Kamis, 18 Juni 2026

Konsumen Minta Prabowo Tahan Perbankan Naikkan Bunga KPR

Pemilik rumah khawatir cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) naik seiring kenaikan suku bunga acuan atau BRI Rate menjadi 5,50 persen.

Tayang:
Editor: Fitriadi
Dokumentasi Bangkapos.com
PERUMAHAN SUBSIDI - Foto ilustrasi perumahan subsidi di Kota Pangkalpinang. Konsumen khawatir cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) naik. ntuk itu mereka berharap Presiden Prabowo menginstruksikan bank-bank BUMN untuk tidak menaikkan suku bunga KPR. 

Ringkasan Berita:
  • Bank Indonesia (BI) menaikkan BI-Rate atau suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen pada Selasa (9/6/2026).
  • Pemilik rumah khawatir cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) naik.
  • Konsumen berharap Presiden Prabowo menginstruksikan bank-bank BUMN untuk tidak menaikkan suku bunga KPR.
 

 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Masyarakat yang tengah mencicil Kredit Pemilikan Rumah (KPR) berharap Presiden Prabowo Subianto menahan perbankan nasional tidak menaikkan suku bunga KPR menyusul kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,50 persen.

Kekhawatiran tersebut muncul di tengah meningkatnya beban hidup masyarakat setelah harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya Pertamax RON 91 mengalami kenaikan jadi Rp16.250 per liter.

Kondisi ini dikhawatirkan semakin menekan daya beli masyarakat yang saat ini juga menghadapi kenaikan berbagai kebutuhan pokok dan biaya pendidikan.

Salah satu nasabah KPR di Bank Tabungan Negara (BTN), Gito, berharap Presiden Prabowo dapat menginstruksikan bank-bank BUMN untuk tidak menaikkan suku bunga KPR.

Menurutnya, tambahan beban cicilan rumah akan semakin memberatkan kondisi keuangan keluarga.

"Saya berharap Presiden Prabowo bisa meminta bank-bank BUMN agar tidak menaikkan bunga KPR. Pertamax sudah naik, nanti kalau KPR bunganya naik, berat banget ini pengeluaran," kata Gito, Rabu (10/6/2026).

Saat ini, Gito mengaku bunga KPR yang dibayarkannya telah memasuki periode floating dengan besaran sekitar 14 persen.

Dengan tingkat bunga tersebut, dirinya khawatir kenaikan suku bunga lanjutan akan membuat cicilan bulanan semakin membengkak dan berpotensi mengganggu kemampuan bayar nasabah.

Keluhan serupa disampaikan Sulis, nasabah KPR BNI.

Ia mengatakan saat ini bunga KPR yang dikenakan kepadanya berada di level floating sebesar 13,5 persen.

Menurutnya, ruang keuangan rumah tangga semakin sempit karena kenaikan berbagai kebutuhan hidup tidak diimbangi dengan peningkatan gaji yang tinggi.

"Kalau bunga KPR naik, pengeluaran bertambah berat banget. Kenaikan gaji juga enggak imbang sama kenaikan harga barang-barang semua sekarang. Ditambah harga Pertamax juga naik tinggi," ujar Sulis.

Oleh sebab itu, Gito maupun Sulis berharap pemerintah bersama perbankan dapat mencari solusi agar kenaikan BI Rate tidak langsung diteruskan ke bunga KPR.

Potensi Kredit Macet

Chief Economist BTN Myrdal Gunarto mengatakan kenaikan suku bunga acuan akan memberikan tekanan terhadap risiko kredit macet KPR.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 00:00 WIB
Portugal
Portugal
1 - 1
DR Congo
RD Kongo
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 03:00 WIB
England
Inggris
4 - 2
Croatia
Kroasia
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ghana
Ghana
1 - 0
Panama
Panama
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 09:00 WIB
Uzbekistan
Uzbekistan
Live
Colombia
Kolombia
Grup A - Matchday 2
Kamis, 18 Juni 2026 | 23:00 WIB
Czechia
Ceko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved