Selasa, 21 April 2026

Resonansi

Jeda Koma di Selat Hormuz

Ketika Iran membuka dan kemudian menutup lagi dalam hitungan jam, Selat Hormuz bukan lagi sekedar arus lalu lintas

Penulis: Ade Mayasanto | Editor: Fitriadi
Dok. Ade Mayasanto
Ade Mayasanto, Editor in Chief Bangka Pos/Pos Belitung. 

Ade Mayasanto, S.Pd., M.M.

Editor in Chief 
Bangka Pos/Pos Belitung

 

Selat Hormuz. Di peta, ia hanya garis sempit yang memisahkan dua daratan. Titik sempit yang kabarnya terbentuk secara alami selama jutaan tahun.

Pembentukannya pun karena pergeseran lempeng tektonik dan kenaikan permukaan laut yang ditengarai gegara pencairan lapisan es glasial. 

Untuk Selat Hormuz, catatan Amy Mckeever di laman National Geographic menorehkan cerita bahwa proses itu dimulai sekitar 35 juta tahun yang lalu, saat dua lempeng benua bergesekan. Satu lempeng Arab di Selatan, dan lempeng Eurasia di utara. 

Yang paling penting, pergesekan dua lempeng benua itu memberikan wilayah di sekitar Selat Hormuz cadangan minyak yang luar biasa.

Persamuhan lempeng Arab dengan Eurasia mengumpulkan semua jenis bantuan yang apik untuk membentuk cadangan minyak dan gas.

Lempeng itu lalu menjebak kantong minyak dan gas di bawah batuan di ujung utara lempeng Arab. Kantong-kantong itu berada di Iran, Irak dan sebagian Suriah. 

Nah, masalah muncul saat minyak dan gas dibawa keluar. Apalagi, untuk mengangkut minyak dan gas ke seluruh dunia, Selat Hormuz adalah jalurnya.

Tengok saja, meski sempit, selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Sementara secara daratan, selat ini memisahkan bagian Selatan Iran dengan wilayah Oman, dan Uni Emirat Arab. 

Tak ayal, Selat Hormuz merupakan rute pelayaran minyak dan gas bervolume kakap.

Sekitar seperempat perdagangan minyak dunia melalui laut melewati Selat Hormuz.

Jalur air selebar sekira 48 km itu menjadi salah satu titik sempit alias checkpoint maritim paling menonjol di dunia. 

Namun, berbeda cerita ketika Selat Hormuz di kepala para Jenderal. 

Selat Hormuz adalah urat nadi dunia. Tempat minyak menjadi bahasa, dan kapal tanker menjadi pengabar narasi keberuntungan.

Oleh karena itu, ketika Iran membuka dan kemudian menutup lagi dalam hitungan jam, Selat Hormuz bukan lagi sekedar arus lalu lintas. Ia menjadi pengabar atas percakapan global. 

Percakapan yang lirih berwujud ancaman, kecemasan tanpa metafora pada Sabtu, 18 April 2026.

Saat itu, Iran akhirnya memilih menutup Selat Hormuz setelah sempat membuka jalur dan memperbolehkan rombongan tanker melintas.

Penutupan dilakukan karena Amerika Serikat dianggap melanggar janji. 

AS ditengarai tetap memberlakukan blokade pada pelabuhan-pelabuhan Iran

Blokade Angkatan Laut AS terhadap Pelabuhan Iran tetap berlaku penuh hingga Uwak Sam mencapai kesepakatan dengan Iran.

Tak ambil pusing, Komando gabungan militer Iran berbalik arah.

Mereka menyatakan kendali atas Selat Hormuz kembali ke keadaan semula, yakni di bawah pengelolaan dan pengawasan ketat Angkatan bersenjata.

Jeda yang semula kita kira menjadi tanda titik, ternyata hanya koma.

Jeda yang sempat ada, justru mirip seperti kabut. Muncul sebentar lalu menghilang ketika matahari mengantongi kepentingan.

Atas peristiwa di Selat Hormuz itu, para pihak kembali mendapatkan penanda. Penanda bahwa selat Hormuz adalah panggung kecil. 

Mirip panggung drama lama siapa menguasai siapa, siapa menanti siapa, dan siapa lebih sabar dalam menahan nafas kecemasan. 

Jalur sempit yang sepatutnya mengangkut begitu banyak kebutuhan dunia, berubah peran selaku penampung banyak ketidakpercayaan.

Selat yang semula menjadi checkpoint, berganti cerita menjadi titik cekik atas sebuah harapan dan rasionalitas perdamaian. 

kini potensi kesepakatan damai pun meredup. Padahal, sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengisyaratkan kesepakatan damai dapat diteken akhir pekan ini. 

Semua mulai menghitung ulang. Seberapa jauh langkah melaju sebelum segalanya ditarik kembali. Sebelum akhirnya Selat itu benar-benar terbuka. Terbuka hanya untuk ketegangan yang timbul dan tenggelam. 

Seperti narasi-narasi kuno yang ada sebelumnya, bahwa Selat Hormuz adalah simpul strategis yang sejak dahulu kala diperebutkan.

Mulai dari pedagang kuno, kekuatan kolonial hingga negara modern sekalipun.

Hingga akhirnya, narasi itu mengabari kita bahwa geografi berubah menjadi politik, dan laut akhirnya menjadi alat tawar menawar kekuasaan. Dan itu ada di Selat Hormuz


 

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved