Selasa, 12 Mei 2026

Mutiara Ramadhan

Meraih Mukasyafah di Bulan Ramadhan

Mukasyafah dihubungkan dengan orang yang memiliki kemampuan untuk menyingkap rahasia dan misteri alam gaib.

Tayang:
Editor: Fitriadi
dok pribadi/nasaruddin umar
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar 

Oleh, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar

Jika seseorang telah berupaya sedemikian rupa mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT, terutama selama di dalam bulan suci Ramadhan, maka tidak mustahil Allah SWT akan memberinya bonus sesuai ketetapan Allah SWT.

Di antara bonus yang paling diharapkan setiap salik (pencari Tuhan) ialah mukasyafah.

Secara literal mukasyafah berarti penyingkapan, yaitu penyingkapan dan penampakan sesuatu yang abstrak dan terselubung (mahjub).

Dalam bahasa tasawuf, mukasyafah dihubungkan dengan orang yang memiliki kemampuan untuk menyingkap rahasia dan misteri alam gaib, baik alam gaib relatif maupun alam gaib mutlak.

Baca juga: Menjumpai Tuhan di Kesunyian Malam

Alam gaib tidak sama bagi setiap orang. Tipis tidaknya atau transparansi alam gaib tidak sama bagi setiap orang.

Semakin tinggi ketaatan dan keikhlasan seseorang semakin besar peluang untuk mencapai tingkat mukasyafah.

Sebaliknya semakin rendah tingkat ketaatan dan keikhlasan seseorang semakin tebal pula penutup (hijab) yang menghalang untuk mencapai mukasyafah.

Hal-hal yang bisa menghijab seseseorang untuk mencapai mukasyafah ialah dosa dan maksiyat.  

Sungguhpun orang tidak berdosa dan bermaksiyat dan telah melakukan ibadah dan berbagai ketaatan individu dan sosial tetap tidak ada jaminan dapat mencapai mukasyafah.

Pencapaian mukasyafah sangat ditentukan oleh keridhaan Allah SWT.

Orang yang mencapai mukasyafah memiliki banyak keutamaan.

Selain mampu memahami sejumlah rahasia Allah SWT, juga biasanya diberi kemampuan untuk melakukan sesuatu yang “luar biasa” (khariq li al-‘adah) yang tidak bisa dilakukan orang-orang biasa.

Perbuatan “luar biasa” itu biasa disebut dengan karamah.

Para wali yang rata-rata sudah mencapai tingkat mukasyafah bisa melakukan sesuatu yang bersifat ajaib atas izin kekasihnya, yaitu Allah SWT. Namun perlu dibedakan antara karamah, mu’jizah, dan sikhr.

Karamah adalah perbuatan luar biasa diberikan Tuhan kepada para wali atau hamba tertentu yang dipilih-Nya.

Mu’jizah adalah perbuatan luar biasa khusus diberikan kepada para nabi dan rasul.

Sedangkan sikhr adalah perbuatan luar biasa diberikan kepada manusia biasa yang telah mempelajari ilmunya.

Sikhr biasanya tidak mensyaratkan adanya mukasyafah, sedangkan mu’jizah dan karamah mengharuskan adanya mukasyafah.

Para wali tujuannya bukan untuk mendapatkan perbuatan luar biasa. Bahkan mereka mengelak untuk memanfaatkan keluarbiasaan itu. Mereka khawatir jangan sampai karamah itu menjadi hijab baru baginya.

Kita perlu dekat dengan orang yang mencapai mukasyafah karena mereka kekasih Tuhan.

Jika dihubungkan dengan filsafat, maka di situ kita akan mengenal adanya asumsi manusia sebagai homo sapiens atau al-hayawan al-nathiq (spesies yang berfikir) ternyata asumsi ini dianggap keliru.

Visi baru para ilmuan menemukan bukti porsi intelektualitas manusia hanya merupakan bagian terkecil dari totalitas kecerdasan manusia.

Kalangan ilmuan menemukan tiga bentuk kecerdasan dalam diri manusia, yaitu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ).

IQ adalah kecerdasan yang diperoleh melalui kreativitas akal yang berpusat di otak.

Sedangkan EQ adalah kecerdasan yang diperoleh melalui kreativitas emosional yang berpusat di dalam jiwa.

Sementara itu, SQ adalah kecerdasan yang diperoleh melalui kreativitas rohani yang mengambil lokus di sekitar wilayah roh.

Ketiga aktivitas kreatif di atas mengingatkan kita kepada tiga konsep struktur kepribadian Sigmund Freud (1856-1939), yaitu id, ego, dan superego.

Id adalah pembawaan sifat-sifat fisik-biologis seseorang sejak lahir. Id ini menjadi inspirator kedua struktur berikutnya.

Ego bekerja dalam lingkup rasional dan berupaya menjinakkan keinginan agresif dari Id.

Ego berusaha mengatur hubungan antara keinginan subjektif individual dan tuntutan objektif realitas sosial.

Ego membantu seseorang keluar dari berbagai problem subyektif individual dan memelihara agar bertahan hidup (survival) dalam dunia realitas.

Superego berfungsi sebagai aspek moral dalam kepribadian, berupaya mewujudkan kesempurnaan hidup, lebih dari sekadar mencari kesenangan dan kepuasan.

Superego juga selalu mengingatkan dan mengontrol ego untuk senantiasa menjalankan fungsi kontrolnya. 

Semoga kita berhasil meraihnya sebelum ajal menjemput kita.

Tags
Ramadhan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved