Selasa, 21 April 2026

Berita Bangka Selatan

Pengepul Sawit di Payung Basel Kaget Ditelepon Sopir, Katanya Harga Dexlite Melonjak

Codet pengepul sawit di Desa Pangkalbuluh, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan harus menyediakan uang berlipat untuk BBM nonsubsidi.

Penulis: Erlangga | Editor: Fitriadi
Bangkapos.com/Cepi Marlianto
Petugas SPBU mengisi BBM kendaraan di SPBU 24.331.99 Desa Gadung, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Minggu (19/4/2026). Per tanggal 18 April 2026 terdapat tiga produk BBM non subsidi yang mengalami kenaikan harga cukup signifikan. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Susanto alias Codet (35), pengepul sawit di Desa Pangkalbuluh, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kelabakan ketika mendengar harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mendadak naik tinggi pada Sabtu (18/4/2026).

Codet biasa mengisi BBM truk miliknya menggunakan BBM nonsubsidi jenis Dexlite karena kesulitan memperoleh solar bersubsidi karena antrean panjang dan keterbatasan stok di SPBU.

Karena itu Codet memilih membeli BBM nonsubsidi meski harganya lebih mahal dibanding BBM subsidi.

Namun, kenaikan mendadak harga BBM nonsubsidi pada Sabtu (18/4/2026) membuat Codet  terpaksa berhitung ulang.

Codet mau tidak mau harus menyediakan uang berlipat jika tetap membeli BBM nonsubdisi untuk bahan bakar truk pengangkut tandan buah segar (TBS) sawit.

“Kalau pakai subsidi sulit. Antre dari subuh, jam 9 pagi sudah habis. Sementara pekerjaan kami tidak bisa menunggu,” kata Codet dihubungi Bangkapos.com pada Sabtu (18/4/2026).
 
Codet menyoroti bahwa dampak kenaikan BBM nonsubsidi tidak hanya dirasakan kalangan tertentu, tetapi juga pelaku usaha kecil.

“Katanya untuk kendaraan tertentu, tapi kami yang kerja juga kena. Pendapatan tidak besar, tapi biaya operasional naik drastis. Ini sangat menekan,” ujarnya.

Kenaikan biaya tersebut, lanjutnya, berpotensi memicu efek berantai dalam rantai pasok sawit.

Tekanan dari perusahaan dapat berujung pada penurunan harga beli di tingkat pengepul, yang kemudian berdampak ke petani.

“Kalau biaya kami naik, perusahaan bisa tekan harga ke kami. Kami juga terpaksa menekan harga ke petani. Akhirnya petani yang paling dirugikan,” jelasnya.

Ia menggambarkan kondisi saat ini sebagai situasi sulit yang datang bertubi-tubi.

“Sudah jatuh tertimpa tangga. Kerjaan ini kelihatannya enak, tapi risikonya besar. Sekarang benar-benar terasa tercekik,” katanya.

Codet berharap pemerintah dapat meninjau kembali kebijakan harga BBM agar lebih mempertimbangkan kondisi pelaku usaha kecil di lapangan.

“Harapan kami harga bisa dinormalkan. Kalau naik sedikit masih bisa dimaklumi, tapi jangan setinggi ini. Sesuaikan dengan kondisi kami,” ujarnya.

Codet terkejut saat sang sopir truk miliknya mengabarkan kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Dexlite.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved