Resonansi
Asa dari Ciseeng
Analisa pengamat ekonomi, keadaan ekonomi negeri tengah belajar berdiri lebih tegak setelah diterpa berbagai guncangan.
Penulis: Ade Mayasanto | Editor: Fitriadi
Yang tak kalah garang, media sosial juga penuh perdebatan. Kadang panas, dan kadang melelahkan. Lagi-lagi, semua diminta untuk belajar berpikir jernih, tidak membenci dan tetap percaya bahwa perubahan lahir dari akal sehat serta hati nurani.
Nyanyian celoteh orangtua di kampung halaman juga dikumandangkan. Realitas tidak selalu ideal. Tetapi, justru di situ karakter ditempa.
Karakter butuh ketangguhan, ujian kejujuran, dan tetap tumbuh bukan hanya dari kepintaran, tetapi keberanian dan rasa empati.
Uniknya, keberhasilan justru lahir dari masa-masa sederhana, saat lampu rumah redup, diskusi kecil yang bersahutan di malam hari. Dan satu lagi, doa panjang yang ditumpahkan saat semua orang terlelap dalam kesunyian.
Dalam doa di kesunyian, ada harapan kehadiran investasi yang menyerap banyak tenaga kerja. Ada doa ketika tenaga kerja terserap banyak, ada peningkatan pendapatan sekaligus belanja masyarakat.
Ketika investasi masuk dalam ranah padat modal, doa yang lain adalah pemerintah segera memproteksi pasar agar komoditas impor tidak ikut bergerilya mendulang cuan di dalam negeri.
Pemerintah pun bisa memberikan stimulus dan insentif produsen domestic agar kompetitif di pasar global.
Doa lain yang tak boleh ketinggalan adalah stimulus kenaikan konsumsi masyarakat. Programnya sudah banyak berseliweran. Namun yang dinanti-nanti adalah program itu menetes hingga level masyarakat.
Ada keikutsertaan masyarakat mulai dari level petani, nelayan, peternak, ibu rumah tangga dan masyarakat lokal, bukannya hanya mengendap di kalangan tertentu saja.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Ade-Mayasanto.jpg)