Tribunners
Memahami Konsep Rezeki dalam Islam
Kesadaran bahwa harta hanya sebuah titipan ini akan memunculkan sikap senang berbagi, bersedekah, dan berzakat.
Oleh: Syamsul Bahri - Kepala MTs Al-Hidayah Toboali
DI era modern saat ini kebanyakan manusia makin menunjukkan sikap hedonis. Sebuah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia jika bisa mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan.
Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup. Pandangan ini mengakibatkan manusia berusaha mencari kebahagiaan dengan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan berbagai daya upaya.
Cara-cara mendapatkan harta pun terkadang tidak memedulikan norma-norma agama dan aturan yang ada sehingga terkadang istilah H3 (halal, haram, hantam) dilakukan. Aturan ditabrak saja, yang penting harta banyak dan kebahagiaan bisa dirasa. Oleh karena itu, terkadang banyak
kita mendapati orang terjerat kasus yang berhubungan dengan harta, seperti korupsi dan lain sebagainya.
Sikap hedonis ini juga membuat manusia lebih mementingkan kuantitas dari pada kualitas harta. Jumlah harta yang berlimpah dan tidak terhingga lebih diprioritaskan daripada berkah harta yang dimiliki. Hal itu dapat dilihat dari penetapan tujuan hidup dan prinsip hidup saat ini. Kesalahannya adalah mereka menganggap bahwa hidup dan rezeki adalah matematika yakni satu tambah satu sama dengan dua. Mereka menganggap menghitung rezeki itu sama seperti menghitung angka-angka dalam matematika. Mereka berasumsi bahwa dalam kehidupan ini rezeki selalu didapat dari usahanya sendiri.
Padahal di dalam Islam rezeki dalam kehidupan ini tidak bisa dihitung dengan ilmu matematika pada umumnya. Jika dalam kebiasaannya hitungan 1+1 memang 2, namun terkadang kita lupa bahwa bisa saja 1+1=11 atau 1+1 bisa jadi 0. Aneh memang, tetapi begitulah konsep menghitung rezeki dalam agama Islam.
Terkadang kita beranggapan dalam usaha orang yang bermodal besar yang akan mendapatkan banyak keuntungan, padahal banyak yang bermodal besar tetapi tidak mendapat untung besar dalam usahanya. Sementara itu sebaliknya banyak yang usahanya kecil tetapi rezeki terus mengalir. Itulah rahasia Allah SWT.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, rezeki diartikan dengan segala sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan yang diberikan Allah, sesuatu itu dapat berupa makanan sehari-hari, nafkah, pendapatan, keuntungan, dan sebagainya. Selanjutnya dalam Wikipedia disebutkan bahwa rezeki dalam Islam adalah segala hal yang memberikan manfaat kepada makhluk ciptaan Allah.
Kata rezeki berasal dari bahasa Arab yaitu rozaqo-yarzuqu-rizqon. Ketiga kata tersebut memiliki arti yang berkaitan dengan kata kerja "memberi". Rezeki juga dapat berasal dari kata “Kullu ma yanfa’u bihi” yang bermakna segala sesuatu yang bermanfaat. Kata rozaqo secara mendasar berarti pemberian untuk waktu tertentu, sedangkan pemberian dalam kata lain seperti hibah memiliki arti sebagai pemberian yang diberikan dalam waktu selamanya.
Kata rezeki disebutkan sebanyak 123 kali di dalam Al-Qur'an dengan bentuk fi'il, isim, dan makna yang berbeda. Makna tersebut meliputi pemberian, makanan, hujan, nafkah, pahala atau balasan, surga, syukur, dan buah -buahan. Dijelaskan lebih lanjut bahwa rezeki itu diberikan dalam dua bentuk, yaitu rezeki zahir dan rezeki batin. Rezeki zahir merupakan rezeki yang bermanfaat bagi tubuh, sedangkan rezeki batin yang bermanfaat bagi hati dan jiwa.
Untuk memperoleh kedua rezeki tersebut tidak hanya dengan berpangku tangan, tetapi diperlukan usaha dan pergerakan. Jika rezeki zohir diperoleh melalui usaha dan berderak
menjemputnya, rezeki batin pun demikian. Ketenangan hati dan jiwa hanya dapat diperoleh dengan zikrullah. Artinya kita jangan hanya pasrah dan bersantai menunggu rezeki itu datang menghampiri. Antara rezeki zohir dan rezeki batin harus sama-sama diusahakan.
Namun, semua tetap kembali kepada ketetapan Allah sang pemberi dan pengatur rezeki. Sehingga terkadang banyak kita lihat orang bekerja, pergi pagi pulang sore, peras
keringat, banting tulang, sampai-sampai berani meninggalkan salat dan ibadah wajib lainnya
namun kehidupan ekonominya begitu-begitu saja. Sementara itu, ada yang bekerja dengan biasa-
biasa saja, bisa menjalankan ibadah dengan tenang, namun rezeki yang didapatnya terus mengalir dan berlipat ganda. Itulah spektakulernya konsep rezeki, tidak bisa menduga-duganya.
Hal itu juga menjadi renungan kita bersama bahwa Allah SWT telah memberikan rezeki berupa harta kepada masing-masing manusia. Rezeki manusia tak akan tertukar dengan rezeki orang lain. Yang terpenting dari kita adalah harus terus berusaha dengan baik seraya berdoa dan menyadari bahwa Allah telah membagi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Ali ‘Imran ayat 37: “Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya tanpa batas.”
Selanjutnya setelah segala hal terkait dengan rezeki sudah ketahui dan jika sudah didapatkan, langkah selanjutnya adalah kita harus bersyukur. Karena dengan bersyukur, kita tidak lagi selalu menghitung-hitung jumlah harta yang kita miliki. Seyogianya harta adalah washilah (sebab) saja untuk kita bisa beribadah dengan tenang kepada Allah. Yang perlu dicatat dan diingat bahwa tugas utama kita hidup di dunia ini adalah untuk beribadah menyembah Allah SWT sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surah Adz-Dzariyat ayat 56: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
Syukur ini akan membawa kita tenang dalam menghadapi kerasnya kehidupan dunia. Walau sedikit harta yang dimiliki, jika kita bersyukur, kita akan hidup dengan tenang bersama keluarga. Sebaliknya, biarpun bergelimang harta, tetapi rasa syukur tak ada, maka kegersangan hidup dan ketidaknyamanan akan selalu terasa dalam langkah kehidupan kita.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Dok-Syamsul-Bahri.jpg)