Rabu, 6 Mei 2026

Resonansi

Surat Berakhir Perang Iran

Surat Trump berisi tentang sikap pemerintah AS yang memastikan permusuhan dengan Iran telah berakhir.

Tayang:
Editor: Fitriadi
Dok. Ade Mayasanto
Ade Mayasanto, Editor in Chief Bangka Pos/Pos Belitung. 

Ade Mayasanto, S.Pd., M.M.

Editor in Chief 
Bangka Pos/Pos Belitung

 

Jumat, 1 Mei 2026 waktu Washington DC atau Sabtu, 2 Mei 2026 kemarin, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menorehkan tulisan dalam surat terkait konflik Iran.

Surat yang ditujukan kepada Ketua DPR AS Mike Johnson dan Ketua Senat AS Chuck Grassley, berisi tentang sikap pemerintah AS yang memastikan permusuhan dengan Iran telah berakhir.

Dituliskan Trump, tidak ada lagi baku tembak antara pasukan Amerika Serikat dengan Iran sejak 7 April 2026.

“Permusuhan yang dimulai pada 28 Februari 2026 telah berakhir,” tulis Trump.

Surat itu datang dengan nada resmi. Namun, kata berakhir di sini begitu terasa ganjil. Apalagi, menjadi sebuah penutup, hal itu terlalu rapi untuk sesuatu konflik  yang sejak awal tidak pernah benar-benar terbuka.

Dalam surat resmi tersebut, pernyataan Trump bisa berfungsi sebagai administrasi.

Trump ingin memberi tahu kongres bahwa fase yang dimulai tanpa keterbukaan itu selesai. Tetapi, banyak pihak menilai berakhir seringkali dimaknai sebagai jeda. Jeda demi meredakan tekanan berbagai pihak.

Tengok saja dalam pernyataan Trump selanjutnya. Trump mengakui bahwa konflik dengan Iran mungkin sulit untuk diakhiri. Sebab, Iran masih menimbulkan ancaman signifikan bagi AS dan pasukannya. 

Bahasa politik Trump menebar sayap banyak makna. Bagaimana sesuatu yang berakhir, bila ancaman tetap hidup?

Bahasa lain lalu dimaknai bahwa Trump ingin menenangkan. Saat bersamaan, Trump menjelaskan, dan memastikan bahwa menutup tanpa harus benar-benar mengunci.

Dalam alam pikir lain, konflik Iran bakal berubah bentuk. Dari perang peluru menjadi sanksi, dari ledakan menjadi tekanan diplomatik dan dari medan perang menjadi perang ruang siber. Perang seolah tampak seperti tidak perang.

Kata akhir menjadi bukan kategori obyektif satu sisi belaka. Ia tidak bergerak di medan fakta, tetapi juga berkelindan di medan politik yang pada akhirnya mengerucut pada satu keputusan, satu deklarasi dan kadang dicampur beragam harapan.

Tengok unggahan Trump di Truth Social, dikutip dari AFP, Minggu (3/5/2026). Disebutkan, Trump justru meninjau proposal perdamaian terbaru dari Iran. Ia meragukan prospek keberhasilan rencana itu. “Saya akan segera meninjau rencana yang baru saja dikirim Iran kepada Kami, tetapi saya tidak dapat membayangkan bahwa rencana itu dapat diterima,” tulis Trump.

“Karena mereka belum membayar harga yang cukup mahal atas apa yang telah mereka lakukan terhadap umat manusia, dan dunia, selama 47 tahun terakhir,” sambung Trump.

Sebelumnya, diberitakan Kantor berita Iran, Tasnim dan Fars, Teheran telah mengajukan proposal 14 poin kepada mediator Pakistan. Rinciannya, termasuk mengakhiri konflik di semua lini dan kemudian memberlakukan kerangka kerja baru untuk Selat Hormuz. 

Konflik pada akhirnya tidak mati. Ia hanya berubah cara hadir. Hari ini  bising suara peluru. Besok bisa jadi tanpa suara. 
 
Terbaru dari sisi Iran, Perwira militer senior Iran, Mohammad Jafar Asadi menilai konflik baru hampir tidak terhindarkan. Dikutip dari Kantor Berita Fars, Asadi meragukan komitmen Amerika dalam setiap kesepakatan.

Dan sebagai penutup tulisan, damai, jeda atau sesuatu yang tidak ada apa-apa itu lambat laun semakin terang benderang. Bahwa, kita akan tahu selalu ada sesuatu atas konflik Iran, Israel dan Amerika Serikat

 

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved