Rabu, 22 April 2026

Resonansi

Ayatollah Ali Khamenei 

Sebelum meninggal, Khamenei berulang kali membeberkan bahwa pembunuhan dirinya oleh Amerika Serikat hanya soal waktu. 

Penulis: Ade Mayasanto | Editor: Fitriadi
Dok. Ade Mayasanto
Ade Mayasanto, Editor in Chief Bangka Pos/Pos Belitung. 

Namun demikian, kematian yang dinanti Khamenei dalam perang, justru bagi sebagian orang mengkhawatirkan. Sebab, dia datang dengan dua wajah, yakni fakta biologis dan peristiwa simbolik.

Tubuh boleh saja berhenti, tetapi makna justru bergerak, berlari cepat. Tanpa waktu panjang, ia bakal menjalar ke ruang-ruang tak terlihat. Makna itu masuk dalam ingatan, ketakutan, kalkulasi sekaligus harapan.

Kematian seorang pemimpin secara tragis itu tak lagi milik individu. Ia menjadi milik sejarah. Meski terkadang, seperti kita tahu tidak pernah berlaku netral.

Dalam filsafat eksistensial, kematian adalah batas terakhir yang memberi makna pada kehidupan. Tanpa kematian, hidup akan kehilangan urgensinya. 

Tetapi dalam politik, kematian sering digunakan untuk memperpanjang kehidupan sebuah ideologi.

Seorang pemimpin yang mati bisa menjadi martir. Martir adalah sosok yang tidak lagi bisa ditentang, karena ia telah melampaui dunia kompromi.

Ia menjadi simbol absolut. Simbol yang bisa menggerakkan jutaan orang. Simbol ini berbahaya bukan karena kelemahannya, tetapi karena kesempurnaannya. 

Sementara dalam geopolitik, kematian seorang pemimpin bukanlah akhir, melainkan pembukaan babak baru.

Negara bukanlah tubuh biologis. Ia adalah konstruksi yang hidup dari mitos, institusi, dan legitimasi. Seorang pemimpin bisa mati, tetapi struktur yang menopangnya bisa justru mengeras.

Tragedi kematian seorang pemimpin bukan bicara soal penderitaan. Tragedi itu menguatkan perspektif bahwa manusia tidak memiliki kemampuan berlebih atas konsekuensi tindakannya sendiri. 

Tengok saja, setiap keputusan geopolitik yang dibuat dengan keyakinan menghasilkan keamanan, beberapa kali mendorong ketidakamanan yang lebih luas. 

Ini bukan karena para pemimpin selalu salah. Ini karena dunia terlalu kompleks untuk dikendalikan sepenuhnya.

Filsuf Yunani kuno menyebutnya hubris, yakni kesombongan manusia yang percaya bahwa ia bisa mengendalikan nasib.  

Sayangnya, dalam tragedi Yunani, hubris selalu diikuti oleh nemesis. Pembalasan yang tak terhindarkan.

Pendek kata, kematian seorang pemimpin bukanlah akhir dari cerita. Ia adalah jeda, sebuah koma dalam kalimat panjang yang belum selesai.

Dan dalam jeda itu, dunia menahan napas seraya menunggu apa yang akan datang berikutnya. 

Sumber: bangkapos
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved