Tribunners
Kepedulian Sosial Sesama Jemaah dalam Berhaji
Banyak hal yang harus menjadi perhatian bagi jemaah dan keluarga yang ditinggal di tanah air agar rasa bahagia dan haru tetap terjaga
Ketiga, satu komando. Pelaksanaan ibadah haji dengan jumlah jemaah yang sangat banyak di waktu bersamaan, dibutuhkan komando. Penunjukan ketua kloter, ketua rombongan, dan ketua regu salah satu tujuannya adalah agar ada yang memegang komando secara terorganisasi. Jemaah tidak bergerak sendiri-sendiri, dengan demikian meminimalisasi kesalahan yang dapat menyebabkan timbulnya dam (denda) yang seharusnya tidak terjadi jika jemaah bergerak melalui komando.
Pengalaman penulis, beberapa anggota jemaah melakukan kesalahan ketika melaksanakan umrah wajib sehingga terkena dam. Karena beberapa anggota jemaah melaksanakan rangkaian umrah tanpa mengikuti komando yang disampaikan ketua kloter. Meskipun dalam manasik haji teori-teori sudah diterima dan dipelajari jemaah, namun ada hal-hal yang tetap mengikuti komando atau bimbingan dari petugas karena jemaah masih awam dengan kondisi dan situasi tempat suci itu.
Keempat, saling menghargai. Selain kebersamaan dan saling menghormati, saling menghargai menjadi hal yang berbeda. Keberangkatan jemaah dilengkapi dengan perangkat kloter yang terdiri dari ketua kloter, pembimbing ibadah, ketua rombongan (karom), dan ketua regu (karu). Jemaah harus memiliki rasa saling menghargai baik terhadap sesama anggota jemaah, termasuk kepada perangkat kloter.
Jemaah harus menghargai setiap keputusan perangkat kloter sepanjang tidak bertentangan dengan aturan dan kaidah yang sesungguhnya. Misalnya, ketika karom membagikan jadwal pengambilan jatah konsumsi jemaah, maka jemaah harus patuh dan menghargai. Tidak membuat keputusan sendiri, seperti mengambil jatah konsumsi hanya untuk dirinya sendiri, padahal konsumsi harus diambil atas nama rombongan. Demikian juga perangkat kloter, seyogianya menghargai setiap masukan dari jemaah sepanjang tidak bertentangan dengan aturan dan kaidah yang berlaku.
Yang paling sering terjadi bagi jemaah Indonesia adalah merokok di lingkungan hotel (tangga darurat). Ini merupakan salah satu tindakan yang harus dihindari agar rasa saling manghargai tetap terjaga. Menghargai aturan yang diterapkan pemilik hotel tentu menjadi gambaran etika dan saling menghargai sesama anggota jemaah dan pemilik hotel.
Kelima, menyiapkan mental sabar dan disiplin. Salah satu pengalaman penulis adalah pentingnya kesabaran. Antrean panjang, kamar yang padat, cuaca panas, hingga jadwal yang berubah mendadak adalah hal yang sangat umum terjadi. Karena itu, kesiapan mental untuk sabar, disiplin mengikuti arahan pembimbing, dan tidak mudah panik menjadi bekal yang sangat besar selama di tanah suci.
Keenam, memahami aturan dan larangan. Dalam pelaksanaan ibadah haji, beberapa aturan dan larangan yang wajib dipahami, seperti aturan dan larangan ihram. Memahami detail kecil ini sangat penting karena berkaitan langsung dengan sah atau tidaknya ibadah serta kemungkinan dam (denda) jika terjadi pelanggaran. Jemaah yang dikenakan dam (denda), akan mengurangi rasa bahagianya, rasa bersalah dan bahkan penyesalan muncul yang tidak berkesudahan.
Keenam, bertanggung jawab. Ketujuh, percaya dan yakin. Pelaksanaan ibadah haji dilengkapi dengan petugas haji yang dibiayai oleh negara. Dengan demikian, keluarga jemaah yang ditinggalkan tidak khawatir akan keselamatan dan kelancaran pelaksanaan rangkaian ibadah haji sanak saudaranya yang melaksanakan ibadah haji di tanah suci. Memberikan kepercayaan dan meyakini petugas haji mampu melaksanakan tugasnya dengan sebaik mungkin akan mengurangi rasa kekhawatiran dan menumbuhkan rasa kebahagiaan dalam pelaksanaan ibadah haji dengan aman dan khusyuk
Banyak hal yang harus menjadi perhatian bagi jemaah dan keluarga yang ditinggal di tanah air agar rasa bahagia dan haru tetap terjaga. Namun, pengalaman ini setidaknya menjadi gambaran nyata bahwa berhaji bukan sekadar ibadah spiritual pribadi, akan tetatpi di dalamnya terdapat kepedulian sosial sesama anggota jemaah yang mesti terjaga agar harapan untuk mendapatkan predikat haji yang mabrur benar-benar terwujud. (*)
| 11 Tuntutan Buruh dan Harapan di Era Presiden Prabowo Subianto |
|
|---|
| Gerbong Dipindah, Masalah Tak Berpindah: Empati yang Hilang dalam Komunikasi Publik |
|
|---|
| Masa Depan Ekonomi Syariah Bangka Belitung: Dari Seremonial ke Transformasi |
|
|---|
| Trauma Pembelajaran Jarak Jauh |
|
|---|
| Kritik Pemerintah Itu Hak, Tetapi Kok Bisa Dipidana? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20260501_Abdul-Rahman-Ns.jpg)