Rabu, 15 April 2026

Mutiara Ramadan: Manusia dan Tumbuh-tumbuhan

DALAM jasad wadag kita, tumbuh daya hidup yang mirip sekali dengan tumbuh-tumbuhan atau sebut saja jiwa nabati.

Misalnya, mereka yang ditakdirkan terlahir dengan warna kulit hitam lalu mendambakan berubah menjadi berkulit putih. Mereka yang terlahir rendah lalu ingin sekali menjadi jangkung.Yang memiliki takdir rambut keriting menginginkan lurus.

Sampai tahap tertentu bisa saja kita mengubah potensi dan cetak biru yang sudah melekat pada jiwa nabati, tetapi tidak akan permanen. Pada eksistensi jiwa nabati, kehidupan manusia sudah meriah.

Berbagai ragam bentuk dan kegiatan pesta dengan agenda pokok makan dan minum mudah dijumpai di mana-mana. Sekian banyak mal dan ratusan restoran berdiri di berbagai kota.Apa yang ditawarkan? Tak lain memenuhi tuntutan jiwa nabati.

Bagi anak kecil dan remaja, pemenuhan ini sangat vital. Namun bagi orang yang telah berumur, jika tidak terkontrol, makan dan minum justru akan menjadi sumber penyakit.Pada umumnya orang sakit karena tidak mampu mengontrol kegiatan dan nafsu jiwa nabatinya.

Penyakit kolesterol dan jantung yang paling banyak menjadi pemicu kematian orang kaya disebabkan aktivitas jiwa nabati yang tidak terkontrol. Oleh karena itu agama mengajarkan agar apa yang kita makan dan minum selalu berpegang pada prinsip halalan- thoyyiban.

Halal artinya bukan hasil korupsi atau curian, sedangkan thoyyiban artinya makanan dan minuman itu mesti baik dan sehat menurut pertimbangan medis.

Sungguh indah jika kita selalu menjaga dua kualitas ini sehingga jiwa nabati tumbuh sehat untuk menyangga dan mendukung eksistensi jiwa lainnya,yaitu hewani, insani,dan malakuti yang akan kita bahas belakangan.

Ketika usia semakin lanjut, persis tumbuh-tumbuhan di kebun, rambut --ibarat daun-- kian putih dan mudah rontok. Batang dan dahannya tidak lagi segar dan tidak bisa tumbuh lebih tinggi lagi.

Di saat itu, ke mana perginya ketampanan dan kecantikan yang selalu segar dan dibanggakan ketika remaja? Lalu, apa yang mestinya menjadi kebanggaan sebagai kekayaan dan identitas diri yang paling berharga? (*)

Sumber: bangkapos
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Cerpen: Aaah !

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved