Kamis, 23 April 2026

Video

Video : Bisnis Sapi di Bangka Belitung, Modal Rp30 Miliar, Margin Tipis dan Risiko Tinggi

Perputaran bisnis sapi di Bangka Belitung mencapai Rp30 miliar dengan ribuan ekor ternak dari Lampung dan Bali. Meski omzet besar Keuntungan tipis

Penulis: M Zulkodri CC | Editor: M Zulkodri

Ringkasan Berita:
  • Tingginya konsumsi daging di Bangka Belitung mendorong perputaran modal hingga Rp30 miliar.
  • Di balik angka fantastis itu, distributor dan pedagang menghadapi risiko perjalanan, sistem pembayaran ketat, serta margin keuntungan yang kecil.

BANGKAPOS.COM--Di balik tingginya konsumsi daging sapi di Provinsi Bangka Belitung, tersimpan perputaran uang bernilai puluhan miliar rupiah dengan risiko yang tidak kecil.

Bisnis ini bukan hanya soal jual beli ternak, tetapi juga tentang arus kas cepat, disiplin pembayaran, dan margin keuntungan yang relatif tipis.

Owner CV Selamat Jaya, Rangga Aji Sahputra, mengungkapkan total modal yang saat ini berputar dalam usahanya mencapai sekitar Rp30 miliar.

Nilai tersebut mencakup 1.300 ekor sapi yang tersebar di sejumlah kandang di Bangka, serta 500 ekor lainnya yang masih dalam tahap penggemukan di Lampung.

Dengan harga sapi hidup sekitar Rp60 ribu per kilogram dan bobot rata-rata 500 hingga 550 kilogram, satu ekor sapi bisa bernilai lebih dari Rp30 juta.

Ratusan sapi tersebut ditempatkan di beberapa lokasi seperti Ampui, Panggal Balam, Ketapang, dan Air Mangkok.

Di kandang Ampui, Pangkal Balam, sekitar 160 ekor disiapkan untuk kebutuhan potong harian maupun kurban.

Untuk kurban, tersedia sapi lokal jenis Limousin, Bali, dan Madura. Sementara kebutuhan daging harian didominasi sapi impor Brahman Cross atau BX asal Australia yang memiliki persentase daging lebih tinggi.

Proses distribusi dimulai dari Lampung. Sapi impor didatangkan menggunakan kapal khusus ternak, lalu digemukkan selama dua hingga tiga bulan di feedlot sebelum dikirim ke Bangka menggunakan truk.

Satu truk mampu mengangkut hingga 16 ekor sapi dengan waktu tempuh sekitar satu hari satu malam.

Namun perjalanan panjang ini menyimpan risiko. Kelelahan dalam perjalanan bisa menyebabkan sapi stres bahkan mati.

Jika satu ekor mati, kerugian bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Tak hanya risiko di lapangan, skema pembayaran juga menuntut kedisiplinan tinggi.

Pembayaran ke perusahaan feedlot dilakukan rutin setiap pekan, bahkan dua hingga tiga kali dalam seminggu.

Perputaran uang harus cepat. Jika pembayaran terlambat, pengiriman berikutnya bisa terhambat.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved