Perjuangan Anak Penyintas Thalasemia
Pasrah kepada Allah, Penderita Thalassemia di Babel Bergantung Transfusi
Anak-anak penyintas thalasemia di Bangka Belitung hidup bergantung pada transfusi darah rutin. Ketersediaan stok darah pun menjadi ...
Candaan itu terdengar ringan, tetapi sesungguhnya menyimpan ketabahan yang luar biasa. Selepas transfusi darah, tubuh Riski seperti kembali diisi cahaya.
”Kalau sudah transfusi jadi enak lagi. Bisa sekolah lagi,” katanya.
Namun bagi Hanafiah, setiap transfusi tetap menghadirkan kecemasan yang sama. Ia selalu dihantui ketakutan kehilangan anak untuk kedua kalinya.
”Ibu pasrahkan saja sama Allah. Yang penting Ibu sudah berusaha,” ucapnya.
Kelainan Genetik Dokter Spesialis Anak RSUD Muhammad Zein Manggar, dr. Yohannes Adinatha menjelaskan, hingga kini terdapat delapan pasien anak penderita Thalasemia yang rutin menjalani transfusi darah di rumah sakit tersebut.
“Ada yang paling kecil usianya dua tahun,” ujar dr. Yohannes.
Menurutnya, Thalasemia merupakan kelainan genetik yang menyebabkan tubuh gagal memproduksi sel darah merah secara normal. Gejala awal biasanya berupa pucat, lemas, dan mudah letih.
“Kalau anemia muncul berulang, harus curiga. Apalagi kalau anak tampak pucat terus,” jelasnya.
Dalam kondisi tertentu, penyakit ini bahkan dapat memunculkan perubahan bentuk wajah atau facies cooley akibat kerja sumsum tulang yang berlebihan.
Ketersediaan Darah Di RSUD Dr (HC) Ir Soekarno, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, empat anak tampak menjalani transfusi darah secara bersamaan di sebuah ruang perawatan, Rabu (13/5). Tiang infus berdiri seperti penjaga sunyi di sisi tempat tidur mereka. Mesin-mesin medis berbunyi pelan, memecah keheningan ruangan.
Di antara para pendamping itu, ada Fadia (40), yang setia menemani anak keduanya menjalani transfusi darah rutin akibat Thalasemia. Ia masih mengingat jelas saat pertama kali mengetahui anaknya mengidap penyakit tersebut ketika usia sang anak baru 11 bulan.
“Waktu itu kami kira cuma demam biasa atau tipes. Tapi setelah dicek, HBnya cuma 6,” ujar Fadia.
Dari pencarian informasi dan pemeriksaan lanjutan, dokter akhirnya memastikan anaknya mengidap Thalasemia. Sejak saat itu, hidup mereka berubah. Kini transfusi darah harus dilakukan rutin setiap tiga hingga empat minggu sekali agar kadar HB tetap stabil.
”Kalau tidak transfusi, kondisi anak bisa drop,” katanya.
Fadia mengaku seluruh biaya pengobatan memang ditanggung BPJS. Namun ada satu hal yang terus menjadi kekhawatiran para orang tua penyintas Thalasemia: ketersediaan darah.
| Terkuak Fakta Lama, Eks Pengikut Mengaku Setahun Jadi Korban Asusila Ashari Sejak 2013 |
|
|---|
| Daftar Terbaru 36 Nama Kapolda se-Indonesia Usai Kapolda Metro Jaya Naik Pangkat Irjen Jadi Komjen |
|
|---|
| Profil Indang Maryati, Kepala SMAN 1 Pontianak Tolak Final Ulang LCC: Bukan Protes Hasil Lomba |
|
|---|
| Harta Benda Nadiem Terancam Dilelang jika Kurun Waktu Sebulan Tak Bayar Rp5,6 T, Ini Daftar Asetnya |
|
|---|
| Cegah Penyebaran Virus Malaria, Pemkab Bangka Batasi Akses Masuk di Pantai Bubus dan Batu Atap |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20260515-Bangka-Pos-Hari-Ini-Jumat-1505202612.jpg)