Sabtu, 25 April 2026

Ramadhan 2026

Bacaan Doa Berbuka Puasa Allahumma Lakasumtu Lengkap Arab, Latin, Artinya

Bacaan Doa Berbuka Puasa Allahumma Lakasumtu Lengkap Arab, Latin, Artinya. Simak selengkapnya

Penulis: Evan Saputra CC | Editor: Evan Saputra
Bangkapos.com
Bacaan Doa Berbuka Puasa Allahumma Lakasumtu Lengkap Arab, Latin, Artinya 

BANGKAPOS.COM - Berikut bacaan niat puasa Ramadhan 1447 Hijriah dan doa berbuka puasa lengkap tulisan Arab, latin, serta artinya yang bisa diamalkan umat Muslim.

Bacaan Niat Puasa Ramadhan

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ ِللهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin 'an adaa'i fardhi syahri ramadhaana haadzihis sanati lillahi ta'ala

Artinya: "Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban di bulan Ramadan tahun ini, karena Allah Ta'ala."

Niat puasa Ramadan dapat diucapkan secara lisan atau dilafalkan dalam hati.

Niat dilakukan pada malam hari setelah salat Tarawih atau pagi hari setelah Sahur. 

Doa Berbuka Puasa 

اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

Allahumma lakasumtu wabika aamantu wa'alaa rizqika afthortu birohmatika yaa arhamar roohimiin

Artinya: "Ya Allah karena-Mu aku berpuasa, dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah dan dengan rezeki-Mu aku berbuka (puasa), dengan rahmat-Mu, Ya Allah Tuhan Maha Pengasih."

Setelah berpuasa seharian, umat Muslim dianjurkan untuk membaca doa sebelum berbuka puasa sebagai tanda syukur.

Disarankan agar doa ini dibaca setelah berbuka puasa atau setelah makan kurma dan air putih.

Namun, umat Muslim yang membaca doa ini sebelum berbuka puasa juga diperbolehkan untuk membacanya sebelum berbuka puasa

Ulasan tentang bacaan niat puasa Ramadhan dan doa berbuka puasa ini sebenarnya hanya untuk mengingatkan pembaca, yang mungkin lupa atau baru mencoba belajar puasa karena mualaf.

Pada tahun ini, pelaksanaan puasa Ramadhan 1447 Hijriah kemungkinan akan berbeda.

Organisasi Muhammadiyah sudah sejak awal menegaskan, bahwa pihaknya akan melaksanakan puasa 1 Ramadhan 1447 Hijriah pada 18 Februari 2026.

Perhitungan pelaksanaan puasa Ramadhan Muhammadiyah ini mengacu pada hisab hakiki wujudul hilal berbasis Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Hisab hakiki wujudul hilal adalah metode perhitungan astronomis akurat (hisab hakiki) yang digunakan Majelis Tarjih Muhammadiyah untuk menentukan awal bulan Hijriah berdasarkan keberadaan (wujud) hilal di atas ufuk saat matahari terbenam.

Metode ini mengacu pada gerak faktual Bulan sebagai benda langit, dengan kriteria utama: ijtima' (konjungsi Bulan-Matahari) telah terjadi sebelum matahari terbenam, matahari terbenam lebih dulu daripada Bulan, dan piringan atas Bulan sudah di atas ufuk saat itu (minimal 0,1°).

Berdasarkan perhitungan ijtimak, yakni pertemuan antara Bulan dan Matahari yang terjadi pada Selasa Kliwon, 29 Syaban 1447 H atau 17 Februari 2026, pukul 12.01 waktu UTC, belum ada satu pun wilayah di dunia yang Parameter Kalender Global (PKG) 1, yaitu tinggi Bulan minimal 5 derajat dan elongasi Bulan minimal 8 derajat.

Namun, setelah pukul 24.00 UTC dan sebelum fajar di Selandia Baru, tepatnya pada pukul 16.06 UTC, terdapat wilayah di daratan Amerika yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 2.

Wilayah tersebut berada pada 56 derajat 48 menit 49 detik Lintang Utara (LU) dan 158 derajat 51 menit 44 detik Bujur Barat (BB). Pada titik tersebut, posisi Bulan tercatat berada pada ketinggian 5 derajat 23 menit 35 detik dengan elongasi 8 derajat 0 menit 11 detik.

Dengan terpenuhinya kriteria tersebut, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H pada Rabu, 18 Februari 2026.

Penjelasan BRIN

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi bahwa 1 Ramadhan 1447 H akan jatuh berbeda.

1 Ramadhan 1447 H di wilayah Indonesia diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Dia menerangkan, pada saat Maghrib 17 Februari 2026 di wilayah Asia Tenggara posisi hilal belum memenuhi kriteria baru MABIMS, sebagaimana yang digunakan pemerintah dan untuk menentukan awal bulan hijriah.

Ketika waktu tersebut, posisi hilal belum memenuhi tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

"Fakta Astronomi pada saat maghrib 17 Februari 2026 di wilayah Asia Tenggara, posisi hilal belum memenuhi kriteria MABIMS, kriteria yang digunakan oleh pemerintah dan sebagian besar ormas Islam, yaitu kurva kuning, ini tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat geosentrik. Ini di wilayah Amerika, sehingga di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, belum memenuhi kriteria," kata Thomas, dikutip dari laman Youtube resminya.

"Sehingga, 1 Ramadhan 1447 jatuh pada tanggal 19 Februari 2026," imbuhnya.

Namun, ada pula ormas yang menggunakan kriteria Turkiye, di mana posisi Bulan di wilayah Alaska telah memenuhi kriteria dan ijtimak terjadi sebelum fajar di Selandia Baru. Ini artinya, menurut kriteria Türkiye, 1 Ramadhan 1447 jatuh pada 18 Februari 2026.

"Jadi ada potensi perbedaan awal Ramadhan, ada yang 18 Februari dan 19 Februari," ungkapnya.

Puasa Menurut NU

Nahdlatul Ulama (NU) diprediksi akan melaksanakan puasa 1 Ramadhan 1447 Hijriah pada 19 Februari 2026.

Ini mengacu pada penjelasan Guru Besar Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang Prof. H. Ahmad Izzuddin dalam lokakarya imsakiyah Nahdlatul Ulama (NU).

Ia mengatakan, ijtimak terjadi pada Selasa (17/2/2026) sekitar pukul 19.02 WIB.

Berdasarkan perhitungan hisab dan kriteria MABIMS, posisi hilal saat Matahari terbenam masih berada di bawah ufuk dan belum memenuhi kriteria imkanur rukyat. Dengan demikian, awal Ramadhan 1447 H diprediksi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Dilansir dari laman NU Online, penetapan awal Ramadhan menurut NU ditetapkan menggunakan metode rukyatul hilal. Metode tersebut sudah dipakai sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga saat ini.

Hanya saja, zaman sekarang pengamatan hilal dibantu dengan alat teropong agar lebih akurat dan maksimal.

Rukyatul hilal adalah proses mengamati hilal untuk menentukan awal bulan Qamariyah, termasuk di dalamnya penentuan awal Ramadhan. Proses rukyatul hilal ditandai dengan munculnya visibilitas bulan sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru konjungsi atau ijtimak.

Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari sehingga posisi hilal berada di ufuk barat.

(Tribunnews/bangkapos.com)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved