Senin, 1 Juni 2026

Berita Bangka

Kisah Asep dan Sisa Hidup yang Bertumpu pada Satu Lengan

Sebuah kendaraan bermuatan bahan bangunan hilang kendali dan menghantam tubuhnya hingga terjerembab

Tayang:
Penulis: Adi Saputra | Editor: Ardhina Trisila Sakti
Bangkapos.com/Adi Saputra
Asep buruh harian asal Lampung Tengah, yang alami laka kerja hingga tangan harus diamputasi saat ditemui di rumah saudaranya, Senin (1/6/2026) 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Cahaya matahari sore menerobos malu-malu melalui sela-sela gorden biru bermotif bintang yang mulai memudar, Senin (1/6/2026).

Di sudut ruangan sederhana itu, seorang pria paruh baya duduk membisu. Tanpa helai baju yang menutupi dadanya, tatapan matanya lurus menembus dinding kosong.

Ada kelelahan luar biasa yang tersirat di sana, namun berkelindan erat dengan sebuah ketabahan yang dipaksakan.

​Nama pria itu Asep. Usianya 55 tahun. Di lengan kirinya, sepotong perban putih melingkar erat dari tragedi yang memilukan.

Pria asal Lampung Tengah ini baru saja kehilangan separuh dari pilar hidupnya, hari itu berjalan seperti biasa.

Sebagai seorang buruh bangunan, Asep mengadu nasib di kawasan Kudai, Sungailiat, Bangka.

Pukul sembilan pagi, saat matahari mulai menyengat, Asep sedang sibuk memasang kabel di area proyek.
​Namun, takdir berbelok tajam dalam hitungan detik.

Sebuah kendaraan bermuatan bahan bangunan hilang kendali dan menghantam tubuhnya hingga terjerembab. Seketika, dunia Asep menjadi gelap gulita.

​"Setelah kejadian saya tidak sadarkan diri. Tahu-tahu saat tersadar, saya sudah berada di rumah sakit dan tangan kiri saya sudah diamputasi," kenang Asep lirih.

​Suaranya bergetar, namun tidak ada air mata yang jatuh, hanya ada rasa tidak percaya yang masih menggelayut di kepalanya.

​"Saya tidak menyangka kejadian itu menimpa saya. Untungnya saya masih selamat, meski tangan harus diamputasi," ucapnya.

​Selamat dari kecelakaan maut adalah mukjizat, namun bertahan hidup setelahnya adalah perjuangan lain yang tak kalah berdarah-darah.

Di balik trauma psikologis yang begitu hebat, isi kepala Asep langsung dipenuhi oleh bayang-bayang masa depan anak dan istrinya.

​Sebagai tulang punggung keluarga, hilangnya lengan kiri bukan sekadar kehilangan anggota tubuh, melainkan hilangnya alat utama untuk mencari nafkah. 

Selama ini, biaya pengobatan darurat di rumah sakit pun berhasil tertutupi berkat kebaikan dan uluran tangan warga sekitar yang bergotong-royong.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved