Kamis, 7 Mei 2026

Ramadhan 2026

Ramadhan Berdampak

Ranah spiritualitas ilahiyah dan basyariah seharusnya istiqomah dan kontinuitas pada hari-hari pasca Ramadhan sampai ketemu Ramadhan berikutnya.

Tayang:
Editor: Fitriadi
Dokumentasi Zayadi Hamzah
Prof Dr Zayadi, Guru Besar IAIN Syaikh Abdurrahman Sidik Bangka Belitung. 

Penulis: Prof Dr Zayadi

Guru Besar Sosiologi Agama pada fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN Syaikh Abdurrahman 
Sidik Bangka Belitung, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Provinsi Bangka Belitung, dan Ketua Dewan Pembina Pesantren Al- Islam Kemuja Mendo Barat Bangka.

Ramadhan tinggal beberapa hari lagi akan meninggalkan kita semua. Begitu banyak pesan religius melalui tausiyah telah dihibahkan secara gratis oleh Allah dan Rasulullah kepada kita dengan janji-janjiNya melalui keistimewaan bulan Ramadhan

Sejauh mana tausiyah Ramadhan itu berdampak positif membentuk kepribadian kita baik secara vertikal dalam ruang privat maupun salam membangun kepedulian sosial dan rasa empati antar sesama di ruang publik. 

Kedua ranah spiritualitas ilahiyah dan basyariah (rasa kemanusiaan) itu seharusnya istiqomah dan kontinuitas pada hari-hari pasca Ramadhan sampai ketemu Ramadhan mendatang. 

Bagaimana puasa sesuai tuntunan Allah dan Rasul imaanan wahtisaaban dan implikasinya terhadap kepribadian dan hubungan sosial kita.

Mari bersama kita simak narasinya sambil menikmati ngabuburit menjelang berbuka sembari menunggu THR yang akan cair.

Setiap tindakan atau perbuatan memilik konsekuensi nilai secara positif maupun negatif.

Sekecil apa dan sebesar apa, tindakan itu akan berujung pada sebuah nilai atau hasil yang secara normatif berupa baik dan buruk dalam persepsi sosial orang, untung dan rugi secara ekonomi dan berpahala atau berdosa (halal haram) dalam perspektif agama. 

Hasil proses akhir dari tindakan inilah oleh sebagian orang dibahasakan dengan dampak. 

Terkadang orang berfikir, untuk mencapai perubahan yang besar, kita harus melakukan tindakan yang besar. 

Apakah setiap tindakan yang besar akan selalu menghasilkan nilai yang besar atau sebaliknya.

Sebuah tindakan kecil menghasil nilai yang kecil. Pasti tidak selalu, yang perlu kita pikirkan dan kita lakukan adalah bagaimana sebuah tindakan kecil akan memberikan dampak yang besar (compound effect). 

Dalam teori ekonomi bagaimana modal yang kecil dapat memberi keuntungan yang besar. 

Perkara yang sama terjadi pada konteks spritualitas ibadah dalam Islam, khusus terhadap ibadah puasa Ramadhan.

Setiap ibadah memiliki konsekuensi nilai secara privat maupun sosial yaitu berdampak pada pahala dan dosa. 

Ada ibadah yang kecil tetapi memiliki nilai pahala yang besar compound effect di sisi Tuhan. 

Narasi tentang ini banyak ditemukan dalam berbagai hadits nabi. 

Secara ujroh pahala misalnya bersodaqoh mushaf al-Qur'an kepada santri tahfidz penghafal al-Qur'an dengan nilai 30 ribu rupiah seharga mashaf akan mendapat pahala yang besar selama santri membacanya dengan dampak pahala secara kuantifikasi hitungan hurup yang dibaca. Tindakan ibadah yang kecil memiliki dampak pahala yang besar. 

Bagaimana dengan pahala puasa Ramadhan

Puasa itu adalah ibadah eksklusif. Sabda Nabi: "Puasa itu untuk ku dan aku sendiri yang akan membalasnya." (HR Bukhari 1904)

Allah sendiri yang bertanggung dengan reward orang yang berpuasa di bulan Ramadhan. Pahalanya dirahasiakan tidak seperti ibadah yang lain. Begitulah keistimewaan puasa

Sesuatu yang istimewa pasti original harganya mahal. Berapa pahalanya tidak dikabarkan Allah. 

Rosulullah mengabarkan dalam haditsnya yang artinya: "Siapa saja yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan semata mengharap pahala (ridho)Nya diampuni dosanya yang telah lalu". 

Hadits ini menjadi garansi adanya dampak puasa apabila dilakukan dengan keimanan dan wahtisaaban akan diampuni dosa kita yang telah lalu. 

Nikmat terbesar bagi kita adalah terampuni dosa-dosa. Sementara Allah SWT menjamin orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan akan menduduki derajat takwa (muttaqien).

FirmanNya: "Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kamu berpuasa sebagaimana telah diwajib atas orang-orang sebelum kamu supaya kamu menjadi orang yang takwa".

Pesannya, siapapun yang berpuasa pada bulan Ramadhan, dia akan mencapai derajat takwa, sebuah derajat paling mulia di sisiNya. 

Pada hadits yang lain Nabi pernah bersabda: "Puasa itu adalah perisai atau benteng bagi orang muslim" (HR Bukhari dan Muslim).

Secara insplisit, hadits ini memberi pesan bahwa puasa berfungsi sebagai pelindung bagi seorang muslim. 

Di dunia terlindungkan dari perbuatan keji dan maksiat serta godaan hawa nafsu yang cenderung kepada kejahatan. Sedangkan di akhirat dia terlindung dari siksaan api neraka.

Pertanyaannya, seperti apa puasa yang dijanjikan pengampunan dosa dan menjadi perisai serta mencapai derajat takwa?

Dalam kaitan ini Nabi memberikan indikasi dalam haditsnya tentang puasa yang sia-sia tidak memiliki dampak pahala maupun terampuni dosa, sehingga jauh dari takwa.

Sabdanya: "Tidak sedikit orang yang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga".

Hadits ini menjadi simbol bahwa puasa tidak berdampak baik secara individual maupun sosial. 

Karena Ramadhan memang bukan sekadar bulan tahan lapar sambil menunggu tibanya azan maghrib seperti menunggu rencana kenaikan gaji yang katanya sedang dibahas.

Puasa sebatas menahan lapar dan dahaga secara biologis, tetapi tidak mempuasakan pancaindera secara batiniah semisal masih berkata bohong, membicarakan kejelekan orang lain, tidak bisa menahan amarah serta tidak menjaga pandangan dan pendengaran dari yang haram. 

Puasa sejenis ini terlepas dari tuntutan syariat, tetapi tidak mendapat pahala dari puasanya.

Puasa yang seharusnya berada dalam ruang privat atau kontemplasi batiniah berubah menjadi tameng religius menjadi konsumsi gunjingan di ruang publik. 

Ada pula orang yang berpuasa dan mengisi Ramadhan dengan beragam ibadah, tetapi belum mampu membawanya mendekat kepada hakikat dirinya. 

Karena inti dari puasa itu pengendalian diri yang mendidik batiniah kita dari hati yang keras menjadi lembut, dari mata yang tertutup terhadap kebaikan, dari egois menjadi peduli antar sesama. 

Bagaimana puasa dapat memelihara dan mendidik batin kita menjadi pribadi religius dalam mencapai derajat takwa. 

Ketika kita sampai pada dataran ini, ibadah puasa kita memiliki dampak secara individual dan sosial yang sering dinarasikan dengan dimensi ilahiah dan dimensi sosial. 

Dampak puasa pada dimensi ilahiah bermuara pada niat. Karena puasa adalah ibadah hati sebelum 
menjadi ibadah biologis secara fisik.

Puasa dimulai dari sesuatu yang tidak terlihat tetapi menentukan keabsahan puasa kita. Itulah yang disebut dengan niat.

Dalam setiap ibadah, niat menempati posisi strategis yang menentukan sah atau tidaknya ibadah secara syariat, tidak terkecuali puasa.

Dalam Islam, niat menempati posisi sentral dalam beribadah.

Hadits Nabi yang kita dengar ت بالنيا اعمال انما . Para ulama bahkan menyebutnya sebagai kaidah besar dalam seluruh amal ibadah.

Secara fenomena ditemukan beragam niat ketika orang melakukan puasa. Ada orang berpuasa karena diet ingin langsing, sementara yang lain karena ingin sehat. Sedang yang lain karena tidak enak dengan mertua dan beragam jenis niat lainnya.

Niat berpuasa secara spritualitas semata-semata ibadah ikhlas mengharap ridho Allah, tidak ada variabel lain yang ikut serta. Karena dibalik ritual puasa yang eksklusif tersimpan dimensi spiritual yang dalam.

Sebagai ilustrasi, banyak orang berpuasa secara biologis sama-sama menahan lapar dan dahaga dengan cara yang sama, tetapi memiliki nilai spiritual yang berbeda karena berbeda niat. 

Puasa yang dilakukan karena Allah (imanan wahtisaban) akan bernilai ibadah. Sebaliknya nilai puasa bukan karena Allah, semisal malu dengan tetangga, ingin terlihat alim atau karena malu pada anak, dia akan mendapatkan apa yang diniatkan. 

Ketika demikian dapat berpotensi merusak pahala puasanya dan kehilangan nilai atau makna spritualnya. 
Karena ibadah puasa bersifat personal penuh dengan kerahasiaan menuntut kejujuran hati.

Karena dibalik eksklusivitas puasa, terdapat satu dimensi hakiki yang oleh para sufi disebut dengan dimensi kesunyian spiritual. Dimensi ini merupakan ruang rahasia yang transendental antara seorang hamba dan Tuhannya. 

Dalam puasa kita berdialog dengan diri sendiri, kendatipun kita selalu berbicara kepada banyak orang, tetapi apa yang tersembunyi dalam benak kita hanya ada kita dan Tuhan.

Puasa mengajarkan kita untuk selalu berbicara kepada diri sendiri (muhasabah diri). Puasa bukan hanya tentang menahan sesuatu secara biologis tetapi tentang menemukan sesuatu. 

Puasa bukan hanya tentang menolak keinginan tetapi menemukan makna keinginan yang lebih mendalam. Puasa membimbing kita untuk mendapatkan keinginan dengan dengan aturan syariat sekaligus mengajari kita menyelami makna kenapa syariat puasa itu begitu istimewa di hadapan tuhan. 

Dengan menyelami makna dalam syariat dapat membangun kesadaran religiusitas untuk selalu berserah diri KepadaNya.

Untuk membangkitkan spiritualitas ilahiah puasa kita, yang ada hanya pengabdian kepadaNya. 

Firman Allah yang sering kita dengar: "Tidak aku jadikan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu".

Dalam konteks ibadah puasa, apa yang ada pada diri kita berupa panca indra harus dihadapkan kepadaNya dengan dipuasakan. 

Bila semua yang ada pada diri kita berpuasa secara fungsional, maka kita akan menemukan kualitas puasa yang seutuhnya semata karena Allah, dengan melibatkan anggota tubuh untuk berpuasa. 

Secara fitrah, harta yang kita miliki merupakan titipan Allah yang difungsikan untuk kemaslahatan sesama manusia. 

Puasa mengajarkan kita dengan pesan solidaritas dan empati antar sesama.

Bila pesan ini tidak terakomodasi dalam diri kita, maka kita telah kehilangan sebagian dari rasa kemanusiaan kita. Karena puasa merupakan ibadah yang sarat dengan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. 

Melalui puasa, umat Islam dididik untuk menumbuhkan rasa empati, serta meningkatkan kepedulian soaial terhadap sesama. 

Puasa menyingkirkan potensi egois yang melekat pada diri kita yang fungsional menutup kejernihan jiwa kita. 

Ketika lapar kita rasakan kepedulian terhadap rang lain. Ketika kenyang kita merasa tidak butuh orang dan kita merasa kuat. 

Maka berpuasa secara biologis akan membawa kita kepada puasa psikologis (rohani) untuk mencapai derajat takwa sebagai tujuan akhir dari puasa.

Puasa yang benar tidak hanya menghasilkan kesalehan individu, tetapi juga melahirkan kesalehan sosial yang tercermin dalam sikap peduli, berbagi, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. 

Kesalehan individu ditandai sejauhmana ketaatan kepada Allah (hablum minallah) terjaga dengan baik terwujud dalam bentuk prilaku hablum minnas pasca Ramadhan

Orang berpuasa dengan imanan wahtisaban akan selalu istiqomah dalam menjalankan ibadah, sebagaimana ia peroleh pada bulan Ramadhan sebagai bulan upgrade keimanan. 

Sebentar lagi Ramadhan akan meninggalkan kita, apakah kita mampu mempertahan kontinuitas dan kualitas ibadah kita sebagai diajarkan Ramadhan kepada kita dalam menapaki kehidupan religius 11 bulan pasca Ramadhan

Konsistensi dan kontinuitas ibadah menjadi indikator utama untuk menunjuk tentang puasa kita berdampak.

Semoga Ramadhan 1447 H membawa kelahiran baru secara spiritual menuju kehidupan sosial yang islami. 

Sembari berdoa agar dipertemukan Allah pada Ramadhan berikutnya. Wallahu a'lam bissowab.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved