Selasa, 2 Juni 2026

Berita Bangka

Kisah Asep dan Sisa Hidup yang Bertumpu pada Satu Lengan

Sebuah kendaraan bermuatan bahan bangunan hilang kendali dan menghantam tubuhnya hingga terjerembab

Tayang:
Penulis: Adi Saputra | Editor: Ardhina Trisila Sakti
Bangkapos.com/Adi Saputra
Asep buruh harian asal Lampung Tengah, yang alami laka kerja hingga tangan harus diamputasi saat ditemui di rumah saudaranya, Senin (1/6/2026) 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Cahaya matahari sore menerobos malu-malu melalui sela-sela gorden biru bermotif bintang yang mulai memudar, Senin (1/6/2026).

Di sudut ruangan sederhana itu, seorang pria paruh baya duduk membisu. Tanpa helai baju yang menutupi dadanya, tatapan matanya lurus menembus dinding kosong.

Ada kelelahan luar biasa yang tersirat di sana, namun berkelindan erat dengan sebuah ketabahan yang dipaksakan.

​Nama pria itu Asep. Usianya 55 tahun. Di lengan kirinya, sepotong perban putih melingkar erat dari tragedi yang memilukan.

Pria asal Lampung Tengah ini baru saja kehilangan separuh dari pilar hidupnya, hari itu berjalan seperti biasa.

Sebagai seorang buruh bangunan, Asep mengadu nasib di kawasan Kudai, Sungailiat, Bangka.

Pukul sembilan pagi, saat matahari mulai menyengat, Asep sedang sibuk memasang kabel di area proyek.
​Namun, takdir berbelok tajam dalam hitungan detik.

Sebuah kendaraan bermuatan bahan bangunan hilang kendali dan menghantam tubuhnya hingga terjerembab. Seketika, dunia Asep menjadi gelap gulita.

​"Setelah kejadian saya tidak sadarkan diri. Tahu-tahu saat tersadar, saya sudah berada di rumah sakit dan tangan kiri saya sudah diamputasi," kenang Asep lirih.

​Suaranya bergetar, namun tidak ada air mata yang jatuh, hanya ada rasa tidak percaya yang masih menggelayut di kepalanya.

​"Saya tidak menyangka kejadian itu menimpa saya. Untungnya saya masih selamat, meski tangan harus diamputasi," ucapnya.

​Selamat dari kecelakaan maut adalah mukjizat, namun bertahan hidup setelahnya adalah perjuangan lain yang tak kalah berdarah-darah.

Di balik trauma psikologis yang begitu hebat, isi kepala Asep langsung dipenuhi oleh bayang-bayang masa depan anak dan istrinya.

​Sebagai tulang punggung keluarga, hilangnya lengan kiri bukan sekadar kehilangan anggota tubuh, melainkan hilangnya alat utama untuk mencari nafkah. 

Selama ini, biaya pengobatan darurat di rumah sakit pun berhasil tertutupi berkat kebaikan dan uluran tangan warga sekitar yang bergotong-royong.

​Kini, setelah keluar dari ruang perawatan, realitas pahit mulai menagih jawaban bayang-bayang kecelakaan kerja masih kerap menghantui benak Asep setiap kali ia memejamkan mata.

Tanpa keahlian lain selain kerja kasar, opsi untuk menyambung hidup kini kian menyempit dan Asep kini sangat mengharapkan adanya kepedulian dan uluran tangan dari pihak-pihak yang tergetuk hatinya.

​"Saya beruntung masih hidup. Tapi saya juga bingung, bagaimana saya bisa kembali bekerja dan menghidupi keluarga. Saya harap adanya bantuan dan kepedulian terhadap saya," ujarnya penuh harap.

​Kini, di bawah gorden bintang yang kusam itu, jalannya hidup Asep resmi berubah. Separuh kekuatannya telah tiada dan seluruh harapan masa depan keluarganya kini bertumpu sepenuhnya pada satu lengan kanan yang tersisa.

"Kemarin saja berobat di rumah sakit atas bantuan dari teman-teman, ini saja saya numpang di rumah saudara dan mengontrak di Pangkalpinang," ungkapnya.

Dibalik harapan besar itu, Asep masih terlihat tegar meski tangan kirinya sudah diamputasi akibat kecelakaan kerja di lokasi kerja.

(Bangkapos.com/Adi Saputra)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved