Sabtu, 23 Mei 2026

Berita Bangka Belitung

TBS Sawit Petani di Babel Dibeli Tengkulak Hanya Rp 1.750

Sudah tiga hari berturut harga TBS kelapa sawit di Bangka Belitung turun drastis, kini di bawah Rp 2.000 per kilogram.

Tayang:
Editor: Fitriadi
Bangkapos.com/Cepi Marlianto/Cepi Marlianto
TBS SAWIT -- Kondisi TBS kelapa sawit milik pengepul di Desa Bangka Kota, Kecamatan Simpangrimba, Kabupaten Bangka Selatan, Selasa (12/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Sudah tiga hari berturut harga TBS kelapa sawit di Bangka Belitung turun drastis.
  • TBS sawit petani di Desa Jeriji Bangka Selatan tinggal Rp 1.750 per kilogram.
  • DPKP ungkap penurunan dipengaruhi rendahnya harga CPO dan kernel periode 17–31 Mei 2026.

 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung turun drastis.

Penurunan harga TBS sawit terjadi berantai mulai dari tingkat petani hingga ke pabrik.

Di tingkat petani, harga TBS kelapa sawit dihargai di bawah Rp 2.000 per kilogram.

Sedangkan di tingkat pabrik berkisar Rp 2.000 lebih per kg.

Sebelumnya harga sawit di Bangka Belitung sempat menembus lebih dari Rp 3.000 per kg.

Anjloknya harga TBS sawit sudah terjadi sekitar empat hari ini.

Setiap hari harganya terus menurun.

Petani sawit muda asal Desa Jeriji, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Yanto mengeluhkan anjloknya harga TBS kelapa sawit. 

Yanto menyebut harga jual ke pabrik turun drastis dari Rp 3.080 per kilogram menjadi Rp 2.700, kemudian kembali turun menjadi Rp 2.400 dan pada Jumat (22/5/2026) berada di angka Rp 2.250 per kg.

Sementara itu, harga di tingkat petani kepada tengkulak hanya berkisar Rp 1.750 per kg. 

"Pembayarannya pun 70 persen setelah bongkar dari pabrik baru duit dilunasi. Harga turun ini bukan masalah pabrik ramai, seluruh pengiriman CPO anjlok, seluruh Indonesia bukan di Babel saja," kata Yanto kepada Bangkapos.com, Jumat (22/5/2026).

Yanto mengatakan, anjloknya harga TBS kelapa sawit bukan hanya terjadi di Kabupaten Bangka Selatan, melainkan hampir di seluruh daerah penghasil sawit di Indonesia. 

"Bukan masalah pabrik ramai. Seluruh pengiriman CPO anjlok, bukan hanya di Basel," ujarnya.

Yanto menduga, kondisi tersebut dipengaruhi kebijakan pemerintah pusat terkait sistem ekspor distribusi komoditas strategis seperti CPO dan batu bara yang akan diberlakukan melalui satu pintu BUMN.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved