Rumah Panggung Kokoh di Bangka Selatan
Rumah Tradisional Bangka Lebih dari Sekadar Hunian
Rumah tradisional di Bangka tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga bagian penting dari sistem budaya, sosial, hingga sejarah.
Fungsi biologis rumah terlihat dari pembagian ruang di dalamnya, seperti kamar, dapur, dan ruang keluarga yang menunjang kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, fungsi politis rumah tercermin dari pola permukiman masyarakat yang membentuk kampung dan melahirkan struktur kepemimpinan lokal.
“Rumah-rumah itu mengelompok, membentuk kampung. Dari situ muncul pemimpin seperti lengan atau gegading,” jelasnya.
Dalam perkembangannya, arsitektur rumah di Bangka mengalami perubahan akibat pengaruh budaya luar, mulai dari Melayu lama, Cina, hingga Eropa.
Pada masa awal, rumah masih sangat sederhana, dikenal dengan istilah “kerak-nguap”, yakni bangunan dengan empat tiang dan atap alang-alang.
Seiring waktu, rumah berkembang menjadi rumah panggung yang lebih layak huni, hingga muncul rumah bubung panjang atau bubung gudang yang menunjukkan kemajuan teknologi pengolahan kayu.
“Ini menunjukkan masyarakat sudah mengenal teknologi pengolahan kayu dan alat dari besi,” ujarnya.
Pengaruh budaya luar juga terlihat dari penggunaan teknik sambungan kayu pelideh atau lidah-alur, serta material seperti genteng tanah liat dan ornamen tertentu.
“Dari bentuk rumah saja kita bisa membaca sejarah. Kita bisa tahu pengaruh budaya apa saja yang masuk ke Bangka,” kata Elvian.
Ia menegaskan pentingnya menjaga rumah tradisional sebagai warisan budaya.
“Kalau hilang, kita kehilangan jejak sejarah. Karena itu penting untuk dijaga,” ujarnya. (Bangkapos.com/Erlangga)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/rumah-kayu-tradisional-khas-bangka.jpg)