Mutiara Ramadhan
Tuhan Maha Tahu Apa yang Kita Doakan Bermanfaat atau Tidak
Boleh jadi penolakan doa berarti penerimaan diri kita kepada-Nya. Artinya Tuhan Maha Tahu apa yang didoakan itu bermanfaat atau tidak bagi kita.
Oleh, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar
Jarak antara Tuhan dan hamba-Nya di bulan Ramadhan lebih dekat, sehingga tidak heran jika doa di bulan Ramadhan lebih maqbul daripada di luarnya.
Doa merupakan puncak ibadah, seperti dikatakan Nabi dalam hadisnya: "Al-Du’a’ mukhul ‘ibadah (Doa adalah jantung ibadah)."
Harapan kita kepada doa, selain untuk memperoleh harapan dari Allah SWT, juga sekaligus sebagai ibadah.
Doa adalah bukti dan sekaligus pernyataan kelemahan diri kita kepada-Nya.
Baca juga: Meraih Mukasyafah di Bulan Ramadhan
Orang yang malas berdoa menunjukkan keangkuhannya sebagai hamba, seolah-olah ia tidak membutuhkan bantuan Tuhan.
Orang yang arif selalu berdoa, meskipun tujuan utamanya bukan apa yang didoakan tetapi sebagai wujud ketergantungan dirinya kepada Tuhannya.
Seorang arif berdoa lebih banyak menyatakan munajat ketimbang permohonannya.
Munajat ialah pernyataan kelemahan diri di hadapan Tuhan Maha Agung dan Maha Sempurna.
Ia selalu merasa malu berdoa untuk hal-hal yang bersifat kebutuhan biologis.
Ia juga selalu khawatir jangan sampai doanya didikte oleh hawa nafsu.
Unsur terpenting di dalam doanya ialah permohonan agar Tuhan mau menerima kehadiran dirinya dan mau “merangkul” dirinya.
Itulah sebabnya, panjang doa para arifin sesungguhnya bukan doa tetapi munajat, yaitu pengagungan Tuhan dan "penghinaan" dirinya sebagai hamba.
Ia sangat berhati-hati jika doanya makbul, karena boleh jadi sebuah doa diterima tetapi berarti penolakan dirinya terhadap-Nya.
Sebaliknya ia lega jika doanya ditolak karena boleh jadi penolakan doa berarti penerimaan dirinya kepada Tuhannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20241021-Profil-Nasaruddin-Umar-Tokoh-NU-Berpendidikan-5-Kampus-Luar-Negeri-Kini-Menteri-Agama.jpg)