Tribunners
Tunas Bangsa dan Masa Depan Indonesia Berdaulat
Kebangkitan bangsa harus dimaknai sebagai upaya bersama menjaga dan membina tunas-tunas bangsa agar mampu menjadi generasi yang berkarakter...
Penulis: Muhammad Isnaini
(Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Fatah Palembang)
Menjelang peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 tahun 2026, bangsa Indonesia kembali diajak merenungkan makna kebangkitan dalam konteks kekinian.
Jika dahulu kebangkitan nasional ditandai dengan lahirnya kesadaran kolektif untuk melawan penjajahan, maka hari ini kebangkitan bangsa harus dimaknai sebagai upaya bersama menjaga dan membina tunas-tunas bangsa agar mampu menjadi generasi yang berkarakter, cerdas, tangguh, serta memiliki semangat cinta tanah air.
Tema besar “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara” menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya.
Kedaulatan negara pada era modern tidak lagi hanya diukur dari kekuatan militer atau kekayaan sumber daya alam semata, melainkan juga dari kualitas sumber daya manusia.
Negara yang memiliki generasi muda unggul akan mampu bertahan menghadapi tantangan global, menjaga identitas kebangsaan, serta berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya.
Sebaliknya, negara yang gagal menjaga generasi mudanya akan menghadapi ancaman serius berupa krisis moral, lunturnya nasionalisme, hingga hilangnya daya saing bangsa.
Pada konteks itulah, tunas bangsa menjadi aset strategis yang harus dijaga bersama.
Anak-anak dan generasi muda hari ini adalah pemimpin masa depan.
Mereka bukan hanya pewaris bangsa, tetapi juga penentu arah peradaban Indonesia.
Oleh sebab itu, investasi terbesar bangsa sejatinya bukan hanya pembangunan fisik, melainkan pembangunan manusia yang berlandaskan ilmu pengetahuan, akhlak, dan nilai-nilai kebangsaan.
Tantangan generasi muda saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya.
Kemajuan teknologi digital membawa dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, teknologi membuka akses ilmu pengetahuan tanpa batas dan mempercepat lahirnya inovasi. Namun di sisi lain, ruang digital juga menghadirkan ancaman serius berupa penyebaran hoaks, ujaran kebencian, pornografi, radikalisme, hingga fenomena cyberbullying yang semakin marak di kalangan pelajar.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu diiringi dengan kematangan moral dan literasi digital.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Dekan-Fakultas-Sains-dan-Teknologi-UIN-Raden-Fatah-Palembang-Muhammad-Isnaini.jpg)