Kamis, 9 April 2026

Penjual Siomay Keliling Nyentrik Ini Ternyata Mantan Miliarder, Begini Kisahnya

Sriyono, nama pria tersebut, merupakan seorang penjual siomay keliling yang sangat nyentrik. Ia berjualan keliling dengan atribut dan pakaian

Net
Penjual siomay keliling nyentrik 

BANGKAPOS.COM  - Kisah tentang penjual siomay nyentrik ini sebenarnya merupakan kisah lama, tapi ceritanya selalu bisa jadi inspirasi untuk kita.

Sriyono, nama pria tersebut, merupakan seorang penjual siomay keliling yang sangat nyentrik.
Ia berjualan keliling dengan atribut dan pakaian serba pink sehingga menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.

Tak heran, jika banyak orang yang mengenalinya,tapi ternyata ia tak hanya terkenal di kalangan konsumennya saja.
Bahkan mesin pencari Google menyebut 83.500 hasil yang merujuk pada usaha siomay yang dijalankan Sriyono sambil berkeliling di atas sepeda pink.

Ternyata Sriyono punya kisah menarik yang sangat inspiratif.
Siapa sangka jika penjual siomay keliling tersebut merupakan mantan orang kaya yang punya kekayaan hingga miliaran rupiah. Lalu mengapa ia justru berakhir dengan menjadi tukang siomay keliling?

Berikut kisahnya :
Kisah sukses Sriyono dimulai pada tahun 1969.
Pada tahun itu, pria kelahiran Klaten, 21 Juli 1954 tersebut memutuskan untuk merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai sales mobil.

Ketika itu, tiba-tiba saja dia sangat gemar pada siomay dan memutuskan untuk belajar cara membuat makanan itu.
Dia lantas berguru pada seorang keturunan Tiongkok asal Pulau Bangka, dialah orang yang mengajari Sriyono cara membuat siomay.

Guru tersebut menjanjikan resep rahasia membuat sioamay yang lezat dengan syarat Sriyono mau bekerja selama setahun tanpa digaji.

Beberapa tahun kemudian, sang guru meninggal dan mewariskan usaha Siomay kepada Sriyono.
Pada 1980-an, Sriyono memberanikan diri memulai usaha siomay keliling di Jakarta dengan modal patungan dengan beberapa teman.

Berbagai cara ditempuh untuk membesarkan usaha tersebut. Mulai membikin armada siomay sepeda keliling sampai mendirikan warung-warung kecil.

Puncak sukses diraih pada 1996 ketika dirinya berhasil membuat outlet di salah satu mal elite di ibu kota, yakni Plaza Senayan. Usahanya terus berkembang hingga ia pun berhasil membuka beberapa outlet cabang.
Pendapatan bisnisnya ketika itu mencapai Rp 2 miliar per tahun, dia menikmati sukses berjualan siomay dengan berstatus bujangan.

Bahkan bisnis Sriyono sama sekali tak tergoyahkan ketika krisis moneter melanda Indonesia pada 1998.
Dia justru masih bisa mendirikan outlet di beberapa tempat lain.

April 1999, Sriyono memutuskan untuk mengakhiri masa lajang dan menikahi putri seorang polisi.
Namun pernikahan tersebut justru menjadi bom waktu untuk Sriyono.

Kehidupan rumah tangganya ternyata tak bisa sesukses bisnisnya. Pertengkaran demi pertengkaran pun terus muncul sehingga konsentrasi Sriyono pada bisnisnya mulai berkurang.

Persoalan rumah tangga yang tak kunjung selesai pelan-pelan membuat manajemen bisnisnya bangkrut.
Akhirnya, Sriyono terpaksa menjual hak paten Siomay Senayan dan usahanya pun gulung tikar.
Awal 2004, setelah 4 tahun 7 bulan berumah tangga dan dikarunia dua anak, sang istri menggugat cerai Sriyono.
Setelah perceraian, sang istri kemudian mengasingkan diri dan membawa serta dua anak Sriyono.

Sumber: Tribun Solo
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved