Kamis, 7 Mei 2026

Berita Bangka Barat

Belum Tergarap Maksimal, Plt Sekda Bangka Barat Dorong Inovasi Tingkatkan PAD

Upaya peningkatan PAD tidak bisa dilakukan secara biasa, tetapi harus memerlukan strategi yang tepat dan terukur agar target tercapai.

Tayang:
Penulis: Riki Pratama | Editor: Fitriadi
Bangkapos.com/Riki Pratama
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka Barat, Abimanyu. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka Barat, Abimanyu menekankan pentingnya inovasi dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang masih menghadapi berbagai tantangan.

Menurutnya, upaya peningkatan PAD tidak bisa dilakukan secara biasa, tetapi harus memerlukan strategi yang tepat dan terukur agar target pendapatan daerah dapat tercapai.

"Harus ada inovasi lain bagumana cara meningkatkan PAD. Kita memahami kondisi masyarakat saat ini juga tidak mudah, sehingga perlu strategi yang tepat, tidak memberatkan agar target pendapatan tetap bisa naik," ujar Abimanyu kepada Bangkapos.com, Sabtu (25/4/2026).

Abimanyu menjelaskan, salah satu fokus utama saat ini adalah optimalisasi sektor Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang mengalami perubahan cukup signifikan. 

Selain itu, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) juga terus didorong melalui pemutakhiran data objek pajak.

"BPHTB ada perubahan besar yang harus kita kejar. Sementara PBB sifatnya lebih kepada pemutakhiran data. Nilai NJOP yang sebelumnya sekitar Rp 1 juta, sekarang sudah meningkat menjadi Rp 2 juta, artinya hitungan berbeda, ini perlu kita garap secara maksimal,” jelasnya.

Di sisi lain, sektor sarang burung walet juga dinilai masih memiliki potensi besar untuk mendongkrak PAD. Tetapi, dalam praktiknya terdapat sejumlah kendala, terutama terkait wajib pajak yang tidak berdomisili di daerah.

"Walet tetap menjadi perhatian kita. Kemarin sudah beberapa kali kita mencoba menjalin kerja sama dengan Balai Karantina. Agar kita bisa mengetahui jumlah walet yang keluar. Harapannya, data itu bisa menjadi dasar optimalisasi pajak,"katanya.

Meski demikian, Abimanyu, mengakui pengelolaan pajak walet tidak mudah karena banyak wajib pajaknya berada di luar daerah. Sehingga memerlukan pendekatan dan mekanisme khusus.

Tetapi, Abimanyu memastikan, Pemerintah daerah bakal terus berupaya mencari solusi. Sehingga seluruh potensi pendapatan daerah dapat dimaksimalkan tanpa memberatkan masyarakat.

Sementara, Wakil Ketua II DPRD Bangka Barat, Samsir, menegaskan Pemkab Babar, harus dapat berinovasi, dalam upaya peningkatakan potensi pendapatan daerah.
 
"Kita harap pemerintah daerah segera membuat langkah-langkah menyikapi agar keuangan daerah ini normal kembali,"kata  Wakil Ketua II DPRD Bangka Barat, Samsir.

Dia menambahkan pada 2026 ini, berdasarkan keterangan dari Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), APBD Bangka Barat mengalami defisit kurang lebih Rp 100 miliar.

Maka DPRD Babar, dikatakannya, merasa perlu turun tangan. Membantu pemerintah daerah memberikan solusi. Satu di antaranya, solusi yang bisa dilakukan, yakni pajak Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) yang bisa diambil dari dua sektor. 

"Pertama, perkebunan kelapa sawit yang dimiliki perusahaan-perusahaan besar yang ada di Bangka Barat," katanya.

Samsir menerangkan, PBB P2, dapat dipungut daerah, meskipun Pajak Bumi dan Bangunan sektor Perkebunan, Perhutanan, dan Pertambangan sudah dipungut pusat. 

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved