Tribunners
Asa Pembudayaan Kegemaran Membaca
Perlu waktu, kesabaran, dan kesadaran untuk memulai gemar membaca sebagai bagian yang penting dalam literasi
Oleh: Eva Fidia Lestari - Bunda Literasi Bangka Tengah
TINGKAT literasi masyarakat dapat menjadi tolok ukur tingkat literasi suatu bangsa. Kemampuan literasi bukan hanya terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, namun juga kemampuan memahami suatu informasi dengan cara berpikir kritis sehingga informasi yang diperoleh dapat membantu menyelesaikan persoalan, meningkatkan kualitas hidup, bahkan meningkatkan kesejahteraan diri.
Dengan derasnya arus informasi yang tersajikan setiap hari melalui berbagai media tentu memahami informasi secara kritis sangat diperlukan. Memahami secara kritis berarti mampu memilah dan memilih informasi mana yang dapat dipercaya, boleh diteruskan sehingga informasi tersebut tidak menjadi sambungan berita palsu yang menyesatkan dan tidak bermanfaat.
Pembudayaan kegemaran membaca buku bukan proses instan seperti membuat makanan atau minuman cepat saji. Perlu waktu, kesabaran, dan kesadaran untuk memulai gemar membaca sebagai bagian yang penting dalam literasi.
Rumah sebagai gerbang utama yang membentuk kesadaran dan kesabaran karena rumah menjadi tempat awal manusia baru tumbuh dengan bentukan orang tua sebagai tempat belajar. Orang tua yang sadar akan pentingnya literasi akan menjadi orang tua yang sabar dalam mengajarkan nilai literasi sejak usia dini.
Kebiasaan membacakan buku sejak usia dini berdampak sangat baik bagi perkembangan anak. Kebiasaan tersebut dapat menstimulasi kemampuan kognitif, menambah kosakata, meningkatkan kemampuan berkomunikasi, serta mengasah fungsi emosional dan sosial.
Melalui cerita, anak dapat belajar nilai kejujuran, kasih sayang yang menumbuhkan rasa empati lewat karakter buku yang dibaca. Lewat buku, anak belajar berimajinasi, melatih kreativitas, melalui gambar dan warna yang tersaji juga melatih konsentrasi dan pendengaran saat orang tua membacakan buku. Manfaat yang paling penting adalah mempererat kedekatan dan ikatan emosional antara orang tua dan anak yang menciptakan rasa aman dan nyaman.
Semua nilai baik tersebut dapat menjadi modal dasar membangun fondasi literasi, menumbuhkan kebiasaan membaca dan mempersiapkan anak menuju jenjang pendidikannya kelak.
Menciptakan lingkungan baca yang nyaman, pilihan buku yang banyak dan menarik, keterlibatan orang tua secara aktif dalam kegiatan membaca tentu menjadi situasi yang ideal yang diharapkan ada di semua rumah. Penulis optimistis gambaran ideal ini masih kita temukan di masa kini. Masa disrupsi teknologi yang memaksa kita untuk dapat beradaptasi dengan keadaan secara cepat dan menjadi bagian dari perubahan tersebut. Perubahan yang juga menjadi kesempatan bagi kita untuk meningkatkan literasi digital dan memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan jati diri.
Buku boleh berganti wajah menjadi versi elektronik yang menawarkan fleksibilitas, interaktif dan kepraktisan. Namun, keberadaan buku fisik tetap menjadi pilihan pertama bagi siapa pun yang ingin merasakan sensasi memegang buku, merasakan aroma buku, dan mendengarkan suara halaman demi halaman buku yang dibuka.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik mengenai tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia tahun 2024 menyatakan, Kepulauan Bangka Belitung menempati peringkat kedua dari sepuluh provinsi dengan tingkat kegemaran membaca tertinggi di Indonesia dengan durasi membaca, frekuensi membaca hingga jumlah buku yang selesai dibaca sebagai indikator yang mencerminkan kebiasaan membaca buku masyarakatnya.
Peringkat tersebut diperoleh dengan skor 77,47, jumlah frekuensi membaca 5-6 kali seminggu dan mampu menyelesaikan 5-6 buku bacaan dalam jangka waktu tertentu. Tentu keberhasilan ini menjadi penyemangatan dan apresiasi pada masyarakat kita yang ikut mendukung berkembangnya literasi lewat kegemaran membaca.
Bunda literasi yang diberi tugas sebagai penggiat literasi untuk membantu meningkatkan pembudayaan kegemaran membaca, diharapkan dapat menghadirkan program yang bermanfaat langsung pada masyarakat. Berkolaborasi dengan pemerintah, pihak swasta, akademisi, komunitas, dan media menjadi jalan cepat dan tepat untuk mewujudkan cita-cita mencerdaskan bangsa melalui penguatan literasi.
Bunda literasi menjadi tokoh yang aktif mempromosikan berbagai kegiatan literasi, sosialisasi, dan promosi gemar membaca bersama masyarakat dan komunitas, ikut mendorong kebijakan pemerintah yang mendukung gerakan gemar membaca secara masif dengan menyediakan fasilitas literasi yang mudah diakses, seperti mobil perpustakaan keliling, perpustakaan desa, kelurahan, perpustakaan sekolah. Membangun kebiasaan membaca buku mulai dari rumah, mendorong perpustakaan sebagai pusat kegiatan literasi dan menjadikan kegiatan membaca sebagai kegiatan yang seru dan menyenangkan.
Sebagai Bunda Literasi Kabupaten Bangka Tengah, penulis menyadari tugas mulia yang tidak mudah sebagai mitra pemerintah. Bersinergi dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Bangka Tengah, penulis mencoba menyelaraskan tugas dan peran sebagai Bunda Literasi dalam menyukseskan program literasi.
Menjadi sosok panutan yang digambarkan lewat media sosial dengan tampilan sering membaca buku, mengunjungi perpustakaan, punya koleksi buku yang banyak mungkin bukan hal yang sulit. Tiap orang punya cara menampilkan diri sebagai penggiat literasi. Namun, yang terpenting adalah dapatkah sosok panutan ini memberikan dampak nyata dalam upaya mempromosikan pembudayaan kegemaran membaca. (*)
| Self-Diagnosis dari Media Sosial: Ketika TikTok Menjadi ‘Dokter’ Baru Generasi Muda |
|
|---|
| Ketika Permainan Menjadi Ancaman: Alarm Keselamatan Anak di Era Konten Viral |
|
|---|
| Pasca-idulfitri di Bangka Belitung: Mengurai Kenaikan Harga yang Berulang |
|
|---|
| Legalitas, Harga, dan Harapan: Realitas Penambang Timah Rakyat Pulau Belitung |
|
|---|
| Overview Implementasi Jaminan Kesehatan Nasional, Triwulan I 2026 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20260507_Eva-Fidia-Lestari.jpg)