Breaking News
Senin, 8 Juni 2026

Berita Pangkalpinang

Emas Makin Berkilau, Akademisi Sebut Ekonomi Daerah Perlu Waspada

Devi Valeriani, mengatakan kenaikan harga emas bukan sekadar persoalan investasi, namun juga merupakan cermin meningkatnya ketidakpastian

Tayang:
Penulis: Rizki Irianda Pahlevy | Editor: Hendra
Bangkapos.com/Erlangga
Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung, Devi Valeriani 

BANGKAPOS.COM,BANGKA - Harga emas kembali menjadi perbincangan utama masyarakat sepanjang tahun 2026. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, emas menunjukkan perannya sebagai aset lindung nilai (safe haven) yang paling dipercaya masyarakat.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di pusat-pusat ekonomi nasional, tetapi juga terasa hingga daerah Bangka Belitung, di mana aktivitas pembelian emas semakin meningkat seiring lonjakan harga yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Sepanjang tahun 2026, harga emas Antam sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di level Rp3,168 juta per gram pada akhir Januari 2026.

Setelah itu, harga bergerak sangat fluktuatif. Emas sempat bertahan di kisaran Rp2,8–2,9 juta per gram sebelum mengalami koreksi pada Mei hingga awal Juni 2026 ke kisaran Rp2,74–2,77 juta per gram.

Meski terkoreksi, level harga tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bangka Belitung, Devi Valeriani, mengatakan kenaikan harga emas bukan sekadar persoalan investasi, namun juga merupakan cermin meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

“Ketika investor dunia khawatir terhadap perlambatan ekonomi, inflasi, konflik geopolitik, dan ketidakpastian pasar keuangan, masyarakat berbondong-bondong mengalihkan dana ke emas sebagai aset aman sehingga harga emas dunia dan domestik mengalami penguatan signifikan,” ujar Devi Valeriani, Senin (8/6/2026).

Perkembangan geopolitik global juga menjadi faktor penting. Menurutnya, ketegangan di Timur Tengah, konflik yang terus bereskalasi, serta risiko gangguan rantai pasok energi dunia telah meningkatkan kekhawatiran pasar.

Kondisi ini menyebabkan emas selalu menjadi instrumen pelarian modal yang paling dicari investor global.

“Dari sudut pandang masyarakat Bangka Belitung, kenaikan harga emas menghadirkan dua sisi yang berbeda. Bagi masyarakat yang telah lama menyimpan emas sebagai tabungan, kenaikan harga memberikan keuntungan nilai aset yang signifikan. Masyarakat yang membeli emas beberapa tahun lalu kini menikmati capital gain yang cukup besar,” bebernya.

Namun, bagi masyarakat yang baru ingin membeli emas, situasinya justru menjadi lebih berat karena daya beli terhadap emas menurun. Harga yang semakin tinggi membuat masyarakat harus mengeluarkan dana lebih besar untuk mendapatkan jumlah gram yang sama.

“Kondisi ini terutama dirasakan oleh kelompok menengah dan masyarakat muda yang baru mulai berinvestasi. Fenomena menarik yang terjadi adalah semakin banyak masyarakat yang beralih dari tabungan konvensional menuju investasi emas,” jelasnya.

Devi mengatakan hal ini menunjukkan adanya perubahan perilaku keuangan masyarakat. Kepercayaan terhadap emas sebagai instrumen penyimpan nilai semakin kuat dibandingkan instrumen keuangan lainnya yang dianggap lebih berisiko.

“Meski demikian, euforia terhadap emas perlu disikapi secara hati-hati. Banyak masyarakat membeli emas saat harga sedang tinggi karena takut ketinggalan momentum. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa harga emas juga dapat mengalami koreksi tajam dalam jangka pendek, sebagaimana yang terjadi pada April hingga Mei 2026 ketika terjadi penurunan harga puluhan ribu rupiah per gram hanya dalam hitungan hari,” tuturnya.

Di Pangkalpinang, meningkatnya minat masyarakat terhadap emas juga memberikan dampak ekonomi lokal.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved