu beliau bilang, "Berarti beliau ini salah satu dosen UBB yang dulu ikut mendemo saya saat masih mahasiswa...Haha..." Derai tawa membahana, tetapi akhirnya saya bilang, "Saya tidak pernah demo, Prof, cuma memanasi saja soal janji-janji itu." Jawaban yang tentu hanya saya ucapkan dalam hati.
Tetapi, beliau menunaikan janjinya itu. Penghujung 2010, beliau berhasil membawa pulang Surat Keputusan Penegerian UBB yang ditandatangi langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Bila dikisahkan, apalagi bila dibanding-bandingkan dengan kondisi saat ini, UBB saat itu betul-betul masih seperti negara yang baru merdeka. Dengan sumber daya yang dimiliki, UBB berusaha untuk terus menjadi kampus maju dengan "Unggul Membangun Peradaban" sebagai fondasi utama. Artinya, UBB ingin lulusannya menjadi pribadi yang bukan hanya berilmu, tetapi juga adab yang tinggi. Sebuah cita-cita yang menurut saya bukan hanya harus dimiliki oleh mahasiswa saja, atau alumni, tetapi seluruh warga UBB, termasuk dosen dan tenaga kependidikan. Semua harus bertindak mengedepan adab.
Ada kisah menarik. Setelah menerima mahasiswa angkatan kedua, praktis jumlah mahasiswa UBB bertambah, termasuk mahasiswa FHIS. Salah satu implikasinya adalah ruang kuliah yang juga harus tersedia. Di sisi lain, ruang di gedung yang saat itu menggunakan gedung yang kini menjadi Gedung Tudung Saji sebagai kantor Wali Kota Pangkalpinang itu, jumlahnya terbatas. Tak hilang akal, tak tahu ini ide siapa, disulaplah garasi mobil pemadam kebakaran di belakang gedung itu sebagai gedung kuliah kami. Ah, usah ditanya juga soal suasana. Pertama, sebelah kirinya adalah pemakaman. Kedua, yang namanya garasi, dapatlah dibayangkan sendiri seperti apa nuansanya. Tetapi, transfer ilmu pengetahuan tetap mengalir bagai cita-cita UBB untuk terus dapat menjadi salah satu episentrum pendidikan tinggi terbaik di negeri ini.
Ada satu lagi. Jauh sebelum itu, sering kali pula kami harus kuliah lesehan di salah satu ruangan yang mulanya digunakan untuk aktivitas organisasi-organisasi mahasiswa. Semuanya terdokumentasi dengan rapi, baik arsip digital yang kami tangkap melalui ponsel yang kami miliki saat itu, pun pada folder-folder yang saya yakin tetap ada di memori setiap mahasiswa angkatan pertama hingga kini. Setiap kali berjumpa, kisah soal ini selalu menjadi menu yang pasti akan kami ceritakan ulang, bahkan berulang-ulang. Itu adalah cara kami bersyukur atas apa yang sudah kami alami bertahun-tahun yang lalu. Ah, ini hanya beberapa potongan kecil kisah dari sekian banyak kisah soal “UBB dan Angkatan Pertama”, angkatan yang saya sering katakan sebagai angkatan fondasi.
Kampus yang (harus) terus bergerak maju
Saya yakin, setiap warga UBB memiliki semangat yang sama untuk membangun UBB menjadi kampus yang terus bergerak maju. Semua civitas academica UBB memiliki peran dan tanggung jawab yang setara. Semua bisa bertindak untuk kemajuan UBB yang kita cintai ini.
| Ruang Kelas yang Tertinggal dari Media Sosial dan Krisis Literasi Digital |
|
|---|
| Catatan dari Balik Layar TKA SMPN 2 Dendang |
|
|---|
| Keteladanan Kartini |
|
|---|
| Menjadi Guru PAI yang Transformatif dalam Arus Globalisasi Pendidikan |
|
|---|
| Argumentasi Hukum dalam Perhitungan Kerugian Keuangan Negara dari Perspektif Perkara Korupsi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20241204_Darwance.jpg)