Senin, 18 Mei 2026

Prabowo Targetkan 1.000 Desa Nelayan Dibangun 2026, Lengkap Pabrik Es dan Akses Ekspor

Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan 1.000 desa nelayan pada 2026 dengan fasilitas pabrik es, cold storage, dermaga, kapal

Tayang:
Penulis: M Zulkodri CC | Editor: M Zulkodri
Bangkapos.com/dok
Prabowo Targetkan 1.000 Desa Nelayan Dibangun 2026, Lengkap Pabrik Es dan Akses Ekspor. foto Perahu nelayan di TPI Ketapang, Pangkalpinang, 

Ringkasan Berita:
  • Prabowo Subianto menargetkan pembangunan 1.000 desa nelayan pada 2026 sebagai bagian penguatan sektor kelautan.
  • Setiap desa akan dilengkapi pabrik es, cold storage, dermaga, kapal, dan dikelola melalui koperasi dengan dukungan pembiayaan serta akses ekspor langsung.

 

BANGKAPOS.COM--Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan 1.000 desa nelayan pada 2026 sebagai bagian dari strategi besar memperkuat sektor kelautan nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Program ini digagas untuk membenahi berbagai persoalan klasik yang selama ini dihadapi nelayan, mulai dari keterbatasan fasilitas penyimpanan hingga sulitnya akses pasar.

Komitmen tersebut disampaikan Prabowo dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026, Jumat (12/2/2026).

Ia menegaskan, pembangunan desa nelayan bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan pembentukan ekosistem ekonomi terpadu yang dikelola secara kolektif melalui koperasi.

“Sejak RI berdiri, nelayan belum dapat perhatian. Mereka tidak punya es, belum ada pabrik es di desa mereka. Mereka sulit dapat solar, mereka sulit dapat akses ke pasar. Ini kami ubah,” ujar Prabowo.

Bangun Ekosistem Terintegrasi

Dalam skema yang dirancang pemerintah, setiap desa nelayan akan dilengkapi fasilitas utama seperti pabrik es dan cold storage atau gudang berpendingin untuk menjaga kualitas hasil tangkapan.

Selain itu, pemerintah akan membangun dermaga yang memadai, menyediakan kapal penunjang, serta kendaraan distribusi untuk memperlancar rantai pasok.

Menurut Prabowo, selama ini banyak nelayan terpaksa menjual hasil tangkapan dengan harga rendah karena tidak memiliki fasilitas penyimpanan yang layak.

Tanpa es dan cold storage, ikan harus segera dijual sebelum kualitasnya menurun. Kondisi ini membuat posisi tawar nelayan sangat lemah.

Dengan hadirnya fasilitas tersebut, diharapkan nelayan dapat menyimpan hasil tangkapan lebih lama, memilih waktu penjualan yang tepat, serta menjangkau pasar yang lebih luas.

Dikelola Melalui Koperasi

Seluruh fasilitas dan aktivitas ekonomi desa nelayan akan diorganisasi dalam bentuk koperasi.

Model ini dipilih agar pengelolaan produksi, distribusi, hingga pembiayaan dilakukan secara kolektif oleh para nelayan sendiri.

Melalui koperasi, nelayan tidak hanya menjadi penangkap ikan, tetapi juga pemilik sistem distribusi dan pengolahan.

Pemerintah menilai pendekatan ini dapat memperkuat posisi tawar nelayan dalam rantai perdagangan perikanan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved