Tribunners
Menimbang Makna Kurban di Era Digital
Dalam dunia yang makin visual ini, kita perlu memperkuat literasi spiritual bahwa kurban adalah soal hati, bukan soal citra.
Sayangnya, makna mendalam ini kerap tertutupi oleh hiruk pikuk soal harga dan gengsi. Padahal, esensi kurban tidak terletak pada nilai sapi limosin yang bisa mencapai puluhan juta rupiah, melainkan pada ketulusan berbagi dengan mereka yang benar-benar membutuhkan.
Dalam Al-Qur'an Surah Al-Hajj ayat 37, Allah berfirman: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama dari ibadah kurban bukan terletak pada aspek fisiknya semata, tetapi juga pada ketakwaan dan keikhlasan niat seorang muslim dalam menaati perintah Allah.
Jika kita kembali pada hakikatnya, pertanyaan yang paling penting bukanlah “sapi atau kambing”, melainkan, apakah niat kita benar-benar tulus? Apakah kita memberi dari yang terbaik, atau hanya dari sisa rezeki? Apakah kurban kita memberi manfaat bagi sesama, atau sekadar menjadi ritual tahunan tanpa jiwa?
Iduladha seharusnya tidak menjadi perayaan tentang kita. Bukan soal kenyamanan pribadi, bukan tentang daging yang kita konsumsi, tetapi tentang mereka yang menerima. Tentang tetangga yang hidup serba kekurangan. Tentang anak-anak yatim yang jarang mencicipi daging. Tentang masyarakat kecil yang menanti hari besar ini untuk bisa sedikit merasakan kemewahan dari sepotong daging yang bagi kita mungkin biasa saja.
Tentu kita boleh saja berdiskusi tentang jenis hewan, nilai gizi, harga pasar, atau bahkan tren kurban digital. Mungkin memang sudah waktunya kita membangun ulang narasi tentang kurban. Narasi yang tidak menjadikan kemewahan sebagai ukuran utama, tapi menekankan ketulusan. Yang mendorong lahirnya solidaritas sosial, bukan adu gengsi.
Saatnya, lembaga sosial dan tokoh agama untuk mulai merumuskan etika publikasi kurban di era digital. Karena dalam dunia yang makin visual ini, kita perlu memperkuat literasi spiritual bahwa kurban adalah soal hati, bukan soal citra.
| Ketika Pinjol Lebih Cepat dari Bank, Potret Keuangan Masyarakat Bangka Belitung |
|
|---|
| Merah Marun Noktah Biru, si Cantik Ikan Mungil dari Pulau Bangka |
|
|---|
| SPMB Bukan Sekadar Seleksi, tetapi Ujian Integritas Pelayanan Publik |
|
|---|
| Melampaui Angka 17.700: Rapuhnya Rupiah dalam Ilusi Moneter Kontemporer dan Urgensi Jangkar Riil |
|
|---|
| Pengendalian Inflasi Prediktif dan Partisipatif untuk Stabilitas Harga di Pangkalpinang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250305_Fathurozi.jpg)