Jumat, 17 April 2026

Tribunners

Diversifikasi dan Momentum Sensus Ekonomi

Sensus ekonomi menjadi titik awal agar langkah diversifikasi berbasis data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Oleh: Ridho Ilahi, S.S.T., M.Stat. - Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 

Oleh: Ridho Ilahi, S.S.T., M.Stat. - Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

PEREKONOMIAN Bangka Belitung sedang berdiri di titik krusial. Bertahan pada pola lama berbasis komoditas atau beralih ke ekonomi yang lebih beragam dan berkelanjutan. Fondasi ekonomi daerah masih menyimpan kerentanan struktural yang tidak bisa diabaikan.

Arah pembangunan daerah melalui RKPD 2027 secara tegas menempatkan ketahanan pangan,
hilirisasi, dan pariwisata sebagai prioritas. Pendekatan ini diperkuat dengan tata kelola yang
makin solid. Capaian reformasi birokrasi yang tinggi, pengakuan nasional dalam pencegahan
korupsi, serta dorongan inovasi melalui kebijakan “Satu Program, Satu Inovasi” menunjukkan
bahwa mesin birokrasi mulai bergerak lebih efektif, adaptif, dan berorientasi hasil. Artinya,
RKPD 2027 tidak hanya bicara arah, tetapi juga kesiapan eksekusi.

Satu prasyarat utama adalah kualitas data. Fokus pembangunan berisiko meleset dari akar persoalan tanpa data yang presisi. Ketahanan pangan bisa tidak tepat sasaran, hilirisasi berisiko salah komoditas, dan pariwisata bisa berkembang tanpa dampak ekonomi optimal. Di sinilah Sensus Ekonomi 2026 menjadi instrumen kunci agar seluruh prioritas RKPD berbasis realitas lapangan.

Pertumbuhan ekonomi Babel mencapai 4,09 persen di tahun 2025 belum cukup untuk mengejar dinamika kawasan Sumatra. Pertumbuhan ini belum mencerminkan akselerasi yang solid, hanya pemulihan sementara. Struktur penggeraknya masih didominasi industri pengolahan, perdagangan, dan terutama pertambangan.

Ketergantungan historis pada timah tetap membentuk wajah ekonomi daerah. Saat hampir
80 persen ekspor bertumpu pada timah, yang terjadi adalah ketergantungan, bukan keunggulan.
Kondisi ini dikenal sebagai resource dependence yang berisiko mengarah pada Dutch Disease ketika sektor lain tertekan oleh dominasi sektor ekstraktif. Jika kondisi ini dibiarkan, Babel akan terus terjebak dalam siklus yang sama. Tumbuh saat harga komoditas naik, melemah saat harga jatuh. Tidak ada stabilitas jangka panjang tanpa diversifikasi. 

Hilirisasi yang didorong dalam RKPD 2027 adalah langkah tepat, tetapi tidak cukup hanya sebagai jargon kebijakan. Kebijakan ini harus ditopang peta yang jelas tentang pelaku usaha, lokasi, rantai pasok, dan hambatan. Tanpa itu, hilirisasi hanya menjadi proyek jangka pendek. Transformasi tidak akan terjadi tanpa arah yang terukur.

Tekanan berikutnya datang dari inflasi yang kembali naik menjadi 0,41 persen pada Maret 2026 karena didorong oleh komoditas pangan. Ketergantungan pada pasokan luar daerah membuat harga mudah bergejolak. Setiap gangguan distribusi langsung diterjemahkan menjadi tekanan inflasi. Dampaknya jelas, daya beli masyarakat tergerus terutama pada kelompok bawah.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut menghambat penurunan kemiskinan dan memperlebar
ketimpangan. Ketahanan pangan tidak cukup dilihat dari sisi produksi saja. Ini harus dipahami
sebagai sistem yang mencakup produksi, distribusi, hingga konsumsi. Sensus Ekonomi
memungkinkan pemetaan menyeluruh atas ekosistem ini, mulai dari skala usaha hingga
penggunaan teknologi.

Surplus perdagangan Babel yang mencapai hampir 200 juta dolar AS perlu dibaca secara kritis. Tidak adanya impor pada periode yang sama justru menjadi sinyal bahwa aktivitas industri belum berkembang. Surplus ini bukan semata kekuatan ekspor, namun juga cerminan minimnya
kebutuhan input industri. Dengan kata lain, ekonomi belum bergerak ke arah industrialisasi yang matang.

Selama ekspor masih didominasi timah, maka nilai tambah terbesar tetap berada di luar daerah. Ini paradoks klasik daerah kaya sumber daya, kuat di hulu tetapi lemah di hilir. Sensus ekonomi dapat membantu memetakan potensi industri hilir yang selama ini tersembunyi, sekaligus mengidentifikasi kebutuhan input produksi yang bisa dikembangkan di dalam daerah. 

Di tengah dominasi sektor ekstraktif, pariwisata mulai menunjukkan peran sebagai penyeimbang baru. Kunjungan wisatawan meningkat secara tahunan, okupansi hotel membaik, dan lama tinggal wisatawan mancanegara makin panjang. Ini sinyal bahwa Babel punya peluang untuk rebalancing ekonomi menuju sektor jasa.

Pariwisata memberi efek berganda, menggerakkan UMKM, transportasi, dan ekonomi kreatif. Namun, peluang ini masih terhambat oleh konektivitas yang lemah. Penurunan mobilitas transportasi secara bulanan menunjukkan akses masih menjadi kendala. Tanpa infrastruktur yang memadai, potensi pariwisata tidak akan maksimal. Sensus ekonomi dapat memetakan secara utuh ekosistem pariwisata, termasuk keterkaitan antarsektor sehingga pengembangan tidak berjalan parsial.

Selain itu, pengangguran masih didominasi oleh lulusan pendidikan tinggi sehingga muncul ketidaksesuaian antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja. Disparitas kemiskinan antara kota dan desa masih lebar, sementara ketimpangan lebih tinggi di perkotaan. 

Itu menunjukkan pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya inklusif. Ada kelompok yang tertinggal di tengah pertumbuhan. Ketimpangan ini dapat menjadi sumber masalah jangka panjang tanpa intervensi yang tepat. Sensus ekonomi memberikan peluang untuk melihat distribusi usaha dan tenaga kerja secara lebih rinci sehingga kebijakan dapat diarahkan untuk memperluas kesempatan ekonomi.

Sensus Ekonomi 2026 merupakan investasi strategis untuk menentukan arah pembangunan. Data yang dihasilkan akan menjadi dasar dalam menyusun kebijakan fiskal daerah, menentukan prioritas anggaran, hingga merancang strategi pembangunan.

Babel memiliki semua prasyarat untuk tumbuh lebih kuat berupa sumber daya alam, potensi pariwisata, dan dinamika ekonomi yang mulai bergerak. Tanpa keberanian keluar dari ketergantungan lama, potensi tidak akan berdampak nyata. Diversifikasi adalah keharusan. Sensus ekonomi menjadi titik awal agar langkah diversifikasi berbasis data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved