Kamis, 7 Mei 2026

Berita Bangka Barat

Inflasi Bangka Barat Tertinggi di Babel, Tembus 2,29 Persen pada April 2026

BPS mencatat inflasi tahunan Bangka Barat tertinggi di Bangka Belitung pada April 2026, dipicu kenaikan harga pangan, energi, dan...

Tayang:
(Bangkapos/Arya Bima Mahendra)/Arya Bima Mahendra
INFLASI TERTINGGI — Heru Warsito, Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Bangka Barat saat memberikan penjelasan inflasi Bangka Barat y-on-y April 2026 tertinggi se-Babel, Senin (4/5/2026) di Kantor BPS Babar. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kabupaten Bangka Barat tercatat sebagai daerah dengan tingkat inflasi tertinggi secara year-on-year (y-on-y) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada April 2026. Hal tersebut terungkap dalam rilis Berita Resmi Statistik (BRS) yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) Bangka Barat, Senin (4/5/2026).

Menanggapi data tersebut, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat menjelaskan sejumlah hal yang disampaikan oleh Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Heru Warsito.

“Kita patut bersyukur, kondisi inflasi di Bangka Barat masih relatif terkendali karena masih dalam batasan rentang nasional,” kata Heru.

Namun demikian, kata dia, masyarakat harus tetap waspada karena secara tahunan, harga-harga masih menunjukan kecenderuan meningkat.

“Sehingga tekanan inflasi jangka panjang masih menghantui dan menjadi perhatian kita bersama,” jelasnya.

Lebih lanjut, dirinya mengapresiasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Bangka Barat, Polres Bangka Barat dan BPS Bangka Barat yang telah dan selalu bersinergi melakukan langkah nyata mengendalikan tekananan harga sehingga stabilitas harga terjaga dengan baik.

Kemudian, terdapat beberapa peroembamg yamg perlu jadi perhatian bersama yang ikut mempengaruhi inflasi di daerah.

Salah satu contohnya, terjadi kenaikan harga gas elpiji 5,5 kg dan 12 kg yang menjadi salah satu faktor yang secara langsung meningkatkan biaya konsumsi rumah tangga dan biaya produksi pelaku usaha.

Di sisi lain, terdapat lonjakan bahan baku plastik yang berpotensi mendorong terjadi nya kenaikan harga berbagai komoditas, khususnya yang menggunakan kemasan plastik.

Kemudian, terjadi juga pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini Rp17 ribu lebih yang cukup tinggi nilainya.

“Ini menjadi tekanan terhadap harga barang, terutama kompditas impor ataupun yang memiliki ketergantungan terhadap bahan-bahan impor,” ujarnya.

Lalu kenaikan harga BBM non-subsidi yang turut meningkatkan biaya transportasi dan distribusi yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap harga barang dan jasa di tingkat konsumen.

“Kondisi tersebut menunjukan bahwa inflasi yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi oleh kenaikan biaya dimana peningkatakan harga-harga dipicu oleh biaya produksi dan bukan lonjakan permintaan,” ucapnya.

Lebih lanjut, dia menyebut bahwa inflasi tersebut tidak bisa dihilangkan namun bisa dikendalikan.

“Sehingga masyarakat ekonominya bertumbuh dan daya belinya baik,” sambungnya.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved