Cadangan Devisa Turun, Rupiah Melemah, 'Tabungan' Negara Ikut Tergerus
Cadangan devisa Indonesia turun menjadi US$144,9 miliar pada Mei 2026 akibat intervensi rupiah dan pembayaran utang luar negeri.
Penulis: M Zulkodri CC | Editor: M Zulkodri
Ringkasan Berita:
- Cadangan devisa Indonesia terus menurun hingga US$144,9 miliar pada Mei 2026 di tengah pelemahan rupiah dan intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing.
- Meski turun, BI menegaskan posisi masih dalam kategori aman untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
BANGKAPOS.COM--Ketahanan sektor eksternal Indonesia menghadapi tekanan baru seiring terus menyusutnya cadangan devisa di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya kebutuhan stabilisasi pasar keuangan.
Bank Indonesia (BI) mencatat, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 turun menjadi US$ 144,9 miliar.
Angka tersebut menjadi level terendah sejak Juli 2024 dan mencerminkan penurunan sekitar US$ 11,6 miliar atau 7,41 persen dibandingkan posisi akhir tahun lalu.
Penurunan cadangan devisa terjadi selama lima bulan berturut-turut, di tengah meningkatnya intervensi BI di pasar valas untuk menjaga stabilitas rupiah serta pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Meski demikian, BI menegaskan bahwa posisi cadangan devisa masih berada dalam kategori aman.
“Cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, Senin (8/6/2026).
BI menjelaskan, tekanan terhadap cadangan devisa terjadi karena kombinasi beberapa faktor, termasuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan langkah intervensi di pasar valuta asing.
Kondisi ini terjadi meskipun terdapat tambahan devisa dari penerbitan global bond, penerimaan pajak, dan pendapatan jasa.
Rupiah Terkoreksi 3,08 % pada Mei
Tekanan pada cadangan devisa tidak lepas dari pelemahan rupiah yang cukup signifikan.
Sepanjang Mei 2026, rupiah terdepresiasi 3,08 % terhadap dolar Amerika Serikat (AS), dari Rp17.346 per dolar AS pada akhir April menjadi Rp17.881 per dolar AS pada akhir Mei.
Pelemahan ini mendorong Bank Indonesia melakukan intervensi lebih aktif di pasar valas untuk meredam volatilitas.
Cadangan devisa Indonesia saat ini masih setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Angka tersebut masih di atas standar kecukupan internasional yang berada di kisaran tiga bulan impor.
Namun, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa tekanan terhadap cadangan devisa berpotensi meningkat apabila pelemahan rupiah berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.
Level Psikologis Rupiah Jadi Sorotan
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai level Rp18.500 per dolar AS menjadi batas psikologis yang perlu diwaspadai pasar.
Menurutnya, jika level tersebut tercapai, kebutuhan intervensi Bank Indonesia akan meningkat dan dapat mempercepat penurunan cadangan devisa.
“Dalam kondisi tersebut, tekanan psikologis pasar bisa meningkat, kebutuhan intervensi BI bisa lebih besar, dan cadangan devisa berpotensi turun lebih cepat,” kata Josua.
Ia menambahkan, risiko pelemahan rupiah masih cukup besar dalam jangka pendek, dipengaruhi faktor global seperti ketegangan geopolitik, harga minyak yang tinggi, serta kuatnya imbal hasil aset di Amerika Serikat yang menarik arus modal keluar dari negara berkembang.
Dari sisi domestik, pasar juga mencermati defisit fiskal, kualitas belanja pemerintah, konsistensi kebijakan ekonomi, serta arus keluar modal asing dari pasar saham dan obligasi.
Josua memperkirakan rupiah pada semester II-2026 akan bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.200 per dolar AS.
Dalam skenario tersebut, cadangan devisa diperkirakan masih berada di rentang US$140 miliar hingga US$145 miliar.
Namun, jika tekanan meningkat, rupiah berpotensi melemah hingga Rp18.300–Rp18.500 per dolar AS, dengan cadangan devisa turun ke kisaran US$135 miliar hingga US$140 miliar akibat meningkatnya intervensi di pasar valas.
Optimisme Masih Ada
Di sisi lain, Ekonom Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, melihat prospek yang lebih stabil.
Ia menilai cadangan devisa masih dapat bertahan di sekitar US$143 miliar hingga akhir tahun, ditopang oleh masuknya arus modal asing dan kuatnya neraca perdagangan.
“Ini akan menahan posisi cadangan devisa, terutama dari sisi pasokan valas. Trade surplus juga kelihatannya masih akan terus terjaga,” ujar Myrdal.
Ia bahkan memperkirakan rupiah dapat ditutup di level Rp17.602 per dolar AS pada akhir 2026, meski dalam jangka pendek masih menghadapi tekanan di area psikologis Rp18.300 per dolar AS.
Menurutnya, jika level tersebut ditembus, pelemahan lanjutan menuju Rp18.500 hingga Rp18.700 per dolar AS bisa terjadi.
Stabilitas Eksternal Jadi Kunci
Di tengah dinamika tersebut, pelaku pasar menilai Bank Indonesia perlu tetap aktif menjaga stabilitas nilai tukar agar kepercayaan investor terhadap aset keuangan domestik tetap terjaga.
Pergerakan rupiah pada paruh kedua 2026 akan menjadi faktor penting yang menentukan seberapa kuat cadangan devisa Indonesia bertahan menghadapi tekanan global yang masih tinggi.(*)
Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul "Cadangan Devisa RI Terus Menyusut, Rupiah Jadi Ancaman Utama",
| Video :Rupiah Tembus Rp18 Ribu per Dolar AS, Pemerintah Sebut Fundamental Ekonomi Masih Kuat |
|
|---|
| Inilah Barang-barang Berpotensi Naik jika Rupiah Terus Melemah Kini Tembus Rp18.029 per Dollar AS |
|
|---|
| Purbaya Tanggapi Isu Mundur dari Jabatan Menteri Keuangan, Tegaskan Tetap Fokus Jalankan Tugas |
|
|---|
| Rupiah Tembus Rp 18.049 per Dolar AS, Catat Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah |
|
|---|
| Video : Rupiah Kian Tertekan Dekati Rp18.000 per Dolar AS |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ilustrasi-rupiah-dan-dollar-as.jpg)