Rabu, 20 Mei 2026

Tribunners

Menyalakan Lilin Sendiri, Tak Perlu Memadamkan Milik Orang Lain

Pastikan langkah kaki kita tidak menginjak orang lain. Pastikan tangan kita tidak pernah menyakiti atau merusak apa yang sudah orang lain usahakan

Tayang:
Editor: suhendri
Dokumentasi Eqi Fitri Marehan
Eqi Fitri Marehan, S.I.Kom. - Guru MTsS Bahrul Ulum Sungailiat, Bangka 

Oleh: Eqi Fitri Marehan, S.I.Kom. - Guru MTsS Bahrul Ulum Sungailiat 
 
ADA ungkapan sederhana namun sangat dalam maknanya: “Tidak perlu meniup lilin orang lain, hanya untuk membuat lilinmu lebih terang.” Kalimat ini seolah menjadi cermin bagi kita semua, tentang bagaimana seharusnya kita bersikap dalam menjalani hidup, mengejar rezeki, nama baik, maupun posisi di tengah masyarakat.

Sering kali tanpa sadar atau bahkan dengan sengaja, kita terjebak dalam pola pikir bahwa keberhasilan kita harus dibangun di atas kegagalan atau kerugian orang lain. Padahal, hidup ini begitu luas, rezeki itu beragam, dan kesempatan itu terbuka lebar bagi siapa saja yang mau berusaha dengan cara yang benar.
 
Kita semua tahu, bahwa pada dasarnya kita sama-sama sedang “mencari makan”. Bekerja keras, berjuang demi kehidupan yang layak, berusaha memberi nafkah bagi keluarga, dan mengejar cita-cita.

Banyak dari kita berada di tempat yang sama, bergerak di bidang yang sama, atau memiliki tujuan yang hampir serupa. Namun, pertanyaannya: apakah kesamaan itu harus berarti persaingan yang saling mematikan? Tentu tidak. 

Mencari rezeki di tempat yang sama bukan berarti kita harus saling menginjak, saling menjatuhkan, atau bahkan sengaja memecahkan piring orang lain yang sedang sedang menikmati hasil usahanya. Justru di sinilah letak ujian terbesar karakter seseorang. Seberapa besar kita bisa menjaga etika, sopan santun, dan rasa hormat, meskipun kita sedang berjuang di jalur yang berdekatan.
 
Ada pemahaman keliru yang masih melekat kuat di benak sebagian orang: “Kalau dia berhasil, berarti aku rugi.” “Kalau dia maju, berarti aku tertinggal.” Anggapan ini keliru besar. Rezeki dan keberhasilan tidak berjalan dengan sistem pembagian porsi yang terbatas, di mana bagian orang lain bertambah maka bagian kita berkurang. Tidak begitu aturannya.

Rezeki itu luas, datang dari arah yang tak terduga, dan Allah Swt telah menjaminnya bagi setiap makhluk-Nya. Bahkan, sering kali justru ketika kita ikhlas melihat orang lain berhasil, justru di situlah jalan rezeki kita sendiri makin terbuka lebar.

Menjatuhkan orang lain, merusak usahanya, atau menghalangi langkahnya, sama saja kita sedang menutup pintu berkah untuk diri sendiri. Ingatlah, piring kita akan tetap penuh dan aman, selama kita tidak menyibakkan isi piring orang lain hanya untuk mencari kesalahan atau kekurangannya.
 
Lebih menyedihkan lagi ketika perilaku saling menjatuhkan ini dilakukan semata-mata demi “mencari nama”. Inilah bentuk ambisi yang tidak sehat dan sangat merusak. Ada orang yang rela menjelekkan nama baik orang lain, menyebarkan berita yang belum tentu benar, atau menciptakan isu-isu negatif, hanya supaya dirinya terlihat lebih baik, lebih hebat, atau lebih dihargai di mata orang lain. Padahal, nama baik dan penghargaan tidak bisa dibeli atau dipaksa dengan cara seperti itu.

Nama baik itu dibangun lewat ketulusan, kerja keras, integritas, dan kebaikan yang nyata. Nama yang didapatkan dengan cara menindas, memfitnah, atau merendahkan orang lain, tidak akan bertahan lama. Seperti bangunan yang dibangun di atas pasir, sebentar saja akan runtuh saat diguncang ujian. Orang mungkin memuji sementara waktu, tetapi ketika tahu kebenarannya, justru nama itulah yang akan tercemar parah dan sulit diperbaiki kembali.
 
Menjadi terkenal, dihormati, atau dikenal banyak orang itu boleh-boleh saja. Itu wajar dan manusiawi. Namun, ingatlah batasnya: “Cari nama boleh, tetapi jangan sampai menjatuhkan nama orang lain, hanya demi mencari nama di mata orang lain.”

Kehormatan seseorang adalah hal yang paling berharga, hampir setara dengan nyawanya. Merusak kehormatan orang lain sama berat dosanya dan dampaknya dengan melukai fisiknya. Apalagi di zaman sekarang, di mana informasi menyebar begitu cepat, satu kata buruk yang kita ucapkan bisa menjadi api yang membakar banyak pihak, termasuk diri kita sendiri pada akhirnya. 

Orang yang benar-benar hebat dan berkarakter, tidak perlu berteriak atau menunjuk kekurangan orang lain agar dirinya dilihat. Cukup dengan hasil karya, sikap yang santun, dan prestasi yang murni, orang lain akan datang sendiri untuk memberi penghargaan.
 
Lihatlah mereka yang namanya harum sepanjang masa. Mereka yang dikenang karena kebaikannya, karena bantuannya, karena ia menjadi tempat berteduh bagi orang lain, bukan orang yang ditakuti karena suka menindas. Di lingkungan kerja, di organisasi, di lingkungan masyarakat, atau di mana pun kita berada, jadilah orang yang membuat suasana menjadi lebih baik, lebih damai, dan lebih nyaman. Jadilah bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.

Jadilah orang yang jika ada orang lain berhasil, kita ikut bahagia dan menjadikan itu motivasi. Jika ada orang lain sedang berjuang, kita justru berikan dukungan, bukan malah menabrak langkahnya. Persaingan yang sehat itu indah, persaingan yang memacu diri untuk lebih giat belajar dan bekerja, persaingan yang membuat kita makin berkualitas, bukan persaingan yang saling mematikan.
 
Kembali ke perumpamaan awal: Menyalakan lilin diri sendiri tidak akan pernah mengurangi cahaya lilin tetangga. Justru, makin banyak lilin yang menyala di sekitar kita, makin terang pula dunia di sekitar kita. Jika lilin orang lain padam karena kita tiup, maka yang tersisa hanyalah kegelapan di mana kita juga akan sulit berjalan. Tetapi jika kita saling menyalakan, saling menguatkan, dan saling menghargai, maka terang itu akan menyebar ke mana-mana, dan kita pun ikut menikmati kehangatannya.
 
Mari kita ubah pola pikir dan perilaku kita. Berjuanglah sekuat tenaga, kejar cita-cita setinggi langit, cari rezeki di mana saja pintu rezeki terbuka. Tetapi ingat satu hal yang paling penting: pastikan langkah kaki kita tidak menginjak orang lain. Pastikan tangan kita tidak pernah menyakiti atau merusak apa yang sudah orang lain usahakan. Pastikan mulut kita senantiasa menjaga lisan, menjaga nama baik diri sendiri, dan juga menjaga nama baik sesama manusia.

Karena pada akhirnya, kemenangan yang paling sejati bukanlah ketika kita menang sendirian dan orang lain kalah, melainkan ketika kita berhasil meraih apa yang kita cita-citakan, sambil tetap bisa tersenyum dan bersalaman dengan semua orang dengan hati yang bersih, bersyukur, dan damai. Itulah kemenangan yang sesungguhnya, kemenangan yang membawa keberkahan abadi. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved