Senin, 1 Juni 2026

Resonansi

Si Angsa Hitam

Andi Widjajanto menganggap intelijen pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kebobolan karena tidak bisa menghalau kerusuhan.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Ade Mayasanto | Editor: Fitriadi
Dok. Ade Mayasanto
Ade Mayasanto, Editor in Chief Bangka Pos/Pos Belitung. 

Ade Mayasanto, S.Pd., M.M.

Editor in Chief 
Bangka Pos/Pos Belitung

DAHULU kala saat Eropa berada di abad ke-17, semua orang meyakini bahwa semua angsa berwarna putih.

Angsa-angsa ini kerap terlihat berada di alam liar mereka. Namun, pada tahun 1697, keyakinan mereka patah.

Adalah Willem de Vlamingh, penyebab keyakinan orang Eropa soal tiada angsa berwarna putih berubah.

Willem de Vlamingh merupakan seorang kapten kapal Belanda dari Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Pada tahun 1697, ia memimpin ekspedisi untuk menjelajahi pantai barat Australia.

Dalam perjalanannya, ia dan kru singgah di Sungai Swan (Swan River) di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Perth, Australia Barat.

Di sungai itulah mereka menemukan burung besar berleher panjang, yang seluruh bulunya berwarna hitam.

Hewan ini serupa dengan angsa putih yang dikenal di Eropa.

Baca juga: Angka Bisu

Penemuan soal angsa hitam lalu dibawa ke Eropa. 

Dari sinilah kemudian, muncul black swan alias angsa hitam.

Angsa hitam ini kemudian menjadi simbol bahwa sesuatu yang dianggap mustahil ternyata bisa nyata.

Waktu berlalu. Pada abad ke-18 filsuf Inggris John Stuart Mill menggunakan istilah “black swan” untuk menjelaskan kesalahan generalisasi bahwa hanya karena semua angsa yang kita lihat putih, bukan berarti semua angsa di dunia putih.

Dan pada 2007, istilah ini makin populer lewat buku Nassim Nicholas Taleb The Black Swan, yang mengaitkannya dengan kejadian langka, sulit diprediksi, tapi berdampak besar.

Pada September 2025, Penasihat Senior Lab 45 Andi Widjajanto mengingatkan kembali perihal angsa hitam.

Istilah angsa hitam ini muncul dalam obrolan di program Gaspol, Kompas.com. 

Disebutkan, Andi Widjajanto menganggap intelijen pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kebobolan karena tidak bisa menghalau kerusuhan yang terjadi pada 25-31 Agustus 2025.

Ia menceritakan, dalam komunitas intelijen, skenario terburuk disebut dengan istilah angsa hitam.

Sementara, pada kerusuhan yang lalu, angsa hitam itu tidak berhasil dihancurkan oleh intelijen.

Baginya, saat ini kelompok intelijen yang dimiliki oleh negara harus duduk bersama untuk bisa menemukan angsa hitam tersebut.

Tanpa langkah tersebut, kerusuhan serupa sangat mungkin terjadi lagi.

Baca juga: Mengungkap Tanya

Keberadaan si angsa hitam ini juga mengingatkan soal jurnal internasional yang dituliskan Aden C. Magee, berjudul Counterintelligence Black Swan: KGB Deception, Countersurveillance, and Active Measures Operation. 

Aden C. Magee adalah seorang profesional kontraintelijen Amerika Serikat, pernah menjabat sebagai petugas intelijen militer (US Army) dan juga memiliki keterlibatan dengan lembaga pemerintah seperti Department of Defense dan Homeland Security. 

Kembali ke Si Angsa Hitam. Magee menjelaskan si Angsa Hitam melalui peristiwa kontraintelijen di Muenchen.

Peristiwa bermula pada pukul 19.30 Waktu setempat.

Udara musim dingin di Munchen terasa hingga menusuk tulang. Jalanan kota tua sepi, hanya sesekali mobil melintas.

Namun, di balik ketenangan itu, sebuah operasi rahasia sedang berlangsung.

Tim kontraintelijen Amerika Serikat, berjumlah belasan agen, bersiaga di beberapa titik.

Mereka ini ada yang duduk di mobil sipil, ada yang berjalan kaki, sementara radio komunikasi berdesis pelan.

Malam itu mereka punya target, yakni dua agen Soviet yang dijuluki Zulu 1 dan Zulu 2.

Baca juga: Sudut Pandang

Rencana awal sebenarnya terbilang sederhana. 

Mengawasi, mencatat pola, dan melaporkan ke markas.

Operasi jenis ini sudah berulang kali dilakukan.

Namun ada yang janggal sejak sore. Plat nomor kendaraan target tiba-tiba berganti. Rute mereka tak lazim.

Target yang semula melintasi distrik sepi, tetiba berbelok ke jalur menuju perbatasan Austria.

Para agen mencatat, tapi tak seorang pun menduga apa yang akan terjadi berikutnya.

Sekitar pukul 21.00, tim pengawas mulai merasakan perbedaan lain.

Mobil yang mereka kira mengikuti target justru kehilangan jejak.

Ketika salah satu agen berusaha memutar balik, ia melihat sesuatu yang tak biasa.

Sebuah sedan hitam yang sejak tadi menempel, kini justru mengikuti mobil pengintai intelijen AS.

Sinyal radio mendadak ramai.

Suara agen terdengar tegang. Sebab, situasi kini berbalik.

Mereka yang semula pengawas, malah berbalik diawasi.

Di tempat lain, dua agen AS yang berjalan kaki melaporkan hal serupa.

Bayangan pria berjas gelap mengikuti langkah mereka dari kejauhan.

Tak lama, sebuah kendaraan van melintas pelan, lampunya menyorot ke arah agen. Ini bukan kebetulan. Intelijen Soviet hanya pamer kekuatan.

Ketegangan malam itu tak hanya terjadi di jalan.

Beberapa jam sebelumnya, tim administrasi lapangan juga mendapati kejanggalan.

Izin resmi untuk kendaraan pengintai ternyata sudah dikenali pihak lain.

Dokumen yang seharusnya aman bocor ke tangan Soviet. Plat nomor, identitas penyamaran, bahkan jalur komunikasi alternatif. Semuanya terendus.

KGB tampaknya telah menyiapkan perangkap.

Operasi kontra-pengawasan mereka bukan reaktif, melainkan proaktif.

Setiap langkah agen AS sudah diprediksi.

Seolah mereka telah menyiapkan cerminan, lalu dibalikkan menjadi bumerang.

Menjelang tengah malam, suasana berubah menjadi permainan kucing dan tikus.

Mobil-mobil Soviet menyalip, memperlambat, lalu menutup jalur.

Baca juga: Akal Imitasi

Agen AS mencoba bertahan, tetapi manuver musuh membuat mereka tak bisa menjaga posisi. 

Komunikasi radio penuh kode, beberapa transmisi dipotong atau terganggu.

Tidak ada peluru ditembakkan, tidak ada ledakan.

Tetapi bagi para agen, malam itu adalah pertempuran penuh.

Lawan menekan bukan dengan senjata, melainkan dengan ilusi, intimidasi, dan permainan psikologis.

Setiap langkah terasa diawasi, setiap manuver dibalas dengan kejutan.

Menjelang dini hari, operasi dinyatakan gagal.

Target hilang di dekat jalur perbatasan Austria.

Tim AS ditarik mundur dengan kerugian besar.  

Bukan hanya kehilangan jejak, tapi juga kehilangan rasa aman.

Di laporan internal, peristiwa Munchen dicatat sebagai salah satu pengalaman paling memalukan menjelang bubarnya Uni Soviet.

Di mata sejarawan intelijen, inilah bukti betapa licinnya KGB memainkan penipuan, misdirection, dan provokasi.

Ringkasan Berita:
  • Istilah Angsa Hitam: Berawal dari penemuan angsa hitam tahun 1697, istilah ini jadi simbol kejadian langka berdampak besar.
  • Peringatan Intelijen Indonesia: Kerusuhan Agustus 2025 disebut “angsa hitam” yang gagal diantisipasi, perlu koordinasi intelijen lebih kuat.
  • Pelajaran dari Operasi Munchen: KGB sukses membalik operasi AS, bukti pentingnya kesiapsiagaan menghadapi skenario tak terduga.

 

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved